Category archive: Opinion

gonna

Meet Miss Doers and Miss Gonna

Hey, let’s meet these two people that I know. The first person lets called her Miss Doers. Yes, Miss “doers” living in the world of action. Blunt, straight-forward risk-takers, she is willing to plunge right into things and get her hands dirty. She live in the here-and-now, and place little importance on introspection or theory. She look at the facts of a situation, quickly decide what should be done, execute the action, and move on to the next thing.

Continue reading

pulau-macan

Menunggu Mimpi, Mencari Gravitasi

Kata Einstein waktu itu relatif. Dia bilang semakin lambat waktu sangat relatif dibandingkan kondisi orang yang tidak bergerak, dia menyebutkan melambatnya waktu karena gerakan. Di mematahkan teori sebelumnya bahwa waktu itu konstan, saya suka dan saya setuju.

Continue reading

Empowering Indonesia’s Rich Natural and Cultural Assets

A concept note about empowering Indonesia’s rich natural and cultural assets by fueling creative economy growth in an ecologically and sustainable way.

The Indonesia government has committed to reduce GHG emissions by up to 41 percent while still growing the economy at 7 percent annually by 2020. This means Indonesia must move away from a natural resource extractive approach, to an approach that can put economic value on conservation and the wise use of natural resources. The implementation of the green economy will incubate economic growth and increase poverty-based initiatives by potentially creating a new economic growth, create new jobs, and reduce poverty.

Indonesia is very rich in natural resources, with more than one hundred and thirty million hectares of forest it becomes one of the most forest rich nations in the world. In Indonesia more than 48 million people also depend on forests for their livelihoods – these people are in many cases also the guardians of forest integrity, but they are under pressure to also exploit. Efforts to develop a creative economy based on natural and cultural assets would be beneficial to help these people protect forests and break the chains of poverty. If we want to save the forest, then we must save the people first, and in today’s world one powerful way to make this happen is by giving them access to learn various skills to compete within the modern economy related to both services and manufacturing sectors that do not damage the balance of the forest.

One important economic contributions of forest which is often overlooked are non-timber forest products that have long been utilised by communities surrounding these forests. The Indonesian government through the Ministry of Forestry has specified 565 species of non-forest timber products with six priority products: rattan, bamboo, gaharu or agar wood, natural silk, honey, and nyamplung or Calophyllum inophylum. Besides, Indonesia has a rich culture with hundreds of remarkable ethnic groups. Those two things become extraordinary capitals to develop an economy based on the utilisation of assets and natural resources creatively. The challenge is how to add creative value to the highest natural materials possessed so that economic growth can be established without harvesting the natural resources in an extractive way, and thus ensuring sustainable and stable ecosystems.

A vibrant and strong creative economy can only be concretely realised if the younger generations are capable of creatively innovating designs of various high economic value products without damaging the environment. Moreover, through fostering a caring attitude the young generation can be actually moved, involved in a real action spontaneously and voluntarily into a social environmental entrepreneurship activity. Therefore college students and young generation need to be educate with knowledge and inspiration from those who already practicing the social entrepreneurship business model so that all parts of institution can work together, by linking and inspiring to find the most effective way to save the forests and ecosystems in an integrated and comprehensive manner.

More about Indonesia’s Non-timber forest product can be viewed through this video about forests as complex ecosystems that support a myriad of life forms. Forests play important roles in human life, functioning as a source of food, energy, livelihoods and homes for more than 48 million people all over the Indonesian archipelago. It also inspire the culture of Indonesian people. Over centuries, people evolved their cultural forest ethnicity, into a wealthy living harmony. This video will gives some description about the unique non-timber forest products produced by forest people that can create high economic value in the urban lifestyle while at the same time, forest will also connect us to the age old Indonesian ancient traditional heritage. Narrated by Nora-Jane Noone, this video directed and edited by Nanang Sujana.

Non-Timber Forest Product: Indonesia’s Forests Hidden Economy

My Body Is Not Delicious

Saya begitu miris menatapi barisan foto dalam album salah satu perempuan yang berprofesi sebagai model, satu sisi hati saya begitu tergugah walau saya tidak mengenal perempuan tersebut. Saya hanya bisa berpikir, betapa beruntung mereka dianugerahi fisik yang sempurna dan cantik. Begitu bercahayanya mereka dalam balutan pakaian-pakaian model terbaru yang menutupi sedikit bagian tubuh mereka.

Tentengan tas-tas belanja dengan merek terkenal bersama teman-teman perempuan dengan penampilan sepandan, rokok di tangan kanan, gelas minuman di tangan kiri, pemandangan lampu disko di belakang, dengan turn table di depan, lengan mengalungi pundak lelaki muda rapi berpenampilan necis di sebelah kiri, bibir mencium lelaki tampan di sebelah kanan. Lalu saya coba meng-crop wajah sang model itu dan menempelkan foto saya menggantikan posisinya, saya pun terbahak-bahak. Sangat tidak sekali, saya putuskan untuk mengganti niat bodoh saya.

Saya pun teringat percakapan dengan roommate sekaligus sahabat saya ketika kami baru selesai menonton sebuah film berjudul “Taken” yang menceritakan tentang anak seorang mantan agen rahasia America yang diculik untuk dijual dalam konspirasi internasional perdagangan perempuan (human trafficking). Penculikan tersebut terjadi dikarenakan sang anak ceroboh dalam mewaspadai keamanan dirinya ketika mereka sedang berlibur ke Paris. Lalu saya pun berkomentar ringan pada teman saya, betapa hal tersebut ada dan sangat mudah bisa saja terjadi pada kita ya. Lalu teman saya tertawa, sambil menjawab. “Le, kita mana mungkin jadi mangsa woman trafficking kayak gitu, liat aja kriteria yang jadi korban-korbannya, minimal harus memiliki tubuh proporsional dan enak dipandang, cantik dan menarik.” Saya pun tertawa terbahak-bahak lagi menjawab komentar teman saya tersebut.

Ketika perempuan menjadi sebuah objek dan mereka sangat menyadari hal tersebut sebagai potensi untuk mendapatkan bentuk kehidupan yang sangat glamor, kelas atas, atau eksklusif, karena hanya bisa dinikmati oleh orang-orang berkocek tebal, mereka pun terbius, beberapa tidak lagi ambil pusing mengenai posisi mereka sebagai objek maupun subjek. Bahkan posisi objek itu pun kemudian menjadi lahan basah bagi mereka untuk dijadikan mata pencaharian seperti profesi model, artis, ataupun bintang sinetron.

Apa pun yang menjadikan mereka penghibur visual khalayak pengkonsumsi media. Mereka kemudian sangat menikmati gelimangan perhatian dan materi berlimpah atas eksploitasi mereka sebagai objek. Mereka menikmatinya dan mereka bahagia, tak apa. Saya akui saya pun salah satu penikmat tontonan macam ini. Saya suka melihat perempuan dalam dandanan beraneka macam rupa dan bentuk, saya menikmati perempuan-perempuan cantik. Mungkin ini yang jadi salah satu alasan mengapa majalah perempuan memasang foto model perempuan, dan majalah lelaki tetap memasang model perempuan. Tapi ini hanya sebatas saya menjadi penonton, karena menikmati mereka dari luar dalam ruang inkubasi yang sama lebih menarik untuk diobservasi dan ditelaah dibandingkan saya harus berada dalam sepatu yang sama, karena jujur saja saya tidak kuat memakai high heels ataupun stiletto.

Ketika roommate saya bertanya apakah saya suka dugem, saya pun menjawab, satu-satunya rave party yang pernah saya hadiri itu adalah penampilan DJ Tiesto di Ancol, dan alasan saya berada di sana adalah karena saya bertindak sebagai panitia cabutan yang berkewajiban mengurus toilet. Terima kasih untuk bapak Aldi yang pernah memberikan kerja sambilan ini, sehingga saya berkesempatan untuk menonton lautan manusia dalam kondisi trans dari atas panggung. Begitu menarik melihat pemandangan luar biasa ratusan wanita cantik berdandan seksi dengan berbagai macam perilaku yang jarang saya dapati di kehidupan normal saya. Kembali pada bahasan perempuan sebagai subjek atau objek, saya tidak memihak salah satunya. Semua sah-sah saja dalam kadar pertimbangan masing-masing individu, vice versa. Hanya saja saya sedang berusaha menekan gejolak perut dan pemikiran subjektifitas saya dalam memandang kehidupan perempuan di luar bentuk kehidupan yang saya jalani.

Teringat lagi cerita roommate saya tentang cerita temannya yang menyandang beasiswa ADS dan sama-sama sedang belajar di Melbourne. Temannya yang merasa sangat ber”otak” tersebut baru saja bertemu dengan salah satu artis muda Indonesia yang sama-sama sedang menuntut ilmu di sana. Temannya itu menjawab secara acuh tak acuh pertanyaan ringan biasa dari sang artis muda yang mencoba untuk membangun percakapan layaknya individu. Ia memposisikan dirinya sebagai seseorang yang tidak mau disalahkan jika tidak pernah lagi mau peduli dengan semua hal yang berbau dunia keartisan Indonesia. Dilanjutkannya dalam nada yang sangat-sangat mencemooh dengan membandingkan posisi sang artis muda dengan orang lain yang lebih berpengaruh di dunia seperti Margaret Teacher, Hillary Clinton, dan sebagainya. Lagi-lagi mengesankan bahwa sang penyandang beasiswa jauh lebih berharga untuk hidup di dunia dibandingkan sang artis. Saya pun hanya bisa miris dan dalam hati saya, tidak sepatutnya juga sang intelektual bersikap demikian terhadap sang artis. Saya pun tidak mengingkari adanya kebutuhan ikon ataupun simbol manusia terhadap manusia lain berupa identitas.

Tapi ketika salah satu identitas dianggap berada di posisi yang lebih tinggi dibandingkan identitas yang lain, ini yang mungkin jadi salah kaprah. Baik sang artis maupun sang intelek tidak ada yang mau kalah, mereka menaruh kecurigaan satu sama lain, yang menyebabkan komunikasi dan hubungan di antara mereka tidak terbangun secara imbang ataupun dua arah. Saya pun hanya memberikan komentar sehubungan dengan cerita tersebut dengan rasa kasihan pada si artis dan berharap seandainya sang intelektual mau berpikir lebih luas betapa manusia membutuhkan hiburan, dan hal tersebut tidak akan terlepas dari peran sang artis. Dan apa salahnya dengan menjadi artis yang berposisi sebagai objek dengan simbol dan identitas yang merekat pada mereka.

Terbayanglah dunia tanpa hiburan, tanpa film, sinetron, telenovela, opera sabun, ataupun drama korea. Majalah-majalah mode tanpa model manusia, dan iklan-iklan televisi hanya berisi gambar kartun dan tulisan. Akuilah, kita saling membutuhkan dalam simbiosis mutualisme. Dan lagi kalaupun saya harus menggunakan ikon public figure untuk kampanye peduli lingkungan di Indonesia, saya tidak akan mungkin menggunakan Hillary Clinton sebagai model iklan saya. Karena ibu-ibu penikmat sinetron dan pengkonsumsi televisi yang berada di daerah, notabene merasa sangat asing dengan wajah bule mereka. Bisa jadi mereka lebih aware apabila pesan tersebut disampaikan oleh pemeran utama perempuan dalam sinetron.

Kita manusia dan pandanglah orang lain sebagai manusia, membagun pemikiran dengan lebih terbuka dan bijak akan membuat hidup kita lebih ringan, dan lagi identitas hanyalah pelekat dalam diri individu. Seyogyanya kita lepaskan kacamata kuda kita sekarang dan mencoba untuk memposisikan diri baik sebagai objek maupun subjek. Semua punya kapasitas dan peranan masing-masing.

Cerita Alam dalam Bingkai Fotografi

“Leoni, coba kamu hubungi Lie Tangkepayung buat minta foto-fotonya ikut pameran” pinta Mba Kiki suatu siang di tengah rapat darurat membahas tema dan konsep acara yang harus segera di presentasikan ke event organizer pameran.

Lie..

Tang..

Kep..

Payung..

Nama yang perlu saya konfirmasi berkali-kali pada Mba Kiki, mengenai cara penyebutan dan penulisannya. “Nanti aku kenalin deh lewat facebook, jadi kalian bisa saling kontek-kontekan”. Ehm, nama yang unik dalam hati saya. Dan perkenalan pun berlanjut di facebook hingga saya mengetahui bahwa Lie saat ini bekerja untuk WWF di Papua. Dulu sebelum saya berkenalan dengan Lie di facebook, saya mengira Lie adalah orang Papua asli, apalagi setelah menerima kiriman CV dari Lie yang mencatat sejarah lahir dan riwayat akademisnya di Papua. Rasa penasaran yang saya bawa penuh dengan tanda tanya hingga pada pertama kalinya kami akhirnya berjabat tangan di Jakarta. Ternyata Lie keturunan Toraja, ayahnya adalah pejuang Trikora yang ditugaskan ke Papua, memutuskan untuk kemudian menetap disana. Nama Tangkepayung adalah nama marga di Toraja ungkapnya menjawab keraguan saya.

Melibatkan Lie dan fotografer lingkungan hidup lainnya dalam kegiatan pameran Satgas REDD+ sebetulnya adalah ide spontan yang tejadi dalam sehari, ketika kami dihadapkan pada papan tulis kosong menunggu coretan konsep acara pameran yang akan berlangsung seminggu lagi. Mencoba untuk memaksimalkan isi acara dengan melibatkan semua pihak yang terkait REDD+ adalah, ide yang sangat sederhana. Mungkin karena kami sendiri berada di dalam kelompok kerja komunikasi dan pelibatan para pihak, objektif kami tidak muluk-muluk dan rumit seperti kebanyakan para konseptor kegiatan yang berhubungan dengan pendidikan dan pembangunan kapasitas. Mungkin hal ini juga didorong oleh kondisi yang memerlukan keputusan “best practice” menghadapi mepetnya pelaksanaan waktu kegiatan. Menyikapi kondisi tersebut, fokus kami pun hanya berusaha agar bagaimana caranya kegiatan ini bisa melibatkan berbagai macam pihak, dalam hal ini adalah stakeholders (para pemangku kepentingan) untuk menjangkau publik yang lebih luas.

Dalam proses pemetaan pemangku kepentingan, media massa menjadi salah satu stakeholders target kegiatan komunikasi kami, lalu kami berfikir, kenapa tidak kita coba melibatkan mereka sebagai bagian dari Satgas REDD+ untuk sama-sama menyebarkan pesan kelestarian lingkungan hidup. Seandainya pesan tentang usaha pelestarian lingkungan hidup itu di ceritakan dan disampaikan oleh para jurnalis dan fotografer lingkungan hidup, tentu akan semakin menarik. Karena saya percaya a picture tells thousand words, dan pena lebih tajam daripada pedang. Keduanya adalah media yang sangat ampuh dalam penyampaian pesan, terlebih apabila bisa menginspirasi hingga terjadi perubahan sikap dan perilaku dari si penerima pesan.

Saya selalu tertarik dengan konsep citizenship journalism, dan new media menjadi salah satu alat yang tepat untuk mendukung terciptanya aktifitas jurnalisme rakyat yang dinamis. Jika berbicara mengenai new media, kita semua sadar bahwa kalangan muda adalah segmen yang sangat dekat dengan internet, sosial media, dan mobile technology. Menginspirasi mereka menggunakan media-media tersebut untuk menyampaikan pesan lingkungan adalah langkah yang menurut saya paling efektif. Hingga pesan mengenai: Hutan, Lahan Gambut, Manusia dan Budaya tercetus sebagai pesan umum yang ingin disampaikan.

Kerja ala Bandung Bondowoso berbuah respon yang baik dari teman-teman jurnalis dan fotografer. Banyak diantaranya yang mau menyumbangkan foto bertema hutan, lahan gambut, manusia dan budaya untuk ikut ditampilkan dalam booth pameran Satgas REDD+ di acara Indonesia Climate Change Education Forum & Expo (ICCEFE) 2012. Foto-foto milik Tantyo Bangun, Martin Hardiono, dan Lie Tangkepayung menjadi media yang kuat untuk menyampaikan pesan lingkungan kepada para kaum muda, khususnya pelajar. Tidak hanya itu, mereka juga dengan sukarela mau berbagi pengalaman mereka mengenai semangat berpetualang menjelajahi seluk-beluk hutan dan pedalaman Indonesia untuk mendapatkan foto-foto yang menggambarkan sejuta cerita mengenai alam, manusia, dan budaya.

Cerita Mas Tantyo Bangun mengenai rumah panjang terpanjang di sungai Uluk Palin, Kapuas Hulu dan magisnya tarian pria Dayak Kenyah di tengah Hutan Setulang, Kalimantan Timur, hingga cerita si Jonas dari Papua dan puncak tertinggi Jaya Wijaya yang tertutup salju milik Lie Tangkepayung semuanya membawa atmosfir alam dan hutan menjadi begitu dekat dekat dipeserta pameran yang sebagian besar adalah pelajar. Padahal jika ditanya berapa orang yang pernah ke pedalaman hutan Kalimantan atau Papua, tak satupun dari mereka yang mengacungkan tangan.

Sayapun penasaran mengajukan pertanyaan pada Mas Tantyo di depan peserta pameran. “Mas, kenapa sih Mas Tantyo mau capek-capek dan jauh-jauh melakukan perjalanan berhari-hari ke pedalaman dalam medan yang sulit untuk ditempuh dan infrastruktur serta fasilitas yang tidak memadai untuk mengambil sebuah foto?”. Dia pun menjawab dengan tenang “Kalo tidak ada yang merekam dan mendokumentasikan, tidak akan pernah ada yang tau bahwa hal-hal itu ada di sekitar kita. Siapa yang akan membawa pengetahuan dari dalam sana untuk disampaikan pada adik-adik yang hadir disini. Bisa jadi adik-adik makin tidak tau bahwa hal-hal itu ada disana dan menjadi bagian yang terkait dengan ekosistem hidup kita”. Lagi-lagi saya menangkap adanya motivasi sederhana yang tumbuh dari kepekaan manusia untuk menjaga keberlanjutan suatu ekosistem hidup, suatu pandangan akan perlunya menjaga dan mengkonservasi alam demi masa depan. Bahwa apa yang kita miliki dan nikmati saat ini bukan hanya menjadi milik kita pribadi, untuk kita nikmati sendiri. Tapi terlebih pada tanggung jawab untuk disampaikan pada seluruh umat manusia, agar mereka juga mengerti betapa pentingnya komponen-komponen hidup itu terhadap keberlangsungan peradaban manusia di masa depan.

Di hari terakhir kegiatan pameran, Lie berbagi cerita dan pengalaman yang inspiratif mengenai “Mengenal dan Mencintai Alam Melalui Fotografi”,dari alam yang membesarkannya, tanah Papua. Diawali dengan sapaan foto anak-anak berseragam sekolah SD dengan latar belakang pemandangan laut berwarna biru tosca. Saya tertegun dengan foto ini, begitu kontras antara objek foto dengan latar belakangnya. Saya tenggelam dalam pemikiran saya sendiri membayangkan apabila foto ini berada di facebook pelajar SD di Jakarta, pasti latar belakangnya pemandangannya adalah sekolah mereka, karena mereka hanya berseragam ketika sekolah dan begitupula sebaliknya, apabila anak SD di Jakarta berfoto dengan latarbelakang pemandangan pantai biru tosca, pasti mereka sedang berlibur dengan keluarga mereka dan tidak sedang bersekolah. Hal yang menarik untuk diamati dari foto sapaan pelajar Papua ini kepada para pelajar berseragam Pramuka yang duduk disitu. Foto itu bercerita bagaimana murid Papua bersekolah di alam, dan tampaklah bahwa alam yang menjadi ruang kelas mereka, alam yang memberikan mereka pengetahuan.

Foto-foto Lie sebagian besar menggambarkan bentangan alam Papua, salah satunya pemandangan puncak Cartenz Piramid diatas awan, satu dari tujuh gunung tertinggi di Asia Tenggara. “Kalo mau mendapatkan foto seperti itu, harus mengambil penerbangan dari Jakarta ke Jayapura yang transit ke Bali dan Timika”. Ungkapnya membagi pengalamannya mendapatkan momen foto tersebut. “Duduk di sebelah kiri badan pesawat jangan di belakang sayapnya, jika sedang beruntung, dan cuaca sedang bagus, dengan awan yang tidak terlalu penuh, maka puncak Cartenz akan muncul diantara awan langit dini hari”, informasi berharga yang mungkin saja dibutuhkan oleh fotografer lain yang sedang melakukan perjalanan ke Papua.

Fotografi, karya jurnalistik yang bisa menjadi duta penyampaian pesan lingkungan. Memberikan kesempatan pada para fotografer untuk berbagi semangat dalam memotet alam bisa menjadi salah satu kegiatan yang mendukung pendidikan lingkungan, karena untuk mencapai perubahan paradigma mengenai pengelolaan lingkungan, harus lah di mulai dari pengenalan akan manusia dan budaya sebagai rantai ekosistem yang terkait didalamnya, dan ketika kita ingin bertanya tentang ilmu pengetahuan alam yang sebeneranya, sumber mana yang akan lebih dipercaya? Guru di sekolah yang menceritakan kembali isi buku wajib pelajaran untuk mengejar setoran kurikulum diknas, atau mereka para praktisi lingkungan yang membawa cerita alam langsung dari sumbernya? Semoga menjadi inspirasi bagi para pelajar untuk berperan lebih dari sekedar pecinta dan penikmat lingkungan, namun jadilah penyampai pesan lingkungan. Mari bercerita tentang alam!

Day 4 Indonesia Climate Change Education Forum & Expo (ICCEFE) 2012

Turbulansi Ekosistem Bangsa

Melbourne to Changi 13 Juli 2009
Saya berangkat dari Melbourne dengan maskapai Singapore Airlines yang direncanakan akan transit di bandara Changi pukul 16.20, pindah ke gate E24 untuk ganti penerbangan SQ 966 menuju Jakarta. Saya begitu senang gembira gegap gempita apalagi sejak duduk di mobil yang mengantar saya ke bandara dipenuhi dengan tembang-tembang pop Indonesia. Saya pulang! Senyum sayapun tersungging gugup bersama lagu Love Vigilantes milik New Order yang liriknya saya anggap mewakili perasaan saya,

“I want to see my family, my wife and child waiting for me. I want to go home I’ve been so alone you see…”. Seperti serdadu yang baru dikirim pulang dari medan perang, dengan semangat empat lima saya menatap keluar jendela pesawat, tak sabar untuk segera menengok bangsaku Indonesia. “Oh I flew through the sky my convictions could not lie, for my country I would die and I will see it soon…”

Flight SQ 966
“Permisi mba, saya duduk di A”. Sambil menunjuk tempat duduk yang masih kosong di dekat jendela. Entah, terdengar atau hanya menebak dari bahasa tubuh saya kedua orang perempuan yang sangat saya yakin berkebangsaan Indonesia itupun beringsut sedikit menggeser kakinya. Keduanya berambut panjang sepinggang. Mereka sepertinya tidak saling mengenal satu sama lain, karena semenjak pesawat tinggal landas tidak saya dengar satu diantara mereka yang membuka percakapan. Perempuan yang duduk di kursi ujung dekat gang pesawat mengenakan kacamata dengan ukiran berwarna emas di pinggiran framenya, saya tidak memperhatikan huruf yang tertera di sampingnya apakah itu G besar, LV besar, atau D&G besar. Sedangkan perempuan satunya yang duduk ditengah, pas disamping saya mengenakan jaket jeans berwarna biru tua. Asumsi sementara dengan penguatan hipotesa 70% dibenak saya menyimpulkan bahwa mereka berdua adalah TKW Indonesia.

Pesawat tinggal landas dari Changi, dan sejam kemudian kami menyantap makan malam jatah pesawat dengan cepat. Setelah cukup kenyang, saya pun menegur perempuan disamping saya dengan sok akrab. “Orang Indonesia ya mba?” Si perempuan sedikit terkejut tapi lantas tersenyum gugup malu-malu sambil menjawab “Iya”. Saya pun melanjutkan percakapan “Kerja di Singapur mau pulang ke Jakarta ya mba?”

“Ngga itu tadi saya transit di Singapur, pesawat saya tadi dari Kuwait” Bahasanya begitu kental dengan logat Jawa Barat, tapi saya masih belum bisa menebak lebih spesifik daerah mana. Setelah melontarkan beberapa pertanyaan untuk mencairkan percakapan akhirnya mbak disamping saya itu mulai lancar bercerita tanpa malu-malu dengan volume suara medium tentang perjalanannya. Saya baru sadar ternyata dia tadi begitu tegang dan malu-malu sebelum saya tegur terlebih dahulu, karena setelah percakapan kami terus mengalir dia begitu bersemangat bercerita tentang kehidupannya dengan lebih terbuka dan berani. Lucunya saya sering menangkap si Mbak satunya lagi menengok curi pandang kearah kami, entah karena dia merasa terganggu oleh suara si mba yang sedang bercerita dengan vulgar tentang kehidupannya dan memberikan sinyal tak terucap “pssstt pelan-pelan kamu teh yang kaya gituan jangan diceritain sama orang-orang atuh”, atau dia malah penasaran mau ikut kita nimbrung percakapan kita yang semakin terdengar seru karena si Mbak terus cerita tentang pengalaman pribadinya.

Dari cerita Mbak tersebut saya tau bahwa dia bekerja di Kuwait selama 3 bulan dan sekarang kontraknya selesai, kali ini dia pulang untuk liburan. Dia sebelumnya pernah bekerja di Saudi sebelum ke Kuwait menjadi TKW selama 4 tahun, dikirim kesana sini oleh agennya. Bekerja berpindah-pindah dari satu tuan rumah ke tuan rumah yang lain. Si Mbak dengan gamblang juga bercerita tentang bagaimana tingkah laku laki-laki Arab Saudi yang genit-genit.

“Wah, laki Saudi mah ngga bisa ngeliat perempuan sedikit weh, matanya tuh kaya mau nerkam”
“Saya pernah punya majikan orang Saudi ngejar-ngejar mau ngawinin saya, padahal dia udah punya istri. Masak malem-malem ngetok-ngetok kamar saya jam 2 malem mau minta celana”.
“Saya tuh sampe ngancem awas loh ya saya bilangin majikan perempuan, tapi dia malah nantangin, katanya bilang aja saya ngga takut ayoo bilangin aja”.

Sayapun tersenyum menghadapi kepolosan si mbak yang begitu percaya mau membagi ceritanya ke saya, orang asing yang baru saja di kenalnya di pesawat. Dalam ceritanya yang panjang digambarkan bahwa anaknya sekarang sedang kuliah kedokteran di Trisakti. Satu titik yang sangat membuat saya terkejut bukan kepalang membayangkan berapa biaya yang harus dihabiskan oleh si Mbak ini untuk mendaftarkan anaknya di salah satu universitas swasta Jakarta yang terkenal prestige dan mahalnya bukan main itu. Apalagi ketika si Mba jelas-jelas menyebutkan jurusan kedokteran. Saya bisa sangat membayangkan angka belasan atau mungkin puluhan juta di kepala saya. Si Mbak pun bercerita tentang anaknya yang juara kelas, pintar mengaji hingga mendapat banyak panggilan, dibayar untuk mengisi acara yasinan orang-orang meninggal. Dia juga bercerita bahwa anaknya itu pintar melukis, dan pernah mendapatkan uang dari lukisannya itu karena ada orang lain yang menawar untuk membeli.

“Ngga pa-pa saya teh cuman lulusan SD tapi yang penting anak saya bisa sekolah tinggi. Sebetulnya saya teh dulu pengen nerusin sekolah, cuman ibu tiri saya ngga ngebolehin. Dia bilang ngapain sih anak perempuan musti sekolah tinggi-tinggi. Terus abis itu saya dikawinin sama orang, saya padahal ngga mau saya ngga suka. Abis kawin paksa saya ngga betah trus saya kabur. Saya sempet kerja di PT. Golden di Tangerang, terus pindah ke pabrik di Tangerang juga. Dan akhirnya saya ketemu sama suami saya sekarang ini.” Seperti diceritakan sebelumnya, suaminya adalah pedagang ikan cuek yang biasa mengangkut dagangannya antara Plered dan Krawang. Sedangkan anaknya sekarang mengekost di daerah sekitar kampusnya.

“Sebetulnya saya teh udah capek bener kerja, cuman bagaimanah saya masih harus biayain anak saya sekolah. Nanti kalo dia udah sekolah dan udah selese trus dapet kerja baru gentian dia ajah yang ngurusin saya”. Saya hanya bisa tersenyum bangga dan berkata “Yah mba ngga apa-apa, demi sekolah mbak yang sabar yah, kan ini demi masa depan yang lebih baik. Mbak harus tetep semangat.” Tak lama kemudian pengumuman mengatakan bahwa kami harus kembali ke tempat duduk masing-masing dan mengencangkan sabuk pengaman kami karena pesawat sebentar lagi akan mendarat di Jakarta. Sayapun mengulurkan tangan, sambil menanyakan namanya. “Jumanah”

Kami berpisah sambil mendoakan selamat satu sama lain, di loket pemeriksaan passport keluar saya mengantri bersama beberapa TKW lain di depan saya, sambil mengantri saya memandangi sign board neon besar terpampang di sebelah kanan antrian custom check, tulisan hijau besar “Selamat Datang Pahlawan Devisa”, saya tersenyum lagi kali ini di dalam hati, aku tiba di Ibukota.

Juli ketujuhbelas tahun dua ribu sembilan masehi
Saya baru saja selesai membakar keringat berolah raga, berusaha mendinginkan diri dibawah kipas angin semilir-semilir ketika saya nyalakan televisi yang menyiarkan laporan langsung menggebu-gebu tentang terjadinya ledakan bom di J.W. Marriot. Yah, laggiii?!? Kutuk saya dalam hati. Saya tidak akan menceritakan kronologis kejadian bom tersebut, karena saya yakin media massa pasti sudah mengeksploitir, mempolitisisasi, berbagai macam informasi dalam berbagai macam versi kepada anda, khalayak umum. Suatu peristiwa yang pastinya tidak diharapkan oleh semua orang, tapi pada kenyataannya telah terjadi dan menimbulkan luka lahir maupun batin.

Suatu aksi terror yang sangat cantik dimainkan oleh pihak yang sampai saat tulisan ini dibuat belum terungkap kepastian pelakunya. Siang menjelang sore, presiden RI terpilih memberikan pernyataan didepan pers mengenai adanya terror lain yang merencanakan penembakan atas dirinya apabila ia terpilih kembali menjadi presiden. Pernyataan tersebut dibuat berdasarkan hasil penyelidikan BIN, sambil menunjukkan gambar dirinya yang dijadikan target tembakan di depan media untuk dikonsumsi secara umum. Teori konspirasi lain bermain lagi dalam situasi seperti ini, dari JFK hingga SBY. Berapa banyak lagi inisial yang akan muncul di benak khalayak? Jamaah Islamiah (JI), Noordin (M) Top, Manchester United (MU), JW Marriot. Ini pesta demokrasi atau kembang api? Saya suka kejutan, bahkan saya cenderung berkata “surprise me!”, tapi terror? Apa kurang cukup terror kemiskinan, terror konsumerisme, terror degradasi nilai.

Saya pun terduduk lemas membenci mengutuk dan mencaci maki dalam hati. Mau dijejali apalagi manusia-manusia bangsaku kelak? Setelah seperkian hari saya lalui wajah-wajah manusia yang sering saya coba raih jalan pikirannya, tercecer di pinggir jalan ibukota. Ada wajah kosong terduduk di bawah pohon menunggu orang menghampirinya dan berkata, “Bu teh botolnya satu!”. Ada wajah histeris tak berdaya merengek, ketika rumah mereka di kolong jembatan di rubuhkan paksa oleh petugas kambtib. Ada wajah melotot berteriak ngotot, “Kurang nih, sekarang tarifnya naek jadi jauh deket dua rebu”. Ada teriakan tawa canda dua pasang muda mudi berboncengan tanpa helm saling berlomba menarik gas motor baru milik orang tua mereka yang belum lunas kreditnya. Bagi mereka, ledakan bom tidak lebih meneror jika dibandingkan dengan bunyi keroncongan perut mereka yang hanya terisi nasi bungkus tahu tempe seharga lima ribu rupiah, karena penghasilan 20 ribu sehari mereka harus bisa memberi makan 4 kepala.

Ada saya yang akhirnya memutuskan untuk segera mengenakan sneakers saya dan berlari, berlari sekuat-kuatnya, melompati selokan-selokan besar berbau amis, menghindari kendaraan-kendaraan serakah yang tak mau kalah oleh kemacetan yang mengambil trotoar. Menerobos asap kenalpot, bunyi-bunyi mesin kendaraan, tali dan tiang-tiang pancang warung kaki lima, dalam dentuman double pedal Agony Scene, Paint It Black…

Harapan, Keyakinan, dan Ketabahan

Apakah harapan itu, sebagaimana dikira banyak orang berarti menghendaki dan menginginkan? Jika demikian, orang yang menginginkan mobil, rumah dan perkakas yang lebih banyak dan lebih bagus lagi dapat disebut sebagai orang yang berharap.
Apakah disebut harapan jika objek harapan itu bukan berupa sesuatu (benda) melainkan kehidupan yang lebih bermakna, suatu kondisi hidup yang lebih menyenangkan, bebas dari kejenuhan yang berkepanjangan atau — dalam istilah teologis — untuk keselamatan atau dalam istilah politik — untuk revolusi? Memang dalam hal ini dapat dikatakan harapan. Akan tetapi itu semua bukan harapan jika mengandung sifat kepasifan dan “menunggu untuk”.
Harapan merupakan unsur yang sangat penting dalam setiap upaya mengadakan perubahan sosial agar menjadi lebih hidup, lebih sadar dan lebih berakal. Akan tetapi watak harapan sering disalahpahami dan dirancukan dengan sikap tidak bekerja, padahal kenyataannya tidak demikian.

Berharap adalah pernyataan manusia. Ia merupakan kesiapan batin, ia intens tetapi belum merupakan keaktifan. Harapan merupakan aspek psikis untuk hidup dan tumbuh. Jika pohon tidak mendapatkan sinar matahari, maka batang itu membelok ke arah dimana sinar itu datang. Kita dapat mengatakan bahwa pohon berharap dengan cara yang sama seperti manusia, tetapi harapan pada manusia dihubungkan dengan perasaan dan kasadaran yang tidak dimiliki pohon. Dan, sekalipun tidak akan disalahkan mengatakan bahwa pohon berharap akan sinar matahari dan mengungkapkan harapan ini dengan membelokkan batang ke arah matahari. Apakah itu berbeda dari arah yang dilahirkan? Bukankah orang sakit berharap untuk sehat, narapidana berharap untuk bebas, orang lapar berharap makan? Bukankah bercinta mengimplikasikan harapan manusia terhadap potensinya, terhadap kemampuannya untuk membangkitkan partnernya, dan harapan perempuan untuk merespon dan membangkitkan dia?

HARAPAN DAN WATAKNYA
Harapan itu bersifat paradoks. Harapan bukanlah menunggu secara pasif juga bukan pemaksaan yang tidak realistis terhadap keadaan yang tidak bisa dilakukan. Ia seperti harimau yang diringkus, yang akan melompat hanya jika waktunya untuk melompat tiba. Berharap berarti siap setiap saat terhadap apa yang belum lahir, dan tidak menjadi sedih jika tidak ada kelahiran dalam hidup kita. Tidak ada kesadaran dalam berharap terhadap apa yang sudah atau apa yang yang tidak akan mungkin ada. Orang yang mempunyai harapan kurang berminat terhadap kenikmatan atau kejahatan; orang yang mempunyai harapan memandang dan sangat menghargai semua tanda-tanda kehidupan baru dan selalu siap membentuk kelahiran apapun yang bisa dilahirkan.

Diantara kebingungan-kebingungan tentang harapan, salah satu yang paling gawat adalah kegagalan membedakan antara “harapan yang sadar dari “harapan yang tidak sadar”. Ini suatu kesalahan, utama yag terjadi dengan memandang pada beberapa pengalaman emosional lain, seperti kebahagiaan, kecemasan, kejenuhan dan kebencian. Salah satu contoh; kebanyakan orang tidak mengizinkan diri mereka sendiri merasa ketakutan, kejenuhan, kesepian dan ketidak berdayaan – dapat dikatakan bahwa semua itu adalah alam tidak sadar perasaan-perasaan ini. Ini merupakan alasan yang sangat sederhana. Dalam pola sosial kita, orang yang sukses tidak dihantui oleh perasaan takut, jenuh atau sepi. Dia harus menemukan dunia yang lebih baik dari semua dunia ini, agar dapat berubah menjadi lebih lebih baik dia harus menekan ketakutan sebagaimana keraguan, depresi, kejenuhan dan ketidakberdayaan.

Banyak orang yang secara sadar merasa penuh harapan dan secara tidak sadar putus asa; dan ada beberapa orang yang mempunyai cara lain. Apa yang menjadi masalah dalam menguji harapan dan keputusasaan bukan terutama pada apa yang dipikirkan oleh orang tentang peranan-peranan mereka, melainkan pada apa yang benar-benar mereka rasakan. Ini dapat dilihat paling tidak dari kata-kata dan ungkapan-ungkapan mereka, juga dapat dideteksi dari ekspresi-ekspresi wajah mereka, cara mereka berjalan, kemampuan mereka untuk mencapai sesuatu yang mereka inginkan, yang ada di depan mata mereka dan kurangnya sikap fanatik tampak dalam kecakapan mereka untuk mendengarkan argumen yang rasional.

KEYAKINAN
Jika harapan sirna, maka secara aktual maupun potensial, kehidupan pun musnah. Harapan adalah unsur instrinsik struktur kehidupan, dinamika spirit manusia. Harapan berhubungan erat dengan unsur lain dari struktur kehidupan: yakni keyakinan (faith). Keyakinan itu bukan bentuk lemah dari kepercayaan atau pengetahuan. Ia juga bukan merupakan keyakinan terhadap ini atau itu. Keyakinan adalah kepastian terhadap yang belum terjamin, pengetahuan tentang kemungkinan riil, kesadaran akan “kehamilan”. Keyakinan itu adalah rasional apabila ia menunjuk pada pengetahuan dari kenyataan yang belum dilahirkan; ia didasarkan pada kemampunan untuk mengetahui dan memahami, kemampuan untuk menembus permukaan dan melihat intinya. Seperti harapan, keyakinan bukan prediksi masa yang akan datang; ia adalah visi saat ini, dalam keadaan “kehamilan”. Pernyataan bahwa keyakinan sebagai kepastian memerlukan kualifikasi, itu adalah kepastian tentang realitas dari kemungkinan – tetapi bukan kepastian dalam arti ramalan yang dapat dipersoalkan. Anak mungkin dapat dilahirkan secara prematur; ia mungkin mati dalam proses kelahiran; ia mungkin mati dalam dua minggu pertama dalam kehidupan. Itu bertentangan dengan keyakinan: ia adalah kepastian dari ketidakpastian. Keyakinan, dalam pengertian visi dan pemahaman manusia, merupakan suatu kepastian. Tetapi dalam kenyataannya bukan merupakan suatu kepastian.

Ada pemisahan antara keyakinan yang rasional dan keyakinan yang irrasional. Sementara keyakinan yang rasional adalah hasil dari aktivitas batin seseorang sendiri, dalam pemikiran atau perasaan, keyakinan yang irrasional tunduk terhadap sesuatu hal dimana seseorang menerimanya sebagai kebenaran tanpa mempedulikan apakah itu benar atau tidak. Unsur pokok semua keyakinan yang irrasional adalah karakternya yang pasif, objek pemujanya, pemimpin atau ideologinya. Bahkan seorang ilmuwan harus bebas dari keyakinan irrasional dalam pemikiran kreatifnya.

Harapan dan keyakinan menjadi kualitas-kualitas hidup yang essensial, watak alamiahnya bergerak ke arah yang melampaui status quo, baik secara individual maupun secara sosial. Ia merupakan salah satu kualitas dari seluruh kehidupan di mana ia berada dalam proses perubahan terus-menerus dan tak pernah memperthankan momen-momen yang sama. Kehidupan yang stagnan cenderung mati. Jika mengalami kemacetan total, maka kematian telah berlangsung. Sebaliknya, kehidupan yang kualitasnya bergerak cenderung mendobrak dan mengatasi status quo. Kita tumbuh menjadi lebih kuat atau lebih lemah, lebih bijaksana atau lebih bodoh, lebih berani atau menjadi pengecut. Setiap saat adalah suatu momen keputusan untuk lebih baik atau lebih buruk. Kita “memberi makan” kepada kemalasan, keserakahan dan kebencian atau membiarkan mereka “kelaparan”. Sebagian dari kita ada yang memberi makan kepada mereka dan dengan demikian membuat lebih kuat, sementara yang lain membiarkan mereka kelaparan dan dengan demikian membuat mereka menjadi lemah.

Apa yang dianggap benar bagi individu dianggap benar pula bagi masyarakat. Ia tidak pernah berhenti. Jika ia tidak tumbuh, ia akan hancur. Jika ia tidak melampaui status quo untuk lebih baik, maka ia akan berubah menjadi buruk. Sering kita, baik individu maupun orang-orang yang membentuk masyarakat, mempunyai ilusi bahwa kita dapat menahan kesunyian dan tidak merubah situasi dari arah yang satu ke arah yang lain. Ini merupakan salah satu ilusi yang berbahaya. Pada saat kita menahan kesunyian, kita mulai rapuh.

KETABAHAN
Ada unsur lain yang berhubungan dengan harapan dan keyakinan dalam struktur hidup: keberanian (courage) atau apa yang dinamakan Spinoza “ketabahan” (fortitude). Ketabahan mungkin merupakan ungkapan yang kurang ambigu, karena dewasa ini kata “keberanian” sering digunakan untuk mengungkapkan keberanian untuk mati daripada keberanian untuk hidup. Ketabahan merupakan kemampuan untuk melawan perjuangan, untuk memadukan antara harapan dan keyakinan dengan mentransformasikan mereka — dan dengan demikian merusak mereka — ke dalam optimisme kosong atau keyakinan irrasional. Ketabahan adalah kemampuan untuk mengatakan “tidak”, ketika dunia ingin mendengarkan “ya”.

Tetapi ketabahan tidak bisa dipahami tanpa kita menyebutkan terlebih dahulu aspek yang lainnya: ketidaktakutan (fearless). Orang yang tidak takut tidak khawatir terhadap ancaman-ancaman, bahkan terhadapa kematian. Akan tetapi sedemikian sering kata “tidak takut” menyelimuti sikap-sikap yang sama sekali berbeda.

Pertama, seseorang bisa menjadi tidak takut karena dia tidak memperhatikan hidup; hidup tidak bermakna bagi dia, dengan demikian ia akan ketakutan di kala ia didatangi bahaya kematian; tetapi ketika dia tidak takut terhadap kematian, dia mungkin takut terhadap kehidupan. Dalam kenyataannya, dia sering mencari situasi-situasi yang berbahaya untuk menghindarkan ketakutannya dari hidup, baik terhadap dirinya sndiri maupun terhadap orang lain.

Kedua, ketidaktakutan orang yang hidup dalam ketundukan simbolik terhadap berhala, terhadap seseorang, lembaga atau ide-ide tertentu. Perintah-perintah berhala dikeramatkan. Mereka jauh lebih memaksa daripada memerintahkan untuk mempertahankan kehidupan jasmaniahnya. Jika dia membangkang atau meragukan perintah-perintah berhala ini, maka dia akan menghadapi bahaya kehilangan identitasnya dengan berhala. Ini berarti dia meninggalkan resiko menemukan dirinya dalam keterasingan total dan, dengan demikian, diambang pintu kegilaan. Dia menghendaki mati karena dia takut menampakkan dirinya sendiri terhadap bahaya ini.

Ketiga, ketidaktakutan orang-orang yang berkembang secara penuh, orang yang bersandar pada dirinya sendiri dan mencintai hidup. Pribadi yang telah mengatasi sifat serakah tidak berpegang teguh terhadap berhala atau benda dan dengan demikian tidak mempunyai perasaan kehilangan: dia kaya karena dia kosong, dia kuat karena dia bukan budak nafsunya. Dia dapat meninggalkan berhala-berhala, hasrat-hasrat irrasional dan fantasi-fantasinya karena dia berhubungan dengan penuh realitas, disamping, dan diluar dirinya sendiri. Jika seseorang. Jika seseorang telah mencapai “pencerahan” semacam ini, maka dia sudah “tidak takut” dalam arti sebenarnya. Jika ia bergerak menuju arah ini tanpa berusaha hadir, ketidaktakutannya tidak akan sempurna. Akan tetapi seseorang yang mencoba bergerak menuju pada status menjadi dirinya sendiri sepenuhnya, mengetahui bahwa kapanpun langkah baru menuju ketidaktakutan diciptakan , sadar akan kekuatan dan kenikmatan yang dibangkitkan itu tidak dapat ditiru. Dia merasa bahwa fase hidup baru telah dimulai. Dia bisa merasakan kebenaran apa yang dikatakan Goethe: “Saya telah meletakkan rumahku diatas kehampaan, karena seluruh dunia adalah milikku”.

MENGHANCURKAN HARAPAN
Jika harapan, keyakinan dan ketabahan merupakan hal yang intrinsik dalam kehidupan, bagaimana dengan orang-orang yang kehilangan harapan, keyakinan dan ketabahannya dan mencintai perbudakan dan ketergantungannya? Adalah pasti bahwa kemungkinan kehilangan ini merupakan karakteristik eksistensi manusia. Kita memulai perjalanan dengan harapan, keyakinan dan ketabahan – hal-hal ini merupakan alam tak sadar, non pemikiran, tetapi ketika kehidupan dimulai, maka perubahan lingkungan dan aksiden pun mulai mempengaruhinya, mendukung atau menghambatnya.

Kebanyakan kita berharap untuk dicintai, tidak saja hanya untuk dimanjakan dan diberi makan tetapi untuk dipahami, dipelihara dan dihormati. Kebanyakan kita berharap bisa mempercayai. Ketika kita hanya memiliki sedikit pengetahuan, kita belum mengetahui tentang kedustaan manusia, bukan hanya mengenai dusta dengan kata-kata, melainkan juga dusta dengan suara seseorang, gerak-gerik, kerlingan mata seseorang dan ekspresi wajah seseorang. Kita sering dikejutkan oleh kenyataan bahwa orang sering tidak mengerti maksud apa yang mereka katakan, atau orang yang mengatakan sesuatu berlawanan dengan apa yang mereka maksudkan. Dan tidak hanya orang pada umumnya, melainkan orang-orang kita percaya, seperti orang tua kita, guru kita dan pemimpin kita.

Beberapa orang memalingkan wajah mereka ke tempat di mana perkembangan harapan-harapan mereka dikecewakan, bahkan dirusak sama sekali. Mungkin hal ini ada baiknya juga. Jika seseorang tidak pernah mempunyai pengalaman tentang kekecewaan harapan mereka, bagaimana ia menjadi kuat dan tak terpadamkan? Bagaimana dia bisa mengelak dari bahaya menjadi pemimpi yang optimistik? Tetapi di lain pihak, harapan sering dihancur-lumatkan, sehingga orang tidak dapat menemukannya lagi.

Dalam kenyataannya, respon dan reaksi terhadap penghancuran harapan sangat kuat, tergantung pada keadaan historis, personal, psikologis dan institusional. Beberapa orang mungkin tidak mengalami kekecewaan , karena mereka menyesuaikan optimisme umum yang mana mereka mengharapkan yang lebih baik tanpa bersusah payah mengakui bahwa bukan kebaikan tetapi mungkin kejelekan bisa terjadi. Selama masing-masing orang tidak bersedih, masyarakat tidak bersedih pula. Dan daripada merasakan keputusasaan, mereka tampak berpartisipasi dalam jenis konser pop.

Akibat lain dari penghancuran terhadap harapan adalah “pembekuan hati”. Kita menyaksikan orang-orang – dari anak-anak yang nakal sampai orang dewasa yang keras kepala – yang pada suatu saat kehidupan mereka, tidak bisa berdiri untuk dilukai lagi ; bahwa tidak ada seorang pun yang pernah melukai mereka , tetapi mereka akan dapat melukai orang lain. Mereka mungkin bingung mengenai nasib buruk karena tidak menemukan teman atau siapapun yang mencintai mereka. Dalam keadaan bingung dan hampa, mereka tidak dapat menyentuh maupun disentuh oleh siapa pun. Keberhasilan mereka dalam hidup bukan untuk membutuhakan seseorang. Mereka mengambil kebanggaan dalam kenyataan bahwa mereka tidak dapat dihinakan. Secara sederhana mungkin mereka menemui seseorang dalam perhatian dan keprihatinan yang mereka yakini, dan merupakan dimensi baru dari perasaan yang terbuka. Jika mereka beruntung, mereka tidak mengalami kebekuan total dan secara bersamaan benih-benih harapan yang nampaknya telah dihancurkan, mendatangi kehidupan.

Akibat lain yang lebih trasis dari penghancuran terhadap pengharapan adalah munculnya tindakan-tindakan destruktif dan kekerasan . Justru karena manusia tidak dapat hidup tanpa harapan, orang yang hancur harapannya akan membenci hidup. Karena dia tidak dapat menciptakan hidup, maka dia ingin menghancurkannya.

Biasanya reaksi destruktif karena hancurnya harapan terdapat diantara orang-orang yang terdepak dari kesenangan-kesenangan mayoritas dan tidak mempunyai tempat baik secara sosial maupun ekonomis, karena alasan-alasan sosial atau ekonomis. Berbicara secara psikologis, tindakan-tindakan destruktif merupakan alternatif dari harapan, sedangkan ketertarikan terhadap kematian merupakan alternatif dari cinta terhadap hidup. Dan kenikmatan merupakan alternatif dari kejenuhan.

Individu tidak hanya hidup dengan harapan. Bangsa dan kelas sosial hidup melalui harapan, keyakinan dan ketabahan, dan jika mereka kehilangan potensi ini akan tenggelam – juga karena kekurangan mereka akan vitalitas atau perusakkan irrasional yang mereka kembangkan. Harapan, keyakinan dan ketabahan merupakan hal yang intrinsik dalam kehidupan.

Yang perlu dicatat dari kenyataan, bahwa perkembangan harapan atau keputusasaan dalam individu secara luas ditentukan oleh kehadiran harapan dan keputusasaan dalam masyarakat atau kelasnya. Bagaimana pun harapan akan individu yang hancur mungkin telah terjadi pada masa kanak-kanak, jika ia hidup dalam suatu periode harapan dan keyakinan, maka harapannya sendiri akan dikobarkan. Di lain pihak, orang yang mempunyai pengalaman yang menyebabkan dia penuh harapan akan cenderung ditekan dan putus asa ketika masyarakat dan kelasnya telah kehilangan spirit harapan.***

Mantra Opera Jawa

Mari kita merenung lagi, agar terpisah hasrat, agar memutih mimpi

Dua hari saya bersama film tembang “Opera Jawa” Garin, dan potongan-potongan “Perempuan Punya Cerita”. Iya, saya perempuan, begitu dekat tergambarkan dalam cerita-cerita berlatarkan kisah yang berwarna. Baiklah, saya perempuan Jawa, begitu lekat dengan bahasa ibu, seperti tertidur dipangkuan beliau bermanja dengan nasihat tentang nilai-nilai hidup yang bijak. Lebih lanjut, perempuan jawa yang terlahir di kota metropolis dengan referensi modernisme bentukan media, pergaulan sosial, dan pengalaman indera.

Lalu saya lari dari pulau Jawa ke Australia seperti tikus buta, tapi dalam cerita fable kali ini kami tidak berempat, hanya saya sendiri. Berbekal sebutan “perempuan Jawa yang lahir dan besar di Jakarta dan tak tau mengapa sekarang berada di Australia” saya hanya mau menikmati indahnya rima akhir dari 3 tempat tersebut yang ternyata sama bila diucapkan bersamaan. Terdengar ngga penting, tapi saya selalu mencintai hal-hal kecil yang menarik untuk dikulik dan dimengerti. Mungkin dulu saya adalah titisan pengkolektor serangga langka, hingga berhobi seperti ini.

Perjalanan mencari kebijakan, biasanya pasti berujung dalam cerita klise yang membosankan. Hah, saya pun tak pernah peduli karena saya masih mencintai mimpi, mimpi yang tak perlu saya ucapkan, mimpi yang saya hayati dalam hati dan saya tanamkan dengan sungguh sungguh karena bagi saya eksistensi itu hanya basa basi dan pada dasarnya manusia memang selalu menyukai basa basi, saya mau jadi kancil sajah untuk urusan yang satu ini. Mencoba untuk mendalami apa nilai-nilai penggerak tingkah laku dan sikap manusia dalam bertahan hidup sebagai mahluk sosial di lingkungannya, seperti mahmoot yang bertanya-tanya mengapa bumi harus bergejolak dari jaman es menjadi jaman reptil.

Dalam potongan film tersebut mucul simbol-simbol tentang kuasa, dan hasrat yang begitu manis terlekatkan dalam sosok perempuan. Tidak heran apabila kemudian terlahir istilah, “Harta, Tahta, dan Wanita” yang akhirnya mungkin malah sedikit membingungkan interpertasi terhadap peranan perempuan di dalam kehidupan sosial. Apakah istilah itu mengangkat drajat perempuan, atau malah hanya menjadikan perempuan sebagai objek yang harus diraih dan dimiliki. Saya mungkin hanya bisa sedikit menceritakan interpertasi perempuan dalam film yang saya sebut diawal, hanya sebuah catatan ini persepsi saya, jadi harap maklum seandainya berbeda dengan anda.

Dimulai dari perempuan bernama Siti dalam lakonnya sebagai Shinta, penggambaran perempuan sebagai pengendali sekaligus pencipta hasrat, karena dalam plot cerita yang mengadaptasi kisah Ramayana ini, Siti adalah Shinta yang disepuh dalam kemasan kekinian. Oya, kekinian disini bukanlah modernitas yang tergambarkan oleh sosok perempuan berstelan blazer menenteng tas berlogo LV, rambut rapi dari salon, keluar dari mobil dan masuk ke gedung perkantoran di SCBD Sudirman. Tapi kekinian disini adalah sosok istri seorang pengrajin tembikar di sebuah desa terpencil di Jogjakarta dengan rambut hitam panjang terurai, bedaster lusuh dibawah lutut, menenteng periuk nasi dari bambu, bersepeda ontel, dan mencintai tari.

Siti dan Setyo, dua insan yang “gandrung” dalam ikatan pernikahan dengan buntut-buntut kesetiaan, pengabdian, perjuangan, pengorbanan. Dalam kisah ini Siti menanggalkan kesenangannya menari semenjak ia menikahi Setyo, sebagai bentuk penghargaan terhadap sang suami. Saya tidak akan menceritakan secara detail plot film ini, karena film dan resensinya sudah bisa di streaming dan dibaca dimana-mana. Film ini terasa begitu dekat dengan saya, karena dialog yang dibawakan dalam tembang bahasa Jawa bisa dengan mudah saya mengerti. Dan lagi nilai tentang hidup, manusia, kekuasaan, pergolakan batin, dan politisasi rasa, bisa dengan cantik dimainkan oleh beragam simbol dan elemen-elemen seni yang melekat hampir disemua unsur film.

Aduh, saya ngapain sih, seharusnya saya ngga perlu menginterpertasikan film itu sejauh ini, terasa ribet jadinya, padahal enakan nonton santai ngga usah mikir sambil ngemil indomi kering. Hahahaha, yah mungkin itu tadi, bawaan reinkarnasi dan alam eksitensi yang mengkumat. Dan lagi saya hanya tertarik pada penggkarakteran Siti yang bukan Shinta. Siti yang kuat, dengan refleksi tarik ulur nakal permainan batin kesetiaannya terhadap Setyo untuk kemudian dia ubah menjadi antithesis amarah dan jejakan yang mendorong Ludiro a.k.a Rahwana mepet ke tembok hingga Ludiro mewek ke simboknya karena patah hati.

Siti tegas lugas mencoba mempertahankan kesejatiannya sebagai perempuan yang memperjuangkan harga dirinya. Disini sisi lemah lembut perempuan tidak ditinggalkan, tapi justru melengkapi dan memanusiakan sang perempuan itu sendiri, manis, karena siti sangatlah sadar bahwa dirinya sangat perempuan. Lucunya si Setyo, malah tidak bisa menerima kenyataan bahwa Siti itu hanya manusia bernama “perempuan”, ia begitu terperangkap pada kekaguman dan keagungan konsep Siti sebagai malaikat, tanpa nafsu, tanpa hasrat, tanpa keinginan, tanpa ambisi, dan tanpa gejolak. Setyo pun enggan beranjak dari keterbutaannya dan berambisi untuk selalu memiliki Siti dalam wujud yang telah tertanam di dalam benaknya. Ambisi yang mendorongnya membelah rongga dada siti dengan belati, untuk menggambil hatinya, agar tetap terjaga sebagaimana ia mau, diawetkan di dalam toples.

Selera Bangsa Terjajah

Sudah lama saya tidak menulis, tidak juga membaca. Saya pun buta, kata orang buta mendadak itu biasanya karena cinta, yah untuk hal yang satu itu mungkin sudah menjadi cerita biasa dari jaman ken arok dan ken dedes. Tapi saya ingin menulis lagi, bukan karena saya buta mendadak tapi karena saya baru saja kriyep-kriyep mengerjapkan mata melek melihat sisi dunia yang lain. Suatu ketika saya pernah menulis tentang monopoli visual dan selera bangsa terjajah,yang isinya curhatan ringan tentang konstruksi fisik wanita di era modern.

Tadi sore saya terduduk kulai di kursi tunggu stasiun clayton, berdiskusi kecil dengan teman sekamar saya tentang krisis kepercayaan diri wanita Indonesia sebagai perwakilan dari kaum wanita dunia ketiga atau bisa dibilang negara berkembang di ranah belantara budaya barat. Berhubung kami berdua tinggal di Australia jadi diskusi di persempit seputar pandangan kami tentang apa yang ada di kepala wanita seperti kami ketika berfikir untuk membuka hubungan dengan pria “bule”.

Teman saya ini memulai percakapan dengan melontarkan pernyataan bahwa dirinya merasa tersanjung setelah sahabat karibnya yang mahasiswa asing (catatan asing disini bukan india, bukan asia, dan bukan afrika-koq saya jadi terdengar rasis ya) menyatakan perasaannya pada teman saya ini. Kalau untuk istilah remaja Jakarta “nembak” lah. Lalu saya cerita tentang krisis percaya diri yang saya alami ketika mencoba membuka hubungan dengan pria-pria ber”ras” caucasian. Ada perasaan minder karena bagi saya mereka semua terlihat keren dan tampan. Kondisi tersebut bisa jadi dilatarbelakangi oleh pengalaman saya yang belum belum pernah pergi atau tinggal di luar negeri sebelumnya (ini tentu tidak menjadi masalah bagi teman diskusi saya yang SMP dan SMA nya dia habiskan di Sydney).

Rasa ketidak PD-an ini kemudian berkembang pada anggapan dalam diri saya bahwa sosok pria-pria bule tersebut adalah artis-artis idola yang dulu hanya bisa saya nikmati melalui layar TV dan layar lebar. Lucunya, ketika saya mulai menginjakan kaki di tanah jajahan Inggris ini, konstruksi pikiran saya pun memberikan sinyal bahwa sekelompok anak muda yang berdiri di pojokan stasiun adalah anggota band Blink 182, lalu cowok-cowok berkaos singlet, dengan celana pendek putih yang ngobrol di kereta tadi adalah Backstreet Boys, atau laki-laki yang terduduk di pojok kereta dengan stelan necis, earphone terpasang adalah sosok Ricky Martin.

Parahnya lagi, ketika saya mulai dapet kenalan online via myspace yang berlanjut lewat chatting-chatting YM, dan mereka mulai mengajak untuk kopdar (kopi darat) saya pun jadi takut setengah mati. Bukannya apa-apa, saya masih ngga tau bagaimana menghadapi dominasi persepsi “laki-laki bule=keren banget=seleb” di benak saya. Sayapun jadi mengalami keterpisahan budaya atau istilah kerennya:culture lag. Bener-bener ngelag, seperti laptop saya yang baru saja terserang spyware.

Nike & Adidas, Philosophy in Between

“And a man said, speak to us of self-knowledge, the hidden well-spring of your soul must need rise and run murmuring to the sea. And the treasure of your infinite depths would be revealed to your eyes. But let there be no scales to weight your unknown treasure. And seek not the depths of your knowledge with staff or sounding line. For self is a sea boundle and measureless.” (Kahlil Gibran, The Prophet)

Why there should be a distinction and difference. Why God created difference in every creatures and make distinctions in them. God must have a good purpose on it. I think some of the reasons are to make everything run in their own roles. Why God created the sun different from the earth? It is because the earth has a role to become a place for the human kind, animals, plants and any creatures to live. And the sun runs its function as a solar system in the universe. As a human we have an obligation to sharpen our mind so that we can keep thinking in the correct way in the correct form.

God had endowed mankind a brain that will bring and idea after the process of thinking. Thinking is an activity when a person talks to their self and deals with their ideas. Thinking is the root for human to be able to do something. The thinking process effect the whole idea of living itself, because in live we are faced by choices that we had to decide using our brain. In the brain all our consideration are carefully selected in the process of thinking. So it is necessary for us to learn distinction and difference in every side of this life, to think which one is correct, and which one is not because it will help us in making a good analysed.

We called it distinction when two things is not identical but still have the same form or shape and we called it differentiation when two things are not similar in its form and shape. Two things called identical, when one is another. And two things or more called similar whenever they are matched in form. When two things are similar in their reality (complete or not complete), the relations between both of them called logic identity. Whenever two things the same in quantity, the relations comes to equality.

DISTINCTION CAN BE DEVIDED IN TO:

  1. REAL DISTINCTION is the distinct between two realities that had already or just recently exist. The sign that indicate this distinction is one can transform without transforming the others, if both were to be separate each can still stand by itself, one thing is the result of the other and when in both hold a contradiction with each other.
  2. LOGIC DISTINCTION is the distinct between two concepts but in the same reality. That two concept can be both hold the same opinion or hold separate opinion. The concept is made by subjective reason; May is unanimity and become one identity. Logic distinction can be divided into logic distinction with reality base and logic distinction without reality base.
  3. FORMAL DISTINCTION is an illegible concept from the same thing that didn’t depend from the thought.
  4. VIRTUAL IMPLICIT DISTINCTION is formulated because God’s special characters that contains inside when it’s included in God’s creatures it will be up against each other, this distinctions only point to intern relations, didn’t say that that “inside God contain or can contain an opposites special character and unique character that only God have.
  5. CAPITAL DISTINCTION is when two thing are separated will cause one of those thing missing.

MAKING IMPORTANT DISTINCTION

One of the best way to over come confusion about ideas is to make important distinction; that is, to avoid lumping all considerations together indiscriminately. The following distinction is the most often overlooked.

Distinction between the person and the idea. When we want to see someone idea we have to free our mind from one side thinking. Don’t let our mind influence only by a person formed stereotyped. For example: our reaction to a sentence beginning “Adolf Hitler said…” would probably be different from our reaction when we read about a sentence that begin with “Winston Churchill said…” In the first sentence we might not even continue reading. At the very least we would read with great suspicion; you’d be ready to reject what was said. Those things happened because we are difficult to set them aside. In one sense, we shouldn’t set them aside. Yet in another sense, we must set them aside to be a good thinker.If we do not check we tendency to accept or reject ideas on the basis of who expresses them, we analysis of everything we read and hear is certain tube distorted. We will judge arguments on whether the speaker is of our race, religion, or political affiliation or whether we like his or her hairstyle. To guard against confusing the person and the idea, be aware of our reactions to people and try compensating for them. That is, listen very carefully to people you are inclined to like.

Distinctions between matters of taste and matters of judgment. Expressions of taste describe internal states and preferences. Expressions of judgment are assertions about the wisdom of a course of action. In matters of taste we may express our personal preferences without defending them. In matters of judgement, however, we have an obligation to provide evidence. Many people confuse taste and judgement. They believe their right to hold an opinion is a guarantee of the opinion’s rightness. This confusion often causes people to offer in adequate support for views that demand support. Keep in mind that whenever someone presents an opinion about the truth of an issue or the wisdom of an action –that is, whenever someone present an opinion about the truth of an issue or the wisdom in action, that is whenever someone present a judgment you not only have aright to judge his or her view by the evidence, you also have an obligation to do so.

Distinctions between fact and interpretation. A fact is something known with certainty, something either objectively verifiable or demonstrable. An interpretation is an explanation of meaning or significance. In much writing, facts and interpretations are intertwined. It is not always obvious where one leaves off and the other begins. The danger in failing to distinguish between fact and interpretation is that we will regard uncritically statement that ought tube questioned and contrasted with other views. If the habit of confusing the two is strong enough it can paralyse our critical sense.

Distinctions between literal and ironic statement. Literal means said according to real fact and to affirmative about something, but sometimes a writer makes a point by saying the exact opposite of what he or she meant using irony or satire. A writing using a tongue-in-cheek statement instead of a normal-plain direct statement can be more biting and therefore more effective. The alert to the subtlety in order to not misread are necessary. If you don’t, than the message you receive will be very different from the message that has been expressed. You interpretations about the message will be false and you will fail to respond to the message correctly.

Distinction between an idea’s validity and the quality of its expression. The way an idea is expressed can influence people’s reaction. Eloquent expression tends to excite a favourable response, just as lifeless, inarticulate, error-filled expression prompts a negative response. People tend to judge by the first thing or stuck in the most appealing object and later it will be use as a base in digesting the message. If you had high awareness about how expression can be deceive which mean to make special effort to separate form from its contents before judging than you can surely catch the meaning and content of a message.

Along time ago maybe we don’t need any sophisticated applications in our shoes. We only need shoes to protect our feet. But human will not called human if they are not try to innovate in order to fulfil their unsatisfied needs. For the shoes brand name such as Nike and Adidas who have already become the most well known shoes trademark. They always make an effort to win the international market by increasing the quality of their product; they compete to launch their most up-to-date product and enhance their industrial unit to take apart in almost every country. They also sponsored many sports events.

The Nike shoes is the popular one, it has unique characters that make it different from other products. Comes from the simple sentence “Just do it” have brought Nike not as simple as it’s looks. Only by see a simple symbols like this Nike has, we will directly recognize that was belongs to Nike brand. Nike itself has its improvement compared with the other brand because Nike is famous for its Air, so Nike has the courage to launch Air Jordan. From it’s colours Nike never afraid to innovate new colours that match with the teenagers style. Nike is the most productive shoes brand. Because Nike always tries to fulfil the teenagers needs. It can be seen from the product that has been released. They all cool, stylist, comfortable, look great in any feet, and make you fly.

Adidas brand has its own way to confront with Nike’s product. In promoting its product, Adidas used a fresh Basketball star “Kobe Bryant”, different from Nike that used an Old Legend Basketball star like Michael Jordan. The symbols that become Adidas trademark is a two line that divide a triangle. Adidas is popular for its football shoes and also capable in launching cross-training shoes because its persist in the clutch of its under sole. There are few words to describe Adidas, it is strong, interminable, old-fashioned, motionless, and inactive.From the example above we can see that there is a Real Distinction between Nike and Adidas.

The symbols that used by Nike and Adidas as a trademark, we can conclude that only by seeing those symbols we will directly recognise which brand it is. The reality that only by heard “Air”, we will immediately know that it is a Nike product, and only by heard “Torsion”, we will know that it is belong to Adidas.The Logic Distinction can be seen by my own explanation to the Nike’s product. For me Nike’s shoes are shoes that fixed with the youngsters needs, the form is stylish, fashionable, chic, and modish.

It will be different if we see Nike from the adult’s concepts of thinking. They give an interpretation to Nike as a too sophisticated shoe. Because the models are not as usual as shoes in common. The colour also doesn’t match to their style and age. That is why there is a logic distinction to the Nike concepts in everybody mind’s. Because And the Formal Distinction comes from the price of both products. The Nike’s price almost more that one million rupiahs in each item. But for Adidas the price comes from two hundred thousand until eight hundred thousand rupiahs. Because the formal distinction is point to attend between concept that had a certain condition about something identical and it doesn’t depend on mind.

The Difference, will come if we compared shoes with the sandals that is completely different. The shoes has its own functions for do exercise, for examples. This part of the case is point to the Virtual implicit distinction. The distinction of something that god have in which that is a special character that contain inside but when it exist in god creature it will be up against each other. As we know that “Man’s being is made of such strange stuff as to be partly a kind to nature and partly not, at once natural and extra natural, a kind of ontological centaur, half immersed in nature, half transcending it.” (Jose Ortega y Gasset). God had created human and animal, that some part of them have a similarity. Especially when we see from the biological desires. And the distinction between human and the animal can be identify from both of their basic differences such as ability to be aware of things and to think and reason, originating on the brain that only have by the human And the animal doesn’t have that.