Harapan, Keyakinan, dan Ketabahan

Apakah harapan itu, sebagaimana dikira banyak orang berarti menghendaki dan menginginkan? Jika demikian, orang yang menginginkan mobil, rumah dan perkakas yang lebih banyak dan lebih bagus lagi dapat disebut sebagai orang yang berharap.
Apakah disebut harapan jika objek harapan itu bukan berupa sesuatu (benda) melainkan kehidupan yang lebih bermakna, suatu kondisi hidup yang lebih menyenangkan, bebas dari kejenuhan yang berkepanjangan atau — dalam istilah teologis — untuk keselamatan atau dalam istilah politik — untuk revolusi? Memang dalam hal ini dapat dikatakan harapan. Akan tetapi itu semua bukan harapan jika mengandung sifat kepasifan dan “menunggu untuk”.
Harapan merupakan unsur yang sangat penting dalam setiap upaya mengadakan perubahan sosial agar menjadi lebih hidup, lebih sadar dan lebih berakal. Akan tetapi watak harapan sering disalahpahami dan dirancukan dengan sikap tidak bekerja, padahal kenyataannya tidak demikian.

Berharap adalah pernyataan manusia. Ia merupakan kesiapan batin, ia intens tetapi belum merupakan keaktifan. Harapan merupakan aspek psikis untuk hidup dan tumbuh. Jika pohon tidak mendapatkan sinar matahari, maka batang itu membelok ke arah dimana sinar itu datang. Kita dapat mengatakan bahwa pohon berharap dengan cara yang sama seperti manusia, tetapi harapan pada manusia dihubungkan dengan perasaan dan kasadaran yang tidak dimiliki pohon. Dan, sekalipun tidak akan disalahkan mengatakan bahwa pohon berharap akan sinar matahari dan mengungkapkan harapan ini dengan membelokkan batang ke arah matahari. Apakah itu berbeda dari arah yang dilahirkan? Bukankah orang sakit berharap untuk sehat, narapidana berharap untuk bebas, orang lapar berharap makan? Bukankah bercinta mengimplikasikan harapan manusia terhadap potensinya, terhadap kemampuannya untuk membangkitkan partnernya, dan harapan perempuan untuk merespon dan membangkitkan dia?

HARAPAN DAN WATAKNYA
Harapan itu bersifat paradoks. Harapan bukanlah menunggu secara pasif juga bukan pemaksaan yang tidak realistis terhadap keadaan yang tidak bisa dilakukan. Ia seperti harimau yang diringkus, yang akan melompat hanya jika waktunya untuk melompat tiba. Berharap berarti siap setiap saat terhadap apa yang belum lahir, dan tidak menjadi sedih jika tidak ada kelahiran dalam hidup kita. Tidak ada kesadaran dalam berharap terhadap apa yang sudah atau apa yang yang tidak akan mungkin ada. Orang yang mempunyai harapan kurang berminat terhadap kenikmatan atau kejahatan; orang yang mempunyai harapan memandang dan sangat menghargai semua tanda-tanda kehidupan baru dan selalu siap membentuk kelahiran apapun yang bisa dilahirkan.

Diantara kebingungan-kebingungan tentang harapan, salah satu yang paling gawat adalah kegagalan membedakan antara “harapan yang sadar dari “harapan yang tidak sadar”. Ini suatu kesalahan, utama yag terjadi dengan memandang pada beberapa pengalaman emosional lain, seperti kebahagiaan, kecemasan, kejenuhan dan kebencian. Salah satu contoh; kebanyakan orang tidak mengizinkan diri mereka sendiri merasa ketakutan, kejenuhan, kesepian dan ketidak berdayaan – dapat dikatakan bahwa semua itu adalah alam tidak sadar perasaan-perasaan ini. Ini merupakan alasan yang sangat sederhana. Dalam pola sosial kita, orang yang sukses tidak dihantui oleh perasaan takut, jenuh atau sepi. Dia harus menemukan dunia yang lebih baik dari semua dunia ini, agar dapat berubah menjadi lebih lebih baik dia harus menekan ketakutan sebagaimana keraguan, depresi, kejenuhan dan ketidakberdayaan.

Banyak orang yang secara sadar merasa penuh harapan dan secara tidak sadar putus asa; dan ada beberapa orang yang mempunyai cara lain. Apa yang menjadi masalah dalam menguji harapan dan keputusasaan bukan terutama pada apa yang dipikirkan oleh orang tentang peranan-peranan mereka, melainkan pada apa yang benar-benar mereka rasakan. Ini dapat dilihat paling tidak dari kata-kata dan ungkapan-ungkapan mereka, juga dapat dideteksi dari ekspresi-ekspresi wajah mereka, cara mereka berjalan, kemampuan mereka untuk mencapai sesuatu yang mereka inginkan, yang ada di depan mata mereka dan kurangnya sikap fanatik tampak dalam kecakapan mereka untuk mendengarkan argumen yang rasional.

KEYAKINAN
Jika harapan sirna, maka secara aktual maupun potensial, kehidupan pun musnah. Harapan adalah unsur instrinsik struktur kehidupan, dinamika spirit manusia. Harapan berhubungan erat dengan unsur lain dari struktur kehidupan: yakni keyakinan (faith). Keyakinan itu bukan bentuk lemah dari kepercayaan atau pengetahuan. Ia juga bukan merupakan keyakinan terhadap ini atau itu. Keyakinan adalah kepastian terhadap yang belum terjamin, pengetahuan tentang kemungkinan riil, kesadaran akan “kehamilan”. Keyakinan itu adalah rasional apabila ia menunjuk pada pengetahuan dari kenyataan yang belum dilahirkan; ia didasarkan pada kemampunan untuk mengetahui dan memahami, kemampuan untuk menembus permukaan dan melihat intinya. Seperti harapan, keyakinan bukan prediksi masa yang akan datang; ia adalah visi saat ini, dalam keadaan “kehamilan”. Pernyataan bahwa keyakinan sebagai kepastian memerlukan kualifikasi, itu adalah kepastian tentang realitas dari kemungkinan – tetapi bukan kepastian dalam arti ramalan yang dapat dipersoalkan. Anak mungkin dapat dilahirkan secara prematur; ia mungkin mati dalam proses kelahiran; ia mungkin mati dalam dua minggu pertama dalam kehidupan. Itu bertentangan dengan keyakinan: ia adalah kepastian dari ketidakpastian. Keyakinan, dalam pengertian visi dan pemahaman manusia, merupakan suatu kepastian. Tetapi dalam kenyataannya bukan merupakan suatu kepastian.

Ada pemisahan antara keyakinan yang rasional dan keyakinan yang irrasional. Sementara keyakinan yang rasional adalah hasil dari aktivitas batin seseorang sendiri, dalam pemikiran atau perasaan, keyakinan yang irrasional tunduk terhadap sesuatu hal dimana seseorang menerimanya sebagai kebenaran tanpa mempedulikan apakah itu benar atau tidak. Unsur pokok semua keyakinan yang irrasional adalah karakternya yang pasif, objek pemujanya, pemimpin atau ideologinya. Bahkan seorang ilmuwan harus bebas dari keyakinan irrasional dalam pemikiran kreatifnya.

Harapan dan keyakinan menjadi kualitas-kualitas hidup yang essensial, watak alamiahnya bergerak ke arah yang melampaui status quo, baik secara individual maupun secara sosial. Ia merupakan salah satu kualitas dari seluruh kehidupan di mana ia berada dalam proses perubahan terus-menerus dan tak pernah memperthankan momen-momen yang sama. Kehidupan yang stagnan cenderung mati. Jika mengalami kemacetan total, maka kematian telah berlangsung. Sebaliknya, kehidupan yang kualitasnya bergerak cenderung mendobrak dan mengatasi status quo. Kita tumbuh menjadi lebih kuat atau lebih lemah, lebih bijaksana atau lebih bodoh, lebih berani atau menjadi pengecut. Setiap saat adalah suatu momen keputusan untuk lebih baik atau lebih buruk. Kita “memberi makan” kepada kemalasan, keserakahan dan kebencian atau membiarkan mereka “kelaparan”. Sebagian dari kita ada yang memberi makan kepada mereka dan dengan demikian membuat lebih kuat, sementara yang lain membiarkan mereka kelaparan dan dengan demikian membuat mereka menjadi lemah.

Apa yang dianggap benar bagi individu dianggap benar pula bagi masyarakat. Ia tidak pernah berhenti. Jika ia tidak tumbuh, ia akan hancur. Jika ia tidak melampaui status quo untuk lebih baik, maka ia akan berubah menjadi buruk. Sering kita, baik individu maupun orang-orang yang membentuk masyarakat, mempunyai ilusi bahwa kita dapat menahan kesunyian dan tidak merubah situasi dari arah yang satu ke arah yang lain. Ini merupakan salah satu ilusi yang berbahaya. Pada saat kita menahan kesunyian, kita mulai rapuh.

KETABAHAN
Ada unsur lain yang berhubungan dengan harapan dan keyakinan dalam struktur hidup: keberanian (courage) atau apa yang dinamakan Spinoza “ketabahan” (fortitude). Ketabahan mungkin merupakan ungkapan yang kurang ambigu, karena dewasa ini kata “keberanian” sering digunakan untuk mengungkapkan keberanian untuk mati daripada keberanian untuk hidup. Ketabahan merupakan kemampuan untuk melawan perjuangan, untuk memadukan antara harapan dan keyakinan dengan mentransformasikan mereka — dan dengan demikian merusak mereka — ke dalam optimisme kosong atau keyakinan irrasional. Ketabahan adalah kemampuan untuk mengatakan “tidak”, ketika dunia ingin mendengarkan “ya”.

Tetapi ketabahan tidak bisa dipahami tanpa kita menyebutkan terlebih dahulu aspek yang lainnya: ketidaktakutan (fearless). Orang yang tidak takut tidak khawatir terhadap ancaman-ancaman, bahkan terhadapa kematian. Akan tetapi sedemikian sering kata “tidak takut” menyelimuti sikap-sikap yang sama sekali berbeda.

Pertama, seseorang bisa menjadi tidak takut karena dia tidak memperhatikan hidup; hidup tidak bermakna bagi dia, dengan demikian ia akan ketakutan di kala ia didatangi bahaya kematian; tetapi ketika dia tidak takut terhadap kematian, dia mungkin takut terhadap kehidupan. Dalam kenyataannya, dia sering mencari situasi-situasi yang berbahaya untuk menghindarkan ketakutannya dari hidup, baik terhadap dirinya sndiri maupun terhadap orang lain.

Kedua, ketidaktakutan orang yang hidup dalam ketundukan simbolik terhadap berhala, terhadap seseorang, lembaga atau ide-ide tertentu. Perintah-perintah berhala dikeramatkan. Mereka jauh lebih memaksa daripada memerintahkan untuk mempertahankan kehidupan jasmaniahnya. Jika dia membangkang atau meragukan perintah-perintah berhala ini, maka dia akan menghadapi bahaya kehilangan identitasnya dengan berhala. Ini berarti dia meninggalkan resiko menemukan dirinya dalam keterasingan total dan, dengan demikian, diambang pintu kegilaan. Dia menghendaki mati karena dia takut menampakkan dirinya sendiri terhadap bahaya ini.

Ketiga, ketidaktakutan orang-orang yang berkembang secara penuh, orang yang bersandar pada dirinya sendiri dan mencintai hidup. Pribadi yang telah mengatasi sifat serakah tidak berpegang teguh terhadap berhala atau benda dan dengan demikian tidak mempunyai perasaan kehilangan: dia kaya karena dia kosong, dia kuat karena dia bukan budak nafsunya. Dia dapat meninggalkan berhala-berhala, hasrat-hasrat irrasional dan fantasi-fantasinya karena dia berhubungan dengan penuh realitas, disamping, dan diluar dirinya sendiri. Jika seseorang. Jika seseorang telah mencapai “pencerahan” semacam ini, maka dia sudah “tidak takut” dalam arti sebenarnya. Jika ia bergerak menuju arah ini tanpa berusaha hadir, ketidaktakutannya tidak akan sempurna. Akan tetapi seseorang yang mencoba bergerak menuju pada status menjadi dirinya sendiri sepenuhnya, mengetahui bahwa kapanpun langkah baru menuju ketidaktakutan diciptakan , sadar akan kekuatan dan kenikmatan yang dibangkitkan itu tidak dapat ditiru. Dia merasa bahwa fase hidup baru telah dimulai. Dia bisa merasakan kebenaran apa yang dikatakan Goethe: “Saya telah meletakkan rumahku diatas kehampaan, karena seluruh dunia adalah milikku”.

MENGHANCURKAN HARAPAN
Jika harapan, keyakinan dan ketabahan merupakan hal yang intrinsik dalam kehidupan, bagaimana dengan orang-orang yang kehilangan harapan, keyakinan dan ketabahannya dan mencintai perbudakan dan ketergantungannya? Adalah pasti bahwa kemungkinan kehilangan ini merupakan karakteristik eksistensi manusia. Kita memulai perjalanan dengan harapan, keyakinan dan ketabahan – hal-hal ini merupakan alam tak sadar, non pemikiran, tetapi ketika kehidupan dimulai, maka perubahan lingkungan dan aksiden pun mulai mempengaruhinya, mendukung atau menghambatnya.

Kebanyakan kita berharap untuk dicintai, tidak saja hanya untuk dimanjakan dan diberi makan tetapi untuk dipahami, dipelihara dan dihormati. Kebanyakan kita berharap bisa mempercayai. Ketika kita hanya memiliki sedikit pengetahuan, kita belum mengetahui tentang kedustaan manusia, bukan hanya mengenai dusta dengan kata-kata, melainkan juga dusta dengan suara seseorang, gerak-gerik, kerlingan mata seseorang dan ekspresi wajah seseorang. Kita sering dikejutkan oleh kenyataan bahwa orang sering tidak mengerti maksud apa yang mereka katakan, atau orang yang mengatakan sesuatu berlawanan dengan apa yang mereka maksudkan. Dan tidak hanya orang pada umumnya, melainkan orang-orang kita percaya, seperti orang tua kita, guru kita dan pemimpin kita.

Beberapa orang memalingkan wajah mereka ke tempat di mana perkembangan harapan-harapan mereka dikecewakan, bahkan dirusak sama sekali. Mungkin hal ini ada baiknya juga. Jika seseorang tidak pernah mempunyai pengalaman tentang kekecewaan harapan mereka, bagaimana ia menjadi kuat dan tak terpadamkan? Bagaimana dia bisa mengelak dari bahaya menjadi pemimpi yang optimistik? Tetapi di lain pihak, harapan sering dihancur-lumatkan, sehingga orang tidak dapat menemukannya lagi.

Dalam kenyataannya, respon dan reaksi terhadap penghancuran harapan sangat kuat, tergantung pada keadaan historis, personal, psikologis dan institusional. Beberapa orang mungkin tidak mengalami kekecewaan , karena mereka menyesuaikan optimisme umum yang mana mereka mengharapkan yang lebih baik tanpa bersusah payah mengakui bahwa bukan kebaikan tetapi mungkin kejelekan bisa terjadi. Selama masing-masing orang tidak bersedih, masyarakat tidak bersedih pula. Dan daripada merasakan keputusasaan, mereka tampak berpartisipasi dalam jenis konser pop.

Akibat lain dari penghancuran terhadap harapan adalah “pembekuan hati”. Kita menyaksikan orang-orang – dari anak-anak yang nakal sampai orang dewasa yang keras kepala – yang pada suatu saat kehidupan mereka, tidak bisa berdiri untuk dilukai lagi ; bahwa tidak ada seorang pun yang pernah melukai mereka , tetapi mereka akan dapat melukai orang lain. Mereka mungkin bingung mengenai nasib buruk karena tidak menemukan teman atau siapapun yang mencintai mereka. Dalam keadaan bingung dan hampa, mereka tidak dapat menyentuh maupun disentuh oleh siapa pun. Keberhasilan mereka dalam hidup bukan untuk membutuhakan seseorang. Mereka mengambil kebanggaan dalam kenyataan bahwa mereka tidak dapat dihinakan. Secara sederhana mungkin mereka menemui seseorang dalam perhatian dan keprihatinan yang mereka yakini, dan merupakan dimensi baru dari perasaan yang terbuka. Jika mereka beruntung, mereka tidak mengalami kebekuan total dan secara bersamaan benih-benih harapan yang nampaknya telah dihancurkan, mendatangi kehidupan.

Akibat lain yang lebih trasis dari penghancuran terhadap pengharapan adalah munculnya tindakan-tindakan destruktif dan kekerasan . Justru karena manusia tidak dapat hidup tanpa harapan, orang yang hancur harapannya akan membenci hidup. Karena dia tidak dapat menciptakan hidup, maka dia ingin menghancurkannya.

Biasanya reaksi destruktif karena hancurnya harapan terdapat diantara orang-orang yang terdepak dari kesenangan-kesenangan mayoritas dan tidak mempunyai tempat baik secara sosial maupun ekonomis, karena alasan-alasan sosial atau ekonomis. Berbicara secara psikologis, tindakan-tindakan destruktif merupakan alternatif dari harapan, sedangkan ketertarikan terhadap kematian merupakan alternatif dari cinta terhadap hidup. Dan kenikmatan merupakan alternatif dari kejenuhan.

Individu tidak hanya hidup dengan harapan. Bangsa dan kelas sosial hidup melalui harapan, keyakinan dan ketabahan, dan jika mereka kehilangan potensi ini akan tenggelam – juga karena kekurangan mereka akan vitalitas atau perusakkan irrasional yang mereka kembangkan. Harapan, keyakinan dan ketabahan merupakan hal yang intrinsik dalam kehidupan.

Yang perlu dicatat dari kenyataan, bahwa perkembangan harapan atau keputusasaan dalam individu secara luas ditentukan oleh kehadiran harapan dan keputusasaan dalam masyarakat atau kelasnya. Bagaimana pun harapan akan individu yang hancur mungkin telah terjadi pada masa kanak-kanak, jika ia hidup dalam suatu periode harapan dan keyakinan, maka harapannya sendiri akan dikobarkan. Di lain pihak, orang yang mempunyai pengalaman yang menyebabkan dia penuh harapan akan cenderung ditekan dan putus asa ketika masyarakat dan kelasnya telah kehilangan spirit harapan.***

Share this: