pulau-macan

Menunggu Mimpi, Mencari Gravitasi

Kata Einstein waktu itu relatif. Dia bilang semakin lambat waktu sangat relatif dibandingkan kondisi orang yang tidak bergerak, dia menyebutkan melambatnya waktu karena gerakan. Di mematahkan teori sebelumnya bahwa waktu itu konstan, saya suka dan saya setuju.

Dalam teori waktunya Enstein mempertimbangkan subjeknya yang hidup, yang tumbuh dan bergerak. Waktu merupakan bagian seutuhnya yang menyatu dengan geometri ruang-waktu. Lalu apabila kamu selalu ingin bergerak tapi geometri ruang-waktu mu tak mau diajak bergerak? Apa arti waktu untuk mu? Bayangkan Mimpi itu ada disana, kamu bisa melihatnya, mengukurnya dalam jarak, menakarnya dalam waktu, lalu ruang inkubasimu memilih berhenti dalam gayanya sendiri. Saya selalu percaya saya harus terus bergerak, seperti serpihan hilang yang bertemu dengan “O” besar, menggelinding, menggelinding, dan terus menggelinding hingga kamu bisa menjadi “o” kecil membentuk dirimu sendiri.

Menunggu Mimpi

Menunggu itu adalah salah satu aktifitas yang membekukan waktu, seperti pagi kemarin saya mengambil nomor antrian CSO di bank BCA dengan asumsi bahwa masalah pemblokiran akses e-banking saya hanya bisa diselesaikan dengan konsultasi ke customer service bank bersangkutan. Saya menunggu dengan nomor antrian 10, sedangkan digit merah nomor antrian tertulis angka 6, masih 3 orang lagi hingga giliran saya. Belum lagi ada seorang Bapak yang mendapat panggilan khusus tanpa membawa antrian dipersilahkan untuk maju duluan ke meja customer service mendahului saya. Saya nyaris geram, tapi mencoba bersabar dengan berfikir positif bahwa mungkin proses transaksinya hanya sebentar. 15 menit kemudian 2 orang staff customer service bank itu masih sibuk melayani masalah administrasi si Bapak. 

Saya gelisah, karena saya punya janji lainnya yang menunggu dan tidak mau telat. Sampai meja customer service saya langsung ceritakan masalah saya, dan ternyata masalah saya hanya perlu diselesiakan melalui telpon dan mesin ATM tanpa harus dibawa ke customer service, dan petugas tidak bisa melakukan apa-apa karena hal tersebut hanya bisa diselesaikan melalui telpon. Sekali lagi saya mengutuk kebodohan diri saya yang penuh asumsi. “Assumption is the mother of all fuck-ups” istilahnya, kenapa saya yang biasanya menggunakan google untuk mencari jawaban atas masalah teknis macam ini bisa melupakan hal itu. Saya langsung keluar mencari sinyal menelpon Hallo BCA, dan mengaktifkan kembali e-banking saya melalui ATM hingga keluar pin baru. Semua itu tidak lebih dari 15 menit, bandingkan dengan waktu saya menunggu di bank dan mengulur waktu saya untuk segera ke bank menyelesaikan masalah ini. It took doubled, tripled, and quadruple my time

Bisa dibilang bukan gerak kali ini yang mengacak waktu saya, tapi asumsi. Seperti saya yang selalu berasumsi untuk tidak pernah punya waktu untuk menulis, berasumsi bahwa cerita fiksi di dalam blog saya tidak akan membuat saya hidup, berasumsi bahwa mungkin menulis bukan jalan hidup dan passion saya, berasumsi bahwa usia saya masih terlalu muda untuk membuat sebuah karya sendiri, berasumsi bahwa saya tidak bakat menjalani perusahaan saya sendiri setelah merasa gagal dengan satu perusahaan yang saya bangun dan terdampar pada tarik ulur dan stagnasi perushaan kedua. Saya berasumsi dan saya tidak berani menguji asumsi saya, saya kemudian stagnan pada satu ruang geometri yang memiliki daya tarik gravitasi dari mana-mana. Bayangkan jika sebuah objek dalam sebuah ruang dibentangkan dalam benang-benang karet elastis yang menariknya dalam 10 sudut berbeda dalam kekuatan tarikan yang sama, ia akan mengambang ditengah ruang tidak bergerak ke arah manapun. Bagaimana dia bisa mencapai tujuannya kalau begitu?

Mencari Gravitasi

If a body gives off the energy L in the form of radiation, its mass diminishes by L/c²“. Kalimat itu berarti kalau benda meradiasikan energinya sebesar L (dulu Einstein menggunakan notasi kuno L) maka massanya akan hilang sebesar L/c2. Jika dibuat notasi modernnya persamaan itu menjadi m = E/c^2 atau E = mc^2. Coba bayangkan jika L adalah waktu atau energi yang habiskan sepanjang umur kita untuk berbagai hal dalam hidup kita yang ingin kita jalani dan ingin kita ladeni, berapa banyak masa yang sedikit demi sedikit hilang? Saya dan gravitasi adalah sebuah fenomena alam semesta yang terjadi karena interaksi antar partikel. Adalah Albert Einstein yang pertama kali mencoba menggabungkan interaksi gravitasi dengan elektomagnetik untuk mendapatkan sebuah teori umum “Teori Segalanya” (Theory of Everything) dan menghabiskan lebih dari 30 tahun sisa hidupnya berkutat pada masalah ini, namun dia gagal.

“Kamu tuh cuman kurang fokus” Ujar salah satu gravitasi yang menampar saya. “Kamu masih banyak maunya” gravitasi itu menarik sekali lagi, bagai seutas benang layangan yang ditarik kencang untuk memutus benang layangan satunya. Gravitasi itu menyadarkan saya pagi ini. Bahwa saya masih terjebak pada keinginan-keinginan pembuktian, kemauan-kemauan pemenuhan kebutuhan, tanpa benar-benar bertanya pada diri saya apa yang sebetulnya membuat saya bahagia pada intinya. 

Lalu bagaimana saya harus menemukan inti dalam diri saya dan belajar mengelola waktu saya untuk mencapai inti kebahagiaan dalam diri saya? “The most important thing is remembering the most important thing” kata Zen. Kita harus memiliki cara pandang yang berbeda terhadap waktu. “The Tao never strives, yet nothing is left undone.” Lao Tsu mengarahkan. Kita selalu berfikir bahwa mengelola waktu seperti permainan mengurut angka. Lalu akan muncul dalam catatan kita , to do list, 5 things to do before…, dan kita membagi bagi ukuran waktu dalam tiap angkanya. Kita membuat daftar seperti seorang pemanah, memanah dengan fokus pada target.

Satu persatu kita mulai mencoret daftar tugas dan hal yang sudah kita lakukan. Dan percaya atau tidak, hal itu tidak akan pernah selesai kita lakukan. Akan selalu ada hal baru yang masuk didalam daftar kita. Dan tanpa sadar kita akan mulai menerima berbagai hal yang berasal dari daftar pekerjaan dan keinginan orang lain yang tiba-tiba menggeser daftar dan urutan prioritas kita, sebelum kita menyadarinya, kita sudah beraktifitas sepanjang hari melakukan apa yang tidak ada dalam daftar yang kita buat dan mulai bertanya, “Kemana semua waktu saya?” Mulai sedih  melihat betapa cepat hari terlewati meninggalkan kita.

Mastery of the worlds is achieved by letting things take their natural course. If you interfere with the way of Nature, you can never master the world” ujar Tao Te Ching. Kita lupa bahwa kita yang berhak melakukan kontrol terhadap hidup kita. Kita lupa bertanya apakah kita benar benar bahagia dan menikmati apa yang kita lakukan dalam arti kata sesungguhnya? Pernahkan kita mengukur tingkat kebahagiaan kita dibandingkan mengukur pencapaian kita dalam hal yang kita lakukan di daftar to do list kita? Einstein tau dan menyadari itu, alam semesta selalu berada dalam keadaan chaos, berubah dengan tiba-tiba, non-linier dan tidak terduga.

Teori Chaos berkaitan dengan hal-hal non-linear yang tidak efektif yang tidak mungkin untuk diprediksi atau kontrol, seperti turbulensi, cuaca, pasar saham, keadaan otak kita, perubahan struktur organisasi, pemecatan yang tiba-tiba, musibah dan bencana alam. Fenomena ini sering digambarkan oleh matematika fraktal, yang menangkap kompleksitas tak terbatas alam. Menurut Einstein, sejauh hukum matematika mengacu pada realitas, mereka tidak akan yakin, dan sejauh mereka yakin, mereka berarti tidak mengacu pada realitas. Jadi sudahkan kita bertanya apakah kebahagiaan kita adalah sesuatu yang murni dari dalam kita dan bukan dari kekacauan yang diciptakan oleh alam semesta? Apakah kita bahagia dalam realitas? Atau kita secara realitas bahagia?

Semoga pertanyaan-pertanyaan saya bisa membantu kita mencari gravitasi mana yang akan menarik kita pada satu tujuan utama yang ingin kita capai dalam hidup ini. Karena hanya dengan membiarkan diri untuk tertarik pada satu gravitasi terkuat kita bisa lebih cepat mencapai tujuan kita melampaui batas ruang dan waktu, untuk berhenti membuat daftar to do list ataupun bucket list namun menyerahkan diri pada satu jawaban sederhana dalam diri kita. “Out of clutter, find simplicity. From discord, find harmony. In the middle of difficulty lies oportunity”. Albert Einstein

Share this: