Category archive: Fiction

16935896725_e145ba09ef_o

Rabu Abu Bintang Biru

Dan pagi ini saya tidak mendapatkan binar di matanya. Bahkan untuk membuka kelopaknya saja tampak dilakukannya dengan berat. Hanya kantung mata sisa kelelahan menari semalam. Iya seperti biasa akhir pekan adalah jadwalnya menghibur beberapa pengunjung di tempatnya biasa bekerja. Akhir pekan, tips yang lebih besar. Saya dapatkan beberapa ruas tulang punggungnya kian menonjol diantara daging dan kulit liatnya, ototnya yang biasa ia latih mengikis lelah dan kantuk.

Continue reading

Biru, Namaku Biru

Kata ibuku namaku Biru karena biru adalah warna kesukaan ayahku dan biru jugalah warna yang ditemukan ibuku pada ayahku. Bagi ibu, biru itu seperti langit, seperti semesta yang tertangkap oleh bumi. Birunya ibu adalah samudra yang dalam, yang selalu membuat ibu bergetar ketika menatapnya karena Ibu tau bahwa setiap saat ibu bisa saja terhisap kedalamnnya.

Continue reading

16720013707_b25f842d2b_o

Tabula Rasa

Tabula rasa is the epistemological theory that individuals are born without built-in mental content and that their knowledge comes from experience and perception. Perkenalkan, nama saya Tabula Rasa. Saya adalah sebuah dunia di dalam isi kepala manusia. Karena kadang kita perlu menswitch saklar-saklar dalam diri kita yang lelah, dan mengumpulkan serpihan energi menjadi sumber energi baru dan inilah kisah saya.

Continue reading

Kembara Kelana

Mimpi Awan

Di pengunjung Desember, ijinkan aku bercerita tentang mimpi…
Suatu ketika sang bulan bertanya pada awan-awan gelap yang melintas dihadapannya. Wahai awan tahukah kau tentang mimpi? Si awan dengan malas menjawab “Mimpi itu milik anak-anak yang berbaring diatas rerumputan sambil membayangkan dirinya berada diatas kuda berjubah perang sambil membawa pedang dan perisai dari besi”. Dan awanpun berlalu.

Continue reading

Sangaji Saka

I Just Want to Make Love to You

Raga cinta bau buku-buku tua. Lembab menjamur bercampur debu kecoklat-coklatan. Hampir setiap hari Raga menghabiskan waktunya di situ, sebuah perpustakaan kecil di sudut kota Bandung. Ruang berukuran 6×4 bertumpuk buku-buku dari segala usia dengan berbagi warna. Di keranjang bawah nya ada buku cerita Asterix, Tintin dan beberapa komik Jepang berserakan. Tumben sepi, hanya suara alunan intro musik Blues kental dengan beat trombone memenuhi seantero ruangan. Raga mengenali teriakan berat berkarakter soul tahun 50an milik penyanyi perempuan itu.
I….
Just…
Want….
to Make….
Love to You….
Etta James dengan I Just Want to Make Love to You. Siang ini Raga mendengarnya sebagai sebuah teriakan feminisme dalam tubuh perempuan yang merasa berkuasa atas dirinya sendiri. Wujud erangan kebebasan yang haus akan sebuah persetubuhan. Lagipula, pada masa itu nyaris semua perempuan menjadi feminis. Beberapa diantara pemikiran mereka berpendapat bahwa perempuan berhak memutuskan apa yang terjadi pada tubuh mereka, mereka memiliki anak atau tidak tergantung pada diri mereka semata. Lelaki tak lain hanyalah kebutuhan biologis, dan lelaki hanya alat pemuas nafsu perempuan.
Yah memang kemampuan perempuan untuk menghasilkan kehidupan dapat memberikan kita semacam perasaan berkuasa. Kematian, kegelapan, dan kesulitan pun lenyap, kita akan menghadirkan bagian lain dari diri kita di dunia, dan keajaiban ini melenyapkan segala sesuatu yang lain.
I….
Just…
Want….
to Make….
Love to You….
Hah, ada yang aneh. Kali ini bukan suara itu datang bukan milik Etta James. Tapi suara lelaki yang berteriak ngga karuan dari balik meja administrasi, dimana mereka biasa mendata buku yang dipinjam. Raga langsung menutup buku Second Sex milik Simone de Beuvoir yang sedari tadi dia baca. Dimasukkannya dengan cepat ke celah kosong diantara rak berlabel Vagina Monologue. Sang pemilik suara sumbang muncul dari kolong meja bersama dua tumpuk buku yang ia pindahkan dari bawah. Laki-laki berkacamata, dengan rambut ikal setengah panjang menutupi dahinya.
Mengenali sang pemilik wajah Raga pun berteriak. “Sakaaa!!! Elo gangguin waktu meditasi gw dahh!!!”, teriak Raga ke arah laki-laki itu. Si pemilik suarapun akhirnya memutuskan bersiul-siul mengikuti irama lagu. “Ga udah makan belum? Temenin gw makan yuk, si Bibi bikin sayur sop tuh” Raga melalui lelaki itu tanpa berkata-kata menuju pintu dibelakang meja administrasi, pergi meninggalkan si lelaki yang mencuri pandangan pada langkah Raga.

 

Cireng Kita

“Eh Ka, denger ye! Emang lo kira dunia selebar kolor lo apa?? Lo kira Gading bakalan mau balik ama elo karena elo dah mergokin dia selingkuh sama Joni dan dia nangis-nangis minta maaf sama elo karena ketauan??”
“Hellow?!? bull shit deh itu semua. Nih taruhan sama gw, dia bakalan minta putus sama elo dan jalan sama si Joni.” Saka melipat wajahnya diatas meja kantin, mengatuk-ngatukan dahi berkerutnya pelan. Berhenti sesaat lalu lanjut mengatuk-ngatuk lagi, diam.

“Masak sih Ga, dia setega itu? Gw kira hubungan gw dah bae-bae aja.”
Raga meletakan kepalanya diatas meja berhadapan dengan Saka, mencari-cari matanya, berharap mendapatkan bola mata besar teduh yang selalu bisa menenangkan setiap orang yang menatapnya.

“Ka dengerin gw deh, kalo elo berfikir selama ini hubungan elo bae-bae aja. Itu berarti elo sedang menggali liang kubur lo sendiri. Hubungan sehat itu ngga lepas dari masalah dan penyelesaian. Lah elo ama Gading dah kaya kebo dicocok idung.”

Melengos kacau ngga tega Raga bangkit dari tempat duduknya beranjak dua langkah kebelakang mencomot cireng hangat yang baru saja diangkat Mang Oding dari wajan penuh minyak jelantahnya. Sial, masih panas! Maki Raga dalam hati. Ia tarik kertas robekan majalah sebagai tadah, Mang Oding senyum-seyum melihat Raga kelojotan.

“Nih cireng panas!”

Raga menyodorkan kantong kertas berisi dua buah cireng basah berminyak di samping wajah Saka. Dalam reaksi sepersekian detik Saka memasukan gigitan pertama cireng panas mengembang alot ke dalam mulutnya disusul satu buah cengek hijau muda utuh. Raga pun menganga layaknya anak SD melihat atraksi debus untuk pertama kali. Saka memang penggemar cireng sejati, tapi cengek? Jangankan cengek, saos tomat ABC susah cukup membuatnya mampir ke Eureka numpang boker berkali-kali. Ditambah kali ini Saka tampak maju tak gentar merasakan panasnya cireng yang mengepul disetiap gigitannya.

“Gaaa!! Ambilin gw combro dong! Gw laper nih!”

Sambil mengunyah dengan mulut penuh Saka menyuruh Raga kembali ke Mang Oding. Raga pun berdiri beranjak mengambil dua buah combro dari keranjang gorengan Mang Oding, kali Raga memastikan diri untuk mengambil combro yang sudah tidak panas. Hanya untuk memastikan Saka tidak terus melukai bibir dan lidahnya. Sudah cukup hatinya saja yang terluka.

 

Sayur Aroma Raga Basi

“Ga.. gaa.. gaaa!!!” Saka menepuk nepuk pipi Raga panik. Berharap mulut Raga tidak mengeluarkan bus-busa putih macam over dosis.

“Apaaaa sihhhhh!!! sakitt tauu!!” teriak Raga balas ngamuk sambil melempar botol Heineken ke arah Saka.

“Anjing! bego lo ye! Gw kirain lo mati! Lah itu ngapain terlentang di ubin pake melotot ngga kedip-kedip?” mahluk hidup mana coba yang bisa melotot segitu lama. Saka ngedumel sambil membawa keluar gayung ditangannya kembali kekamar mandi.

“Ngapain loh bawa-bawa gayung? Mo numpang boker lagi?”.

“Kagak nyet! Gw tadi mo nyiram lo kali-kali aja lo bisa sadar.” Dasar Saka bodoh, kalo ngga numpang boker gara-gara dia lagi mencret pasti cuman mampir mo minta minum. Saka pun berhenti didepan pintu kamar, mematung dengan tampang melongo mengitari pandangan sekitar kamar.

“Ga..ga.. elo cewek apa anak babi sih? Ini kamar lo kenapa jadi kaya tempat sampah gini??”

“Udah deh, lagi kepencet tombol shuflle nya nih, kalo ngga bisa bantuin ngatur perasaan gw mendingan lo beliin gw cimol bumbu kacang di depan gerbang sono!” Saka memang manusia terbolot yang yang paling seksi, karena bagi dia semua kata-kata manusia selalu terdengar indah di otaknya. Nada sebalku pun tak digubrisnya, kadang aku berfikir apa mungkin rambut gondrong ikal yang jatuh di samping telinganya itu berfungsi sebagai filter.

“Eh tapi keren tuh gambar kaktus di tembok samping lemari. Lo gambar pake crayon yak?” Saka mengambil ancang-ancang ala Pak Tino Sidin mengomentari buku gambar anak-anak di TVRI.

“Itu gambar perempuan bodoh!!!! Dan itu ngga pake crayon, tapi pake lipstik” komentar Raga kecut.

“Uh Ga, koq gw nyium bau-bau sayur basi?” Saka bodoh mengendus-ngendus seisi kamar mencari sumber petaka yang sepertinya akan menghilangkan nafsu makan siangnya.

“Apaaa sihhh?? Gw ngga nyium apa-apa” Teriak Raga kesal. Saka tetap penasaran meyusuri seisi kamar dengan hidungnya. Raga terkikik kecil, menahan tawa dalam hati. Dibayangannya Saka seperti anjing Hus Puppies. Saka mendekati Raga dengan hidung nyengir-nyengir tikus, mendadak berhenti dan melotot. “Gaaaaa, bauuu looo kayak sayur basi!! Lo dah berapa hari ngga mandi??”

“Saaakkkaaaaa, ihhhhhhh rese deeh. Iaa iaa gw dah ngga mandi 3 hari, So what?? “Kagak ada yang mo nyium gw ini, bahkan cowok yang biasa nemenin gw tidur aja udah ninggalin gw”. Saka menatap kaku tak bersuara, mulutnya terkatup rapat tak mau komentar atau pun memberikan reaksi apa-apa. Seperti Saka yang biasa, dia malah ikut berbaring melantai disamping Raga. Raga membalikkan badannya yang tersegal-segal menahan tangis di balik bantal.

Dunia mendadak senyap seperti kedalaman lima meter di bawah permukaan laut, kedap suara dalam duapuluh detik.

“Langit-langit kamar lo keren Ga, pantesan aja lo betah melotot selama itu!” Raga melirik ke wajah Saka, mencoba menangkap maksud kata-katanya. Dia hanya tersenyum memandangi sticker-sticker hologram bintang, bulan dan planet-planet yang tertempel dilangit kamar Raga. Raga memandangi wajah Saka dari samping, bantalnya basah,

tujuh puluh lima detik…

Masih Akan Bilang Bahwa Perubahan Iklim Itu Mitos?

Malam ini saya nongkrong di tempat gym seperti biasa, bersama ibu-ibu muda dan para tante yang sedang mengeluhkan cuaca yang tidak menentu. Ini bulan Juni di Jakarta dan dua hari terakhir ini Jakarta selalu di guyur hujan deras. sebuah fenomena yang bukan lagi menandakan musim kemarau. Beberapa orang dari tante tersebut mengeluhkan masuk angin, ada juga yang curhat kalo dia harus mengantri dari jam setengah tujuh pagi untuk mengambil antrian nomor doktor untuk berobat cucunya. Sang tante pemilik gym cerita kalo rumah dia kebanjiran kemarin hingga semata kaki, dan dia mengeluhkan cuaca yang kian tidak menentu bisa jadi salah satu penyebab si tante L terkena penyakit aneh. Telinga tante L berdengung tidak berhenti, dan hanya diketahui itu diakibatkan oleh sebuah virus baru. Perubahan cuaca disadari oleh para tante ini sedikit menggangu kesehatan mereka, tapi si tante pemilik Gym hanya bisa menyimpulkan perubahan cuaca ini sebagai “pertanda kiamat kali ya”.

Setelah semua fenomena alam yang coba mereka kaitkan dengan logis percakapan pun berakhir menjadi sebuah jawaban spiritual untuk dijadikan kesimpulan tercepat dalam menjelaskan penyebab terjadinya gejala berubahan iklim tersebut. Apakah memang sebetulnya ada kaitan antara spiritualitas dengan perubahan iklim? Bisa jadi memang perubahan iklim adalah juga isu spiritualitas, karena perubahan iklim akan menimbulkan pertanyaan bagaimana kita memaknai ciptaan Tuhan.

Di dalam kehidupan dimana kita mengeksploitasi sumberdaya alam sebagai bahan baku yang kita ubah menjadi barang yang kita pergunakan dan kemudian kita buang. Kehidupan dimana kita bebas merusak alam dan mencemari tanah, udara, dan air demi pembangunan industri, bagaimana kita mengalami dan memahami ciptaan Tuhan memang akan mempengaruhi reaksi kita terhadap krisis iklim.

Keganasan Badai Sandy yang terjadi di Amerika pada awal tahun ini telah menembus penolakan publik dan telah memaksa kita untuk menjawab pertanyaan: berapa banyak berubah pola cuaca yang berkaitan dengan perubahan iklim? Selama beberapa dekade, para ilmuwan telah memperingatkan bahwa aktivitas manusia telah menyebabkan pemanasan global dan mengubah pola cuaca yang diprediksi akan menyebabkan bencana yang lebih besar.

Pemanasan Global

Apa itu pemanasan global? Mungkin penjelasan ini sepatutnya dimengerti juga oleh para tante di tempat gym tadi. Dalam kondisi alami, atmosfer bumi bekerja seperti rumah kaca, atmosfer ini berisi uap air, karbon dioksida, dan gas lainnya untuk menahan dalam jumlah yang cukup dari panas dan energi surya, sementara sisanya yang tidak dapat ditahan dilepaskan kembali ke angkasa luar. Mekanisme ini sebetulnya dapat berjalan dengan indah dan seimbang dalam mengatur iklim dan mejadikan bumi ramah untuk dihuni oleh makhluk hidup, termasuk manusia.

Namun pada kenyataanya, kondisi atmosfer yang paling dekat dengan permukaan bumi saat ini menjadi tebal dikarenakan atmosfer terlalu banyak menampung kelebihan emisi karbon dioksida (CO2) dan gas lainnya yang meningkatkan “efek rumah kaca.”

Sejak awal era industri, komposisi atmosfer bumi telah berubah secara dramatis. Sebelum 1800, atmosfer mengandung 280 bagian per juta (ppm) CO2, tetapi sekarang telah meningkat menjadi lebih dari 390 ppm, tanpa terlihat dan kita sadari. Atmosfer kini tumbuh lebih tebal dan lebih padat, sehingga lebih banyak menampung panas matahari. Kondisi atmosfer yang seimbang dan berkembang bersama kehidupan duniawi selama ribuan tahun, saat ini sedang mengalami gangguan serius diakibatkan karena ketergantungan manusia pada bahan bakar fosil.

Kenaikan jumlah gas rumah kaca CO2 disertai dengan pemanasan global diprediksi akan semakin parah dari tahun ketahun, meningkatkan frekuensi gelombang panas, terjadinya badai yang lebih ganas, puncak es yang mencair, kenaikan permukaan laut secara global, kekeringan ekstrim, peningkatan jumlah serangga pembawa penyakit dan hewan pengerat, kegagalan panen, hujan deras dan banjir, peningkatan suhu laut, kebakaran hutan, migrasi bakteri dan perubahan pola penyakit, kerusakan terumbu karang, pengeringan lahan basah, kecepatan pemunahan spesies, perubahan pola musim, gangguan ekonomi, dan menimbulkan terjadinya pengungsi lingkungan.

Meskipun negara-negara yang sangat maju telah mengurangi sebagian besar kontribusi gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim, negara-negara miskin masih menjadi negara yang paling dramatis terpengaruh dan memiliki sumber daya paling sedikit untuk merespon peristiwa ini.

Sejak tahun 2000, kita telah mengalami sembilan dari sepuluh tahun terpanas yang pernah dicatat oleh sejarah. 12 bulan mulai dari periode Juli 2011 sampai Juli 2012 adalah rekor terpanas suhu bumi, dengan munculnya puluhan ribu rekor peristiwa cuaca ekstrim yang ternyata konsisten dengan prediksi perubahan iklim. Kondisi ini muncul dalam bentuk gelombang panas, kekeringan, kebakaran hutan, angin topan, tornado, dan badai. Pada bulan Agustus 2012, lebih dari setengah negara bagian Amerika Serikat telah ditetapkan sebagai zona bencana karena kekeringan dan gagal panen meluas.

Konsensus atau Kontroversi?

Realitas manusia yang disebabkan perubahan iklim adalah masalah konsensus ilmiah, meskipun kita mungkin tidak tahu bahwa banyak kontroversi topik perubahan iklim juga terjadi di media. Semua akademi ilmiah nasional dan internasional dan masyarakat setuju dengan penilaian dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang memberikan gambaran kolektif mengenai kondisi dunia yang semakin panas telah menunjukan adanya bukti baru dan kuat bahwa sebagian besar pemanasan global selama 50 tahun terakhir disebabkan oleh aktivitas manusia.

Kontroversi tentang perubahan iklim kini tidak lagi hanya bersifat ilmiah, tapi juga politik. Minyak, gas, dan perusahaan lain yang mendapatkan keuntungan dari bahan bakar fosil sengaja menabur keraguan tentang perubahan iklim dengan melobi pejabat publik terhadap regulasi industri mereka. Energi lobi ini ternyata juga telah menghabiskan jutaan dolar untuk menciptakan agenda pengabaian terhadap pemanasan global, mengecilkan signifikansinya, dan menyangkal bahwa hal itu disebabkan oleh perilaku manusia.

Membatasi Gangguan Iklim

Sulit untuk menghadapi besarnya masalah gangguan iklim yang sedang berlangsung dan potensinya untuk menghancurkan masyarakat dan ekosistem di seluruh dunia. Penolakan terhadap isu pemanasan global mengancam kita untuk mengecilkan semua masalah lingkungan lainnya, menyebabkan penderitaan manusia yang lebih besar, dan membuatnya lebih sulit bagi generasi mendatang untuk berkembang. Tapi penolakan tersebut hanya akan menunda pertimbangan manusia terhadap krisis ini. Karena faktanya manusia yang menyebabkan perubahan iklim adalah nyata, dan itu terjadi pada saat ini, menyebabkan gangguan pola cuaca di seluruh dunia.

Apa yang diperlukan untuk membatasi gangguan iklim? Demi integritas, kita harus membuat perubahan gaya hidup untuk mengurangi jejak karbon kita. Kita bisa memulianya dengan mematikan lampu, beralih ke peralatan yang hemat energi, naik sepeda atau menggunakan transportasi umum, ataupun menanam pohon. Dengan perilaku tersebut kita dapat menggunakannya sebagai model pelayanan yang bertanggung jawab dan menunjukkan kepedulian kita pada alam ciptaan Tuhan.

Meski demikian, tindakan individu tidak akan cukup menangani masalah mendasar penyebab sistemik dari krisis iklim. Akan menjadi mustahil untuk membatasi kenaikan suhu bumi hanya melalui pilihan gaya hidup pribadi saja. Sebagai masyarakat yang mengkonsumsi produk industri, kita juga harus membuat industri membayar mahal untuk pencemaran atmosfer dengan gas rumah kaca.

Sistem ekonomi global saat ini, didominasi oleh perusahaan besar yang melipatgandakan kekayaan untuk mengorbankan banyak keindahan dan kekayaan bumi yang berharga. Kapitalisme berbasis pasar sebetulnya sudah mengetahui nilai-nilai sakramental hidup atau nilai intrinsik dari semua ciptaan Tuhan, hanya saja pandangannya masih murni utilitarian, pandangan yang berlandaskan pada aktifitas mengubah tanaman, hewan, tanah, dan bahkan air sebagai komoditas sehingga semuanya dapat diperjual belikan, mengurangi nilai ekonomi alam hingga ke garis bawah. Ideologi ini telah memungkinkan segala bentuk penciptaan Tuhan layak untuk dieksploitasi, hasilnya adalah kerusakan lingkungan yang parah, termasuk perubahan iklim, dan sistem ini sudah saatnya memerlukan perubahan.

Masalah perubahan iklim merupakan masalah global, kondisi ini akan membutuhkan solusi global yang didasarkan pada kerjasama antara negara-negara untuk mengubah sistem yang menyebabkan kerugian manusia dan ekologi tersebut. Kerjasama global semacam itu hanya akan terwujud melalui tekanan dari akar rumput kepada pejabat publik untuk memberlakukan kebijakan yang membatasi emisi gas rumah kaca. Kita bisa bergabung dalam upaya-upaya advokasi tersebut melalui lingkungan sekitar kita sendiri.

Badai Sandy adalah bukti bahwa bencana akibat perubahan iklim dapat membangkitkan kesadaran orang-orang pada terjadinya krisis iklim di bumi. Orang-orang yang tergabung di berbagai komunitas di seluruh dunia mengambil tindakan terkoordinasi, menekan pemerintah untuk memberlakukan kebijakan yang dapat membatasi emisi. Perubahan iklim mungkin tidak hanya dapat dipulihkan melalui upaya-upaya tersebut, tetapi kebijakan publik dapat membantu mengurangi kerugian yang terjadi, terutama untuk menanggulangi populasi yang rentan terkena dampak perubahan iklim, dan mengurangi peningkatan emisi di masa depan.

Hidup Sakramental, Berjalan Adil

Sebuah masyarakat tanpa nilai-nilai spiritual seperti sungai tanpa sumber. Aset terbesar yang dapat kita wariskan pada generasi yang akan datang adalah bumi yang kaya dengan cluster holistic yang terkoneksi secara kosmologis. Kita mungkin berada di bawah ilusi bahwa kita manusia dibangun “dunia” duduk di atas alam, dan entah bagaimana menjadi terisolasi dan terpisah dari kekuatan alam yang kita telah dijinakkan melalui teknologi.

Namun meningkatnya frekuensi bencana alam dan peristiwa cuaca ekstrim semakin memperjelas pandangan bahwa fenomena ini bukanlah konspirasi isu buatan manusia. Efek dramatis perubahan iklim menunjukkan kepada kita betapa rentan kita, terlepas dari prestasi budaya dan teknologi yang luar biasa, bahwa kita masih tergantung pada Tuhan yang menciptakan kita dan kita pun akan saling tergantung dengan ciptaan Tuhan lainnya.

Sebagai orang beriman, kita dapat mendidik diri sendiri tentang perubahan iklim dan meningkatkan pengetahuan diri kita dan orang-orang sekitar kita tentang pentingnya mencegah efek pemanasan global yang mendorong terjadinya bencana alam. Kita bisa mulai dengan ikut bergabung dengan orang-orang yang memiliki semua perspektif pemikiran dan keyakinan untuk mengadvokasi kebijakan publik yang akan mendukung sebuah planet yang sehat dan layak huni. Dengan demikian, kita hidup sakramental dan berjalan adil dalam hubungan kita dengan Tuhan, dengan keluarga, manusia sekitar, dengan generasi masa depan, dan dengan semua mahluk ciptaan Tuhan.

Twisted Aching Heart

It is going to be easy back than, when things like this happen. I’ll just grab my menthol lucky strike cigarettes with a bottle of cold corona, cut some slice of lemon and tab it into the bottle neck. Breath it deep into my mouth and blow it smoothly trough tips of my lips. Another big hole in the heart, being sick as lame person. Years of tiredness, still coming again, though not as frequent as It is used to be.
I need my girl friend, I miss her so much. My dear lovely soul mate schizo friend. I still remember our first kiss, me “Bumi” and you “Langit”. Tamed me down with your husky wishper, I rime your breath away with high pitch scream. We were worshiping each other. “Ssshhhh.. It’s okay baby, It’s okay, stop your cry now, stop crying now”. You said my heart can’t be hurt.

Killing My Routine

Sunday market at Camberwell suburb, Melbourne 2009

I’ve been feel really bore to death lately; this fatigue comes until I hate myself so much. I decide to flip flop all my life routines, and do something stupidly start from simple and small things. First I choose not cook for dinner, get out to find something to eat outside, but this time I am avoiding city to hang around. 900 bus to Chadstone, only 5 minutes away. I get into that bus with one of my housemate. As usual all food court already closed, that’s what I hate from living in Oz, lazy workers! Quarter chicken in lemon herbs sauce with large portion of chips, become another piece of shit for my fluffy tummy.

I don’t care I have to spoiled myself this time. Get off from Nandos after finish licking on our oily chicken fat fingers. We were not in the mood of watching any movie. Simultaneously we turn our steps to borders bookstore. Seeing all design and music book price only will make me regretting my big portion dinner, I sense any hunger there. So I just avoiding that book racks and go to CD sale boxes. $10 each or $40 for 5 CD, what a bargain.

I never buy original CD all my life before, Jakarta is heaven for all source of cheap digital entertainment. You can get dozens good quality piracy music cd, mp3 and dvd movie for only $10. Geezz its so ironically pain in the ass living in a country where all of the people praise copyright and forbid piracy. For me, I was an open source lover myself. Hey get for real, I come from a Third World Country where all of the people cannot have access to worldwide knowledge reference due to their poverty. And I believe that one reason why those people still living in poverty because of exploitation by more powerful country who have stronger knowledge, technology, and capital. That will be just taking back what belongs to our rights when we pirating their product. For notes, I only allow this happened to other country’s product, meanwhile I always collect original VCD for Indonesian movie :)

To much being insincere, keep this mission goes with killing my routines. This is about doing things that you never do before. Ehm to much CD in the sale boxes, I recognized some of the artists but I didn’t recon most of them. There come out a light in a head, how about I choose those CD based on the cover design and get rid off any other reference. Just grab any CD that has a interesting cover design, and don’t think about “Who the hell is this artist?” or “What kind of genre would it be categorized from album named -Teeth Lost Hearts Won- will be”. Yahh, time not thinking to much and just do what I like.

So, I fall my heart to 5 CD in my hand. The excitement was kinna addictive. I really want to go home as fast as I can, open all those cases and listening to what kind of music that they playing. I keep those CD in my hand, during the trip back home I’m giving a lot of questions about anything related to every single pieces of the their drawings, graphics, and what they really try to present troughs the covers. I read all the words and song title list, fonts, texture, pictures, label and publisher names just to figure out will it be as I expected when I listen to those songs. But nevermind, less expecting means less hurt.

1st Album: Teeth Lost Hearts Won, Artist: The Grates, My iTunes said: Alternative & Punk

2nd Album: There’s Me and There’s You, Artist: Matthew Herbert Big Band, My iTunes said: Jazz

3rd Album: Smoking Gun, Artist: Lady of The Sunshine, My iTunes said: Rock

4th Album: The Great Hartford Fire, Artist: By The Fireside, My iTunes said: Alternative & Punk

5th Album: Ghost Days, Artist: Syd Matters, My iTunes said: Nothing

Shuffled

Yarra River on one windy autumn, Melbourne 2010

How does it feels falling in love with a giant huge hunks? “Jai guru deva om” – Nothing’s gonna change my world. I got my whole world into me as if I’m falling into humongous fluffy clouds. Fi! Fa! Foe! yelled the giant to jack whose pooping up in the top of the beans talk. You’re my eggplant in a purple well-done dishes, easy to swallowed without any hard work to chew. A green spotlight watermelon bubble tape chewing gum, elastically blown and simply irresistible. Hello, may I speak with Mr.Green Spotlight, please? tut..tut..tut.. the person you are calling is inactive and temporary disable. Yes Mr. Green, I know you have turn on your flight mode right now, and we are playing save in a back lava room, hundred feet from the ground. Let me push that off button inside of you so you can see clearly a way to my heart. Bulls Eye!!! There you got it! I know it!! I know it!! You can do it! I am so relive I got you under my skin.

Literally It was a Hoax, but I love fairy tales anyway, and again Nothing’s gonna change my world. How about Goldilocks and The Three Bears? Kriiinggg, the bells ringing, class over, time to go home.