Menguji Mental di Gunung Gede

“Naik gunung itu bukan soal fisik Gan, tapi soal mental.” Ujar Pak Juned kepada Gegan, seorang bocah laki-laki berusia delapan tahun yang ikut dalam tim Argapela mendaki puncak Gunung Gede, 30 Juni 2013 lalu. Bagi Gegan yang berusia delapan tahun, ini bukanlah kegiatan pendakian gunung pertamanya, tapi bagi saya yang berusia 30 tahun, bisa dibilang ini adalah pengalaman pertama saya. Mungkin akan terlihat menarik bagaimana usia ternyata tidak menjadi acuan untuk mengukur kemampuan seseorang manusia dalam mencapai pengalaman hidup tertentu, apalagi berkaitan dengan pengalaman mendaki gunung, karena memang seperti yang dikatakan oleh Pak Juned tadi, ini berkaitan dengan mental.

Saya sendiri tidak pernah diizinkan oleh orang tua saya untuk mendaki gunung, boro-boro mendaki gunung, ikut kelompok pencinta alam saja saya tidak pernah dapat izin, meskipun saya dibesarkan didalam keluarga yang hobi jalan-jalan dan berkegiatan outdoor tapi untuk urusan mendaki gunung hingga puncak dan berkemah di tenda, belum pernah saya jalani. Mimpi saya untuk mendaki gunung akhirnya hanya bisa tersimpan di benak dalam gambaran visual film-film ekspedisi National Geographic, puisi-puisi So Hoek Gie, dan foto-foto pendakian teman-teman saya. Hingga suatu saat saya mengiyakan sebuah ajakan dari seorang sahabat untuk mendaki Gunung Gede diakhir bulan Juni 2013 yang lalu.

Pendakian ini merupakan kegiatan yang diadakan oleh Argapela, komunitas pendaki gunung yang didirikan oleh para karyawan ACE. Awalnya saya ragu untuk ikut serta, melihat bahwa ini adalah komunitas internal, jadi bisa dipastikan pesertanya hanya terbatas pada karyawan, tapi teman saya memberikan keyakinan bahwa dia juga mengajak teman lain dari luar komunitas, dan bahwa pendakian kali ini memang terbuka untuk mereka yang belum pernah mendaki sekalipun.

Berbekal semangat, sayapun niat menyiapkan segala perlengkapan sesuai dengan daftar yang diberikan dalam email penyelenggara. Saya berusaha sebisa mungkin untuk memenuhi perlengkapan wajib pribadi untuk dibawa, mulai dari matras,sleeping bag, head lamp dan jaket wind breaker, sedangkan perlengkapan camping dan masak lainnya disediakan oleh panitia.

Perjalanan dimulai Jumat malam, dengan menggunakan minibus kecil dari kantor ACE di Jakarta Barat. Kemacetan tol lingkar dalam Jakarta di Jumat malam menuju Cibodas memang tiada tandingnya, tapi entah mengapa keresan saya akan pikiran untuk tidak bisa mandi dengan air bersih dalam beberapa hari kedepan mengalahkan kemacetan. Apalagi setelah mendengar kata-kata Andy sebelum perjalanan “Yah namanya juga naik gunung Le, ngga mandi mah wajar lah” kalimat yang kemudian mengantarkan kesiapan diri saya untuk keluar dari batas kenyamanan hidup saya.

Kami tiba pukul 12 malam, di pelataran parkir objek wisata Cibodas, menginap semalam si sebuah shelter untuk para pendaki yang dibangun di belakang salah satu warung, Warung Mang Idi namanya. Meski hanya sebuah ruangan berukuran 10×10 meter beralaskan karpet, namun tempat tersebut cukup bersih untuk kami berteduh sambil mempacking kembali barang bawaan kami se-efisien mungkin. Malam yang direncanakan untuk bisa memberikan power nap menjadi sedikit terganggu oleh kebisingan dari kelompok pendaki lain yang memutuskan untuk berangkat subuh lebih awal.

Pagi pukul enam kami dibangunkan oleh Pak Juned dan Bang Ferry yang sudah memesankan teh manis dan nasi goreng kepada pemilik warung. Saya putuskan untuk membagi sepiring nasi goreng milik saya berdua dengan Jane, karena saya memang tidak terbiasa sarapan dengan porsi besar. Setelah selesai berkemas dan membersihkan diri seadanya, Pak Juned mengumpulkan rombongan untuk memberikan pengarahan awal, bagaimana aturan main pendakian dan gambaran akan medan-medan yang akan kami lalui. Ditutup dengan doa dan yel-yel bersama.

Perjalanan pendakian kami dimulai pukul 7.30 melalui jalur pendakian disamping lapangan golf pintu masuk Cibodas. Jalanan tersebut sudah ter-paving block hingga memasuki pintu masuk Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, selepas gerbang masuk taman nasional kami mulai memasuki Jalur Intrepretasi Cibodas yang tersusun rapi dengan batu kali.

Sepanjang perjalanan, kami ditemani oleh suara burung liar dan Owa Jawa yang saling bersahutan, bergema diantara pohon-pohon spesies asli Gunung Gede Pangrango. Seringkali di sepanjang jalan setapak saya menemukan guguran bunga Puspa atau dikenal dengan istilah Medang Gatal, sebagai salah satu spesies endemik hutan tropis di wilayah pegunungan gunung Halimun Salak dan Gunung Gede Pangrango. Tadinya saya hanya mengenal tanaman ini dari buku novel Sarronge karya mas Tosca Santoso, dan mencari tau bentuknya melalui intenet. Alangkah bahagianya saya ketika bisa melihat wujud asli bunga puspa berikut pohonnya saat itu. Saya seperti terbawa pada petualangan Husein dan Sarah di dalam novel tersebut, perjalanan diantara pohon hutan hujan tropis sambil bercerita mengenai pohon raksasa Rasamala yang ditunjukkan oleh Abah, porter kami.

Jalur intrepertasi Cibodas adalah jalur yang nyaman untuk pendaki pemula hingga kami tiba di pemberhentian pertama Air Panas pukul 10.30. Rombongan kami mulai terpecah menjadi beberapa kelompok kecil karena masing-masing orang berjalan sesuai dengan kemampuan fisik yang berbeda. Jalur air panas merupakan jalur berbentuk titian batu melalui sungai air panas kecil dengan tebing-tebing yang dialiri oleh air terjun di tebingnya. Untuk membantu meniti jalur tersebut hanya tersedia seutas tali yang bisa digunakan untuk berpegangan. Saking kagumnya saya dengan keseruan meniti jalur tersebut sambil mengambil foto, saya terpleset hingga satu kaki saya jatuh terendam air panas, meninggalkan sebuah luka di sikut kanan saya. Kami putuskan untuk melanjutkan terus perjalanan dan tidak beristirahat untuk merendamkan kaki di pemberhentian Air Panas.

Tidak jauh dari objek wisata alam Air Panas terdapat persinggahan Kandang Batu untuk para pendaki. Kami tiba pukul 11.15 untuk makan siang sambil menunggu kelompok terakhir datang. Makan siang sederhana nasi timbel dan ayam panggang menjadi amat sangat lezat, mengisi perut saya yang lapar akibat perjalanan yang lumayan menguras keringat.

Selesai makan siang, perjalanan kami lanjutkan hingga tiba di persinggahan Kandang Badak pukul dua siang. Di persinggahan tersebut saya mendapatkan beberapa kelompok pendaki lain mulai mendirikan tenda, kami beristirahat kurang lebih satu jam sambil menunggu rombongan terakhir untuk ikut bergabung, namun setelah menunggu kurang lebih satu jam Pak Juned mendapatkan konfirmasi melalui handy talkie nya bahwa jarak antara kami dengan rombongan terakhir terpaut jauh. Karena rombongan terakhir harus menemani Gegan yang banyak berhenti dan beristirahat. Rombongan pertama yang terdiri dari Mbak Ratna, Lulu, Gina, Olive, Jane, Apri, Marcell, Dimas, Ratih, Pak Juned dan saya akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan terlebih dahulu, karena waktu sudah hampir jam tiga sore, dan kami sebaiknya tiba di perkemahan sebelum gelap.

Selepas Kandang Badak, jalur yang kami lalui terasa semakin sulit, tiada lagi batu-batu yang jelas menandai jalur untuk pejalan kaki. Suasana hutan yang sepi semakin terasa karena kami harus melalui berbagai ranting dan dahan pohon yang melintang hingga akhirnya kami tiba pada apa yang dinamakan oleh Pak Juned dan teman-teman sebagai “Tanjakan Setan”. Sebuah tebing curam yang harus didaki dengan tali-tali seadanya. Untungnya saya tidak phobia pada ketinggian, tebing ini sepertinya justru memompa adrenalin saya untuk memanjatnya, karena selepas Kandang Badak tadi saya sempat merasa bosan dan mulai mengantuk.

Semua anggota rombongan berhasil melewati “Tanjakan Setan” dengan bimbingan Pak Juned yang dengan sabar mengarahkan satu persatu anggota hingga sampai keatas. Melalui tanjakan setan memang tampak lebih berbahaya, tapi lebih banyak memangkas waktu dibandingkan dengan jalur lain yang harus memutar.

Selepas “Tanjakan Setan” pukul empat sore, cuaca sudah mulai mendung dan gerimis. Pak Juned meminta kami untuk mulai mengenakan Jas Hujan dan head lamp. Rombongan kamipun terpisah lagi menjadi dua kelompok kecil, karena Pak Juned harus kembali turun kebawah membantu Apri yang tiba-tiba mengalami kram. Saya bersama Olive, Mbak Ratna, Gina dan Lulu berada di kelompok paling depan. Tiba-tiba hujan deras turun mengguyur kami, dan tanpa kami sadari kami berempat sudah terpisah jauh dari kelompok lainnya. Kami putuskan untuk terus mendaki, diantara arus air yang deras mengalir diantara jalur-jalur yang ada.

Mbak Ratna yang berada di depan sempat berhenti dan bertanya harus kemana karena ia tidak lagi menemukan jalur setapak, tidak ada satupun diantara kami yang bisa menjawab dengan pasti, karena kami ber-empat belum pernah ada yang ke puncak gede sebelumnya, dan bahayanya lagi, kami adalah empat perempuan yang belum pernah sama sekali mendaki gunung sebelumnya.

Sedikit panik saya ambil inisiatif untuk berada di depan memeriksa jalur yang masih memungkinkan untuk dilalui dan ditapak oleh kaki, saya hanya teringat ucapan Pak Juned terakhir kepada Abah Porter yang sudah berada diatas, bahwa tenda kami berada di sebelah kiri, dan sebaiknya kami terus ambil jalur kiri selama menanjak.

Hujan semakin deras dan dingin saya baru menyadari bahwa ini adalah hujan es, setelah beberapa butir es masuk kedalam mulut saya. Saya hanya bisa terus berjalan keatas mengikuti arus air yang mengalir di jalur setapak, sambil mengingatkan yang lain untuk terus berjalan tidak menginjak arusnya dan berhati-hati karena licin. Saya juga harus memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal dari keempat anggota perempuan kami, ataupun berhenti di tempat karena berdiam diri lebih beresiko untuk mengalami hipotermia. Otak saya hanya dipenuhi oleh keinginan untuk lekas tiba di tenda, karena semua baju saya sudah basah dan dingin, jas hujan tidak lagi sanggup menahan derasnya hujan yang mulai masuk ke seluruh celahnya.

Akhirnya kami bisa bertemu dengan rombongan lain yang juga sedang menuju puncak, kami sedikit lega, karena ini bisa berarti kami berada di jalur pendakian yang benar. Awalnya saya sempat mendengar beberapa anggota rombongan mereka saling berteriak panik karena sepertinya mereka juga tidak yakin akan jalur yang mereka tempuh. “Tenang-tenang, ngga usah panik semua” Teriak seorang anggota mereka kepada anggotanya yang lain. Hingga tiba-tiba salah seorang anggota rombongan mereka yang lain muncul dari belakang, sambil berteriak “Iya udah bener jalan aja terus”, dan kamipun terus mendaki bersama rombongan didepan kami yang tampaknya juga sedikit melambat karena hujan yang deras. Kilat dan petir terasa lebih dekat dengan kami, saya harus sedikit waspada apabila sewaktu-waktu mungkin saja kilat menyambar salah satu pohon dan roboh, saya hanya bisa mengandalkan insting dan fokus pada jalur yang saya lalui agar otak saya tetap sadar.

Ketika pandangan saya mendapatkan beberapa tenda berdiri di balik semak-semak, saya semakin lega karena kami telah berhasil tiba ditempat tujuan. Apalagi saya melihat Abah porter berdiri diantara tenda tersebut sambil menunjukan sebelah mana tenda kami. Bergegas kami berteduh dan mulai mengeringkan diri sebelum mulai gelap. Satu jam kemudian kelompok kedua yang terdiri dari Apri, Jane, dan Pak Juned dan anak-anaknya tiba. Malam mulai gelap, meski hujan sudah reda meninggalkan gerimis kami masih menantikan kelompok terakhir datang. Mbak Ratna, mulai gelisah membayangkan Gegan dan ayahnya yang belum juga muncul di perkemahan. Yang membuat kami sedikit tenang, Gegan dan Ayahnya ditemani Andy dan Delga, mereka termasuk berpengalaman naik gunung, dan pasti ikut membantu Bang Ferry menjaga Gegan.

Satu jam kemudian kami mendengar suara memanggil nama Gegan dari luar, ternyata Gegan tiba di perkemahan bersama Andy, dan langsung masuk kedalam tenda kami. Gegan dengan sedikit merengek menahan tangis menghambur ke pelukan Mbak Ratna, kelelahan dan tak lama kemudian tertidur. Selang beberapa menit kemudian suara Bang Ferry memanggil namanya dari luar. “Gegan mana?” serentak kami menjawab, “Disini Bang”. Bang Ferry dengan mata berkaca-kaca membuka tenda sambil memeluk Gegan “Gegan you’re a good boy, he’s a great boy Mah. Dia jagain papahnya tadi, dia hebat mah” berkali-kali dipeluknya Gegan dengan bangga. Saya sangat terharu menyaksikan peristiwa itu. Sebuah puncak pengalaman mendalam yang bisa saya rasakan dalam perjalanan kali ini.

Pendakian ini bukanlah lagi soal mencapai puncak gunung, dan menyaksikan keindahan matahari terbit dipagi harinya, tapi pendakian ini merupakan suatu proses pembelajaran untuk saya agar tidak pernah berhenti, untuk terus berjalan menghadapi berbagai medan dan rintangan yang ada didepan saya. Karena dalam hidup, ketika kita dihadapi pada kondisi sesulit apapun berhenti atau kembali pulang bukanlah keputusan yang terbaik. Pembelajaran bahwa tidak ada lagi kata tidak mungkin bagi setiap manusia untuk mencapai sesuatu, selama kita terus percaya dan terus bergerak untuk mencapainya. Saya pun tertunduk malu, melihat kedalam diri Saya yang selama ini sering mengeluh ketika mencapai titik-titik jenuh dalam menghadapi masalah hidup, dan kadang memutuskan untuk menyerah maupun lari dari masalah. Padahal hidup itu seperti mendaki gunung “Never measure the height until you reach the top”. Seperti Gegan yang tak pernah menyerah dan tetap percaya bahwa dia bisa. Seperti kami berempat yang memutuskan untuk terus berjalan dan tidak berhenti. Seperti hidup yang tak perlu diukur hingga kita berhasil mencapai tujuannya.

Share this: