Kembara Kelana

Mimpi Awan

Di pengunjung Desember, ijinkan aku bercerita tentang mimpi…
Suatu ketika sang bulan bertanya pada awan-awan gelap yang melintas dihadapannya. Wahai awan tahukah kau tentang mimpi? Si awan dengan malas menjawab “Mimpi itu milik anak-anak yang berbaring diatas rerumputan sambil membayangkan dirinya berada diatas kuda berjubah perang sambil membawa pedang dan perisai dari besi”. Dan awanpun berlalu. Tiba-tiba angin bertiup dengan kencang, mengejutkan bulan dalam lamunannya. Bulan pun bertanya tentang mimpi. Wahai angin, pernahkah kau bertemu dengan mimpi? Sang anginpun berkata “Aku menemukannya pada sepasang manusia yang saling mencintai, mereka sedang bercerita tentang anak-anak yang manis dan rumah yang nyaman”. Sekejap langitpun berubah menjadi terang, kilat membelah malam. Bulan bertanya kepada kilat, “Wahai kilat, pernahkah kau bermimpi?” Dengan tawa sombongnya kilat menjawab “Aku tidak pernah bermimpi, karena itu hanya pekerjaan orang-orang yang tertidur”.

Kilat pergi digantikan hujan yang turun perlahan dengan titik-titik airnya, makin lama makin deras. Hujan tau bahwa bulan sedang bertanya-tanya tentang mimpi. Dan hujan mulai bercerita tentang mimpi seorang gelandangan yang berdiri di depan sebuah toko perhiasan. Tak lama kemudian sang hujan berpamitan pergi. Malam kian larut, dan satu persatu bintang datang menemui bulan. Wahai bintang, pernahkah kau melihat mimpi? Sang bintang pun berseri-seri dan berkata, “Aku pernah melihatnya pada mata seorang gadis yang sedang menatapku, disana tergambar wajah kekasihnya”. Sang bulan kini tersenyum, karena malam yang larut mengizinkannya bersinar bersama bintang.

Hujan yang jatuh pada tanah basah menebarkan aroma alam. Langit gelap menyapu senyum bulan malam, kilat menyambar saling bersahutan. Aku berjalan diatas rerumputan basah dalam langkah lambat. Kubiarkan hujan mendekapku dengan dinginnya Dalam kesendirianku alam bercerita tentang mimpi. Kau tau? Ketika kau mencoba untuk meraih sesuatu, seluruh semesata akan membantumu. Kau bisa merasakan bahwa mereka memberikan pertanda menuju mimpimu. Aku yakin semua orang memiliki mimpi. Dan mimpiku adalah bunga-bunga salju di jendela apartemen. Daun-daun mapel yang menguning di musim gugur. Burung-burung merpati ditepi kolam. Suara klakson kapal yang terbawa angin. Dan secangkir cokelat panas bersama orang yang kucintai.

Aku percaya bahwa hidup itu adalah pilihan, dan aku tau bahwa setiap kehidupan yang telah kita lalui adalah pilihan yang telah kita ambil. Dan pada detik-detik hidup selanjutnya kau akan terus memilih. Tuhan telah membiarkan engkau mengintip masa depan melalui pemikiranmu sendiri. Dan ketika Tuhan memberimu sedikit kesempatan untuk membaca apa yang tertulis pada masa depanmu, apa yang akan kau lakukan? Waktu berjalan untuk sementara berhenti pada pilihan hidupmu.

Bara Merah Matahari
31 December 2002

 

Skenario Hujan

Ayoo!! Ikut aku!! mariii kita menari! Tidakkah 
kau lihat riak hujan diluar sana mulai berseru nakal. Menunggu kita
 memercikan kaki kita di genangan-genangannya. Dan dengarkan lagi, coba kali ini 
kau arahkan telingamu pada gemuruh lagu sendu sang Guntur. Dia malu-malu,
sangat malu-malu. Aneh, tidak biasanya sang Guntur tertidur.

Apa mungkin memang 
sekenario hujan kali ini hanya ingin bersimfoni lirih? Rintiknya
 semakin genit menjadi-jadi. Menggoda kita yang panik mencari kehangatan 
cinta disini. Sesaat saja sayang, biarkan sesaat saja, dan kuharap bukan untuk
 yang terakhir kali. Ayoo kita menari! Mengenang sebuah ciuman hangat dibawah 
hujan.

Senja Kelana
13 December 2002

 

Tarian Ombak

Dalam sebuah tarian ombak desir jiwa mengalir bersama alunan dentuman bass dan tarikan cello, malam itu ketika pecahan ombak menyentuh bibir pantai Jimbaran, Lana meregangkan tiap ruas ototnya yang kaku. Membiarkan irama musik dan jeritan orang-orang di meja makan menyatu dalam bait-bait irama ringan musik pengiring makan malamnya.

Asap harum sajian makan malam pun berhembus bersama nafas-nafas beraroma bir yang keluar dari bibir-bibir nakal berbincang halus. Lana memang sedang lelah mengecap cerita ringan dan lucu teman-temannya di meja makan sedari tadi. Ia memilih menepi pada bibir pantai Jimbaran bermain dengan hiruk pikuk ombak mengiring malam, membiarkan buih-buihnya mengejar jejak-jejak kaki Lana untuk kembali menarik pasirnya ke laut.

Lana berlari-lari kecil ketika panjang ombak membesar menenggelamkan mata kakinya. Sementara itu tak henti-hentinya juga ia menghirup dalam-dalam harum garam semerbak getir asin bau pantai malam itu. Teman-temannya mulai bernyanyi dari meja makannya disana, mabuk, saling menyentuh, dan merekatakan tubuh-tubuh mereka dalam alunan malam. Menghangatkan diri mereka dari dinginnya angin-angin laut.

Lana kembali berlari mengejar ombak yang memilih tertarik ke laut. Melompat dalam hitungan staccato, berputar, dan melompat lagi. Temaram lentera jimbaran pun mengerjap-ngerjap malu mengikuti harmonisasi bayang-bayangnya yang masih terus menari dan menari bersama langkah-langkah nakal pemecah ombak. Irama pun kian naik pada hitungan yang lebih dinamis intens dan cepat, seiring larutnya malam, menggelayuti setengah purnama temaram penyelimut garis pantai.

Kali ini kaki Lana memilih berlari lebih cepat menantang ombak, meyapu buih-buihnya kesana kemari, terjatuh untuk kemudian bangkit lagi. melangkah rapat-rapat dan membentang lagi. Lana meliukkan jemarinya, mengikuti irama tubuh dan peluh yang menyatu dengan asinnya air laut sambil mengkerjapakan matanya yang perih terkena percikan ombak, melompat nakal sambil tertawa, tersenyum, dan menari sepuas-puasnya sendiri. Tanpa menyadari Bara yang terduduk di tepi pasir kering dengan segelas bir sedari tadi menyaksikannya menari. Tersenyum dan tertawa kecil memandang Lana dalam tatapan anak-anak penonton pertunjukan boneka tali.

Share this: