Masih Akan Bilang Bahwa Perubahan Iklim Itu Mitos?

Malam ini saya nongkrong di tempat gym seperti biasa, bersama ibu-ibu muda dan para tante yang sedang mengeluhkan cuaca yang tidak menentu. Ini bulan Juni di Jakarta dan dua hari terakhir ini Jakarta selalu di guyur hujan deras. sebuah fenomena yang bukan lagi menandakan musim kemarau. Beberapa orang dari tante tersebut mengeluhkan masuk angin, ada juga yang curhat kalo dia harus mengantri dari jam setengah tujuh pagi untuk mengambil antrian nomor doktor untuk berobat cucunya. Sang tante pemilik gym cerita kalo rumah dia kebanjiran kemarin hingga semata kaki, dan dia mengeluhkan cuaca yang kian tidak menentu bisa jadi salah satu penyebab si tante L terkena penyakit aneh. Telinga tante L berdengung tidak berhenti, dan hanya diketahui itu diakibatkan oleh sebuah virus baru. Perubahan cuaca disadari oleh para tante ini sedikit menggangu kesehatan mereka, tapi si tante pemilik Gym hanya bisa menyimpulkan perubahan cuaca ini sebagai “pertanda kiamat kali ya”.

Setelah semua fenomena alam yang coba mereka kaitkan dengan logis percakapan pun berakhir menjadi sebuah jawaban spiritual untuk dijadikan kesimpulan tercepat dalam menjelaskan penyebab terjadinya gejala berubahan iklim tersebut. Apakah memang sebetulnya ada kaitan antara spiritualitas dengan perubahan iklim? Bisa jadi memang perubahan iklim adalah juga isu spiritualitas, karena perubahan iklim akan menimbulkan pertanyaan bagaimana kita memaknai ciptaan Tuhan.

Di dalam kehidupan dimana kita mengeksploitasi sumberdaya alam sebagai bahan baku yang kita ubah menjadi barang yang kita pergunakan dan kemudian kita buang. Kehidupan dimana kita bebas merusak alam dan mencemari tanah, udara, dan air demi pembangunan industri, bagaimana kita mengalami dan memahami ciptaan Tuhan memang akan mempengaruhi reaksi kita terhadap krisis iklim.

Keganasan Badai Sandy yang terjadi di Amerika pada awal tahun ini telah menembus penolakan publik dan telah memaksa kita untuk menjawab pertanyaan: berapa banyak berubah pola cuaca yang berkaitan dengan perubahan iklim? Selama beberapa dekade, para ilmuwan telah memperingatkan bahwa aktivitas manusia telah menyebabkan pemanasan global dan mengubah pola cuaca yang diprediksi akan menyebabkan bencana yang lebih besar.

Pemanasan Global

Apa itu pemanasan global? Mungkin penjelasan ini sepatutnya dimengerti juga oleh para tante di tempat gym tadi. Dalam kondisi alami, atmosfer bumi bekerja seperti rumah kaca, atmosfer ini berisi uap air, karbon dioksida, dan gas lainnya untuk menahan dalam jumlah yang cukup dari panas dan energi surya, sementara sisanya yang tidak dapat ditahan dilepaskan kembali ke angkasa luar. Mekanisme ini sebetulnya dapat berjalan dengan indah dan seimbang dalam mengatur iklim dan mejadikan bumi ramah untuk dihuni oleh makhluk hidup, termasuk manusia.

Namun pada kenyataanya, kondisi atmosfer yang paling dekat dengan permukaan bumi saat ini menjadi tebal dikarenakan atmosfer terlalu banyak menampung kelebihan emisi karbon dioksida (CO2) dan gas lainnya yang meningkatkan “efek rumah kaca.”

Sejak awal era industri, komposisi atmosfer bumi telah berubah secara dramatis. Sebelum 1800, atmosfer mengandung 280 bagian per juta (ppm) CO2, tetapi sekarang telah meningkat menjadi lebih dari 390 ppm, tanpa terlihat dan kita sadari. Atmosfer kini tumbuh lebih tebal dan lebih padat, sehingga lebih banyak menampung panas matahari. Kondisi atmosfer yang seimbang dan berkembang bersama kehidupan duniawi selama ribuan tahun, saat ini sedang mengalami gangguan serius diakibatkan karena ketergantungan manusia pada bahan bakar fosil.

Kenaikan jumlah gas rumah kaca CO2 disertai dengan pemanasan global diprediksi akan semakin parah dari tahun ketahun, meningkatkan frekuensi gelombang panas, terjadinya badai yang lebih ganas, puncak es yang mencair, kenaikan permukaan laut secara global, kekeringan ekstrim, peningkatan jumlah serangga pembawa penyakit dan hewan pengerat, kegagalan panen, hujan deras dan banjir, peningkatan suhu laut, kebakaran hutan, migrasi bakteri dan perubahan pola penyakit, kerusakan terumbu karang, pengeringan lahan basah, kecepatan pemunahan spesies, perubahan pola musim, gangguan ekonomi, dan menimbulkan terjadinya pengungsi lingkungan.

Meskipun negara-negara yang sangat maju telah mengurangi sebagian besar kontribusi gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim, negara-negara miskin masih menjadi negara yang paling dramatis terpengaruh dan memiliki sumber daya paling sedikit untuk merespon peristiwa ini.

Sejak tahun 2000, kita telah mengalami sembilan dari sepuluh tahun terpanas yang pernah dicatat oleh sejarah. 12 bulan mulai dari periode Juli 2011 sampai Juli 2012 adalah rekor terpanas suhu bumi, dengan munculnya puluhan ribu rekor peristiwa cuaca ekstrim yang ternyata konsisten dengan prediksi perubahan iklim. Kondisi ini muncul dalam bentuk gelombang panas, kekeringan, kebakaran hutan, angin topan, tornado, dan badai. Pada bulan Agustus 2012, lebih dari setengah negara bagian Amerika Serikat telah ditetapkan sebagai zona bencana karena kekeringan dan gagal panen meluas.

Konsensus atau Kontroversi?

Realitas manusia yang disebabkan perubahan iklim adalah masalah konsensus ilmiah, meskipun kita mungkin tidak tahu bahwa banyak kontroversi topik perubahan iklim juga terjadi di media. Semua akademi ilmiah nasional dan internasional dan masyarakat setuju dengan penilaian dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang memberikan gambaran kolektif mengenai kondisi dunia yang semakin panas telah menunjukan adanya bukti baru dan kuat bahwa sebagian besar pemanasan global selama 50 tahun terakhir disebabkan oleh aktivitas manusia.

Kontroversi tentang perubahan iklim kini tidak lagi hanya bersifat ilmiah, tapi juga politik. Minyak, gas, dan perusahaan lain yang mendapatkan keuntungan dari bahan bakar fosil sengaja menabur keraguan tentang perubahan iklim dengan melobi pejabat publik terhadap regulasi industri mereka. Energi lobi ini ternyata juga telah menghabiskan jutaan dolar untuk menciptakan agenda pengabaian terhadap pemanasan global, mengecilkan signifikansinya, dan menyangkal bahwa hal itu disebabkan oleh perilaku manusia.

Membatasi Gangguan Iklim

Sulit untuk menghadapi besarnya masalah gangguan iklim yang sedang berlangsung dan potensinya untuk menghancurkan masyarakat dan ekosistem di seluruh dunia. Penolakan terhadap isu pemanasan global mengancam kita untuk mengecilkan semua masalah lingkungan lainnya, menyebabkan penderitaan manusia yang lebih besar, dan membuatnya lebih sulit bagi generasi mendatang untuk berkembang. Tapi penolakan tersebut hanya akan menunda pertimbangan manusia terhadap krisis ini. Karena faktanya manusia yang menyebabkan perubahan iklim adalah nyata, dan itu terjadi pada saat ini, menyebabkan gangguan pola cuaca di seluruh dunia.

Apa yang diperlukan untuk membatasi gangguan iklim? Demi integritas, kita harus membuat perubahan gaya hidup untuk mengurangi jejak karbon kita. Kita bisa memulianya dengan mematikan lampu, beralih ke peralatan yang hemat energi, naik sepeda atau menggunakan transportasi umum, ataupun menanam pohon. Dengan perilaku tersebut kita dapat menggunakannya sebagai model pelayanan yang bertanggung jawab dan menunjukkan kepedulian kita pada alam ciptaan Tuhan.

Meski demikian, tindakan individu tidak akan cukup menangani masalah mendasar penyebab sistemik dari krisis iklim. Akan menjadi mustahil untuk membatasi kenaikan suhu bumi hanya melalui pilihan gaya hidup pribadi saja. Sebagai masyarakat yang mengkonsumsi produk industri, kita juga harus membuat industri membayar mahal untuk pencemaran atmosfer dengan gas rumah kaca.

Sistem ekonomi global saat ini, didominasi oleh perusahaan besar yang melipatgandakan kekayaan untuk mengorbankan banyak keindahan dan kekayaan bumi yang berharga. Kapitalisme berbasis pasar sebetulnya sudah mengetahui nilai-nilai sakramental hidup atau nilai intrinsik dari semua ciptaan Tuhan, hanya saja pandangannya masih murni utilitarian, pandangan yang berlandaskan pada aktifitas mengubah tanaman, hewan, tanah, dan bahkan air sebagai komoditas sehingga semuanya dapat diperjual belikan, mengurangi nilai ekonomi alam hingga ke garis bawah. Ideologi ini telah memungkinkan segala bentuk penciptaan Tuhan layak untuk dieksploitasi, hasilnya adalah kerusakan lingkungan yang parah, termasuk perubahan iklim, dan sistem ini sudah saatnya memerlukan perubahan.

Masalah perubahan iklim merupakan masalah global, kondisi ini akan membutuhkan solusi global yang didasarkan pada kerjasama antara negara-negara untuk mengubah sistem yang menyebabkan kerugian manusia dan ekologi tersebut. Kerjasama global semacam itu hanya akan terwujud melalui tekanan dari akar rumput kepada pejabat publik untuk memberlakukan kebijakan yang membatasi emisi gas rumah kaca. Kita bisa bergabung dalam upaya-upaya advokasi tersebut melalui lingkungan sekitar kita sendiri.

Badai Sandy adalah bukti bahwa bencana akibat perubahan iklim dapat membangkitkan kesadaran orang-orang pada terjadinya krisis iklim di bumi. Orang-orang yang tergabung di berbagai komunitas di seluruh dunia mengambil tindakan terkoordinasi, menekan pemerintah untuk memberlakukan kebijakan yang dapat membatasi emisi. Perubahan iklim mungkin tidak hanya dapat dipulihkan melalui upaya-upaya tersebut, tetapi kebijakan publik dapat membantu mengurangi kerugian yang terjadi, terutama untuk menanggulangi populasi yang rentan terkena dampak perubahan iklim, dan mengurangi peningkatan emisi di masa depan.

Hidup Sakramental, Berjalan Adil

Sebuah masyarakat tanpa nilai-nilai spiritual seperti sungai tanpa sumber. Aset terbesar yang dapat kita wariskan pada generasi yang akan datang adalah bumi yang kaya dengan cluster holistic yang terkoneksi secara kosmologis. Kita mungkin berada di bawah ilusi bahwa kita manusia dibangun “dunia” duduk di atas alam, dan entah bagaimana menjadi terisolasi dan terpisah dari kekuatan alam yang kita telah dijinakkan melalui teknologi.

Namun meningkatnya frekuensi bencana alam dan peristiwa cuaca ekstrim semakin memperjelas pandangan bahwa fenomena ini bukanlah konspirasi isu buatan manusia. Efek dramatis perubahan iklim menunjukkan kepada kita betapa rentan kita, terlepas dari prestasi budaya dan teknologi yang luar biasa, bahwa kita masih tergantung pada Tuhan yang menciptakan kita dan kita pun akan saling tergantung dengan ciptaan Tuhan lainnya.

Sebagai orang beriman, kita dapat mendidik diri sendiri tentang perubahan iklim dan meningkatkan pengetahuan diri kita dan orang-orang sekitar kita tentang pentingnya mencegah efek pemanasan global yang mendorong terjadinya bencana alam. Kita bisa mulai dengan ikut bergabung dengan orang-orang yang memiliki semua perspektif pemikiran dan keyakinan untuk mengadvokasi kebijakan publik yang akan mendukung sebuah planet yang sehat dan layak huni. Dengan demikian, kita hidup sakramental dan berjalan adil dalam hubungan kita dengan Tuhan, dengan keluarga, manusia sekitar, dengan generasi masa depan, dan dengan semua mahluk ciptaan Tuhan.

Share this: