Mantra Opera Jawa

Mari kita merenung lagi, agar terpisah hasrat, agar memutih mimpi

Dua hari saya bersama film tembang “Opera Jawa” Garin, dan potongan-potongan “Perempuan Punya Cerita”. Iya, saya perempuan, begitu dekat tergambarkan dalam cerita-cerita berlatarkan kisah yang berwarna. Baiklah, saya perempuan Jawa, begitu lekat dengan bahasa ibu, seperti tertidur dipangkuan beliau bermanja dengan nasihat tentang nilai-nilai hidup yang bijak. Lebih lanjut, perempuan jawa yang terlahir di kota metropolis dengan referensi modernisme bentukan media, pergaulan sosial, dan pengalaman indera.

Lalu saya lari dari pulau Jawa ke Australia seperti tikus buta, tapi dalam cerita fable kali ini kami tidak berempat, hanya saya sendiri. Berbekal sebutan “perempuan Jawa yang lahir dan besar di Jakarta dan tak tau mengapa sekarang berada di Australia” saya hanya mau menikmati indahnya rima akhir dari 3 tempat tersebut yang ternyata sama bila diucapkan bersamaan. Terdengar ngga penting, tapi saya selalu mencintai hal-hal kecil yang menarik untuk dikulik dan dimengerti. Mungkin dulu saya adalah titisan pengkolektor serangga langka, hingga berhobi seperti ini.

Perjalanan mencari kebijakan, biasanya pasti berujung dalam cerita klise yang membosankan. Hah, saya pun tak pernah peduli karena saya masih mencintai mimpi, mimpi yang tak perlu saya ucapkan, mimpi yang saya hayati dalam hati dan saya tanamkan dengan sungguh sungguh karena bagi saya eksistensi itu hanya basa basi dan pada dasarnya manusia memang selalu menyukai basa basi, saya mau jadi kancil sajah untuk urusan yang satu ini. Mencoba untuk mendalami apa nilai-nilai penggerak tingkah laku dan sikap manusia dalam bertahan hidup sebagai mahluk sosial di lingkungannya, seperti mahmoot yang bertanya-tanya mengapa bumi harus bergejolak dari jaman es menjadi jaman reptil.

Dalam potongan film tersebut mucul simbol-simbol tentang kuasa, dan hasrat yang begitu manis terlekatkan dalam sosok perempuan. Tidak heran apabila kemudian terlahir istilah, “Harta, Tahta, dan Wanita” yang akhirnya mungkin malah sedikit membingungkan interpertasi terhadap peranan perempuan di dalam kehidupan sosial. Apakah istilah itu mengangkat drajat perempuan, atau malah hanya menjadikan perempuan sebagai objek yang harus diraih dan dimiliki. Saya mungkin hanya bisa sedikit menceritakan interpertasi perempuan dalam film yang saya sebut diawal, hanya sebuah catatan ini persepsi saya, jadi harap maklum seandainya berbeda dengan anda.

Dimulai dari perempuan bernama Siti dalam lakonnya sebagai Shinta, penggambaran perempuan sebagai pengendali sekaligus pencipta hasrat, karena dalam plot cerita yang mengadaptasi kisah Ramayana ini, Siti adalah Shinta yang disepuh dalam kemasan kekinian. Oya, kekinian disini bukanlah modernitas yang tergambarkan oleh sosok perempuan berstelan blazer menenteng tas berlogo LV, rambut rapi dari salon, keluar dari mobil dan masuk ke gedung perkantoran di SCBD Sudirman. Tapi kekinian disini adalah sosok istri seorang pengrajin tembikar di sebuah desa terpencil di Jogjakarta dengan rambut hitam panjang terurai, bedaster lusuh dibawah lutut, menenteng periuk nasi dari bambu, bersepeda ontel, dan mencintai tari.

Siti dan Setyo, dua insan yang “gandrung” dalam ikatan pernikahan dengan buntut-buntut kesetiaan, pengabdian, perjuangan, pengorbanan. Dalam kisah ini Siti menanggalkan kesenangannya menari semenjak ia menikahi Setyo, sebagai bentuk penghargaan terhadap sang suami. Saya tidak akan menceritakan secara detail plot film ini, karena film dan resensinya sudah bisa di streaming dan dibaca dimana-mana. Film ini terasa begitu dekat dengan saya, karena dialog yang dibawakan dalam tembang bahasa Jawa bisa dengan mudah saya mengerti. Dan lagi nilai tentang hidup, manusia, kekuasaan, pergolakan batin, dan politisasi rasa, bisa dengan cantik dimainkan oleh beragam simbol dan elemen-elemen seni yang melekat hampir disemua unsur film.

Aduh, saya ngapain sih, seharusnya saya ngga perlu menginterpertasikan film itu sejauh ini, terasa ribet jadinya, padahal enakan nonton santai ngga usah mikir sambil ngemil indomi kering. Hahahaha, yah mungkin itu tadi, bawaan reinkarnasi dan alam eksitensi yang mengkumat. Dan lagi saya hanya tertarik pada penggkarakteran Siti yang bukan Shinta. Siti yang kuat, dengan refleksi tarik ulur nakal permainan batin kesetiaannya terhadap Setyo untuk kemudian dia ubah menjadi antithesis amarah dan jejakan yang mendorong Ludiro a.k.a Rahwana mepet ke tembok hingga Ludiro mewek ke simboknya karena patah hati.

Siti tegas lugas mencoba mempertahankan kesejatiannya sebagai perempuan yang memperjuangkan harga dirinya. Disini sisi lemah lembut perempuan tidak ditinggalkan, tapi justru melengkapi dan memanusiakan sang perempuan itu sendiri, manis, karena siti sangatlah sadar bahwa dirinya sangat perempuan. Lucunya si Setyo, malah tidak bisa menerima kenyataan bahwa Siti itu hanya manusia bernama “perempuan”, ia begitu terperangkap pada kekaguman dan keagungan konsep Siti sebagai malaikat, tanpa nafsu, tanpa hasrat, tanpa keinginan, tanpa ambisi, dan tanpa gejolak. Setyo pun enggan beranjak dari keterbutaannya dan berambisi untuk selalu memiliki Siti dalam wujud yang telah tertanam di dalam benaknya. Ambisi yang mendorongnya membelah rongga dada siti dengan belati, untuk menggambil hatinya, agar tetap terjaga sebagaimana ia mau, diawetkan di dalam toples.

Share this: