My Body Is Not Delicious

Saya begitu miris menatapi barisan foto dalam album salah satu perempuan yang berprofesi sebagai model, satu sisi hati saya begitu tergugah walau saya tidak mengenal perempuan tersebut. Saya hanya bisa berpikir, betapa beruntung mereka dianugerahi fisik yang sempurna dan cantik. Begitu bercahayanya mereka dalam balutan pakaian-pakaian model terbaru yang menutupi sedikit bagian tubuh mereka.

Tentengan tas-tas belanja dengan merek terkenal bersama teman-teman perempuan dengan penampilan sepandan, rokok di tangan kanan, gelas minuman di tangan kiri, pemandangan lampu disko di belakang, dengan turn table di depan, lengan mengalungi pundak lelaki muda rapi berpenampilan necis di sebelah kiri, bibir mencium lelaki tampan di sebelah kanan. Lalu saya coba meng-crop wajah sang model itu dan menempelkan foto saya menggantikan posisinya, saya pun terbahak-bahak. Sangat tidak sekali, saya putuskan untuk mengganti niat bodoh saya.

Saya pun teringat percakapan dengan roommate sekaligus sahabat saya ketika kami baru selesai menonton sebuah film berjudul “Taken” yang menceritakan tentang anak seorang mantan agen rahasia America yang diculik untuk dijual dalam konspirasi internasional perdagangan perempuan (human trafficking). Penculikan tersebut terjadi dikarenakan sang anak ceroboh dalam mewaspadai keamanan dirinya ketika mereka sedang berlibur ke Paris. Lalu saya pun berkomentar ringan pada teman saya, betapa hal tersebut ada dan sangat mudah bisa saja terjadi pada kita ya. Lalu teman saya tertawa, sambil menjawab. “Le, kita mana mungkin jadi mangsa woman trafficking kayak gitu, liat aja kriteria yang jadi korban-korbannya, minimal harus memiliki tubuh proporsional dan enak dipandang, cantik dan menarik.” Saya pun tertawa terbahak-bahak lagi menjawab komentar teman saya tersebut.

Ketika perempuan menjadi sebuah objek dan mereka sangat menyadari hal tersebut sebagai potensi untuk mendapatkan bentuk kehidupan yang sangat glamor, kelas atas, atau eksklusif, karena hanya bisa dinikmati oleh orang-orang berkocek tebal, mereka pun terbius, beberapa tidak lagi ambil pusing mengenai posisi mereka sebagai objek maupun subjek. Bahkan posisi objek itu pun kemudian menjadi lahan basah bagi mereka untuk dijadikan mata pencaharian seperti profesi model, artis, ataupun bintang sinetron.

Apa pun yang menjadikan mereka penghibur visual khalayak pengkonsumsi media. Mereka kemudian sangat menikmati gelimangan perhatian dan materi berlimpah atas eksploitasi mereka sebagai objek. Mereka menikmatinya dan mereka bahagia, tak apa. Saya akui saya pun salah satu penikmat tontonan macam ini. Saya suka melihat perempuan dalam dandanan beraneka macam rupa dan bentuk, saya menikmati perempuan-perempuan cantik. Mungkin ini yang jadi salah satu alasan mengapa majalah perempuan memasang foto model perempuan, dan majalah lelaki tetap memasang model perempuan. Tapi ini hanya sebatas saya menjadi penonton, karena menikmati mereka dari luar dalam ruang inkubasi yang sama lebih menarik untuk diobservasi dan ditelaah dibandingkan saya harus berada dalam sepatu yang sama, karena jujur saja saya tidak kuat memakai high heels ataupun stiletto.

Ketika roommate saya bertanya apakah saya suka dugem, saya pun menjawab, satu-satunya rave party yang pernah saya hadiri itu adalah penampilan DJ Tiesto di Ancol, dan alasan saya berada di sana adalah karena saya bertindak sebagai panitia cabutan yang berkewajiban mengurus toilet. Terima kasih untuk bapak Aldi yang pernah memberikan kerja sambilan ini, sehingga saya berkesempatan untuk menonton lautan manusia dalam kondisi trans dari atas panggung. Begitu menarik melihat pemandangan luar biasa ratusan wanita cantik berdandan seksi dengan berbagai macam perilaku yang jarang saya dapati di kehidupan normal saya. Kembali pada bahasan perempuan sebagai subjek atau objek, saya tidak memihak salah satunya. Semua sah-sah saja dalam kadar pertimbangan masing-masing individu, vice versa. Hanya saja saya sedang berusaha menekan gejolak perut dan pemikiran subjektifitas saya dalam memandang kehidupan perempuan di luar bentuk kehidupan yang saya jalani.

Teringat lagi cerita roommate saya tentang cerita temannya yang menyandang beasiswa ADS dan sama-sama sedang belajar di Melbourne. Temannya yang merasa sangat ber”otak” tersebut baru saja bertemu dengan salah satu artis muda Indonesia yang sama-sama sedang menuntut ilmu di sana. Temannya itu menjawab secara acuh tak acuh pertanyaan ringan biasa dari sang artis muda yang mencoba untuk membangun percakapan layaknya individu. Ia memposisikan dirinya sebagai seseorang yang tidak mau disalahkan jika tidak pernah lagi mau peduli dengan semua hal yang berbau dunia keartisan Indonesia. Dilanjutkannya dalam nada yang sangat-sangat mencemooh dengan membandingkan posisi sang artis muda dengan orang lain yang lebih berpengaruh di dunia seperti Margaret Teacher, Hillary Clinton, dan sebagainya. Lagi-lagi mengesankan bahwa sang penyandang beasiswa jauh lebih berharga untuk hidup di dunia dibandingkan sang artis. Saya pun hanya bisa miris dan dalam hati saya, tidak sepatutnya juga sang intelektual bersikap demikian terhadap sang artis. Saya pun tidak mengingkari adanya kebutuhan ikon ataupun simbol manusia terhadap manusia lain berupa identitas.

Tapi ketika salah satu identitas dianggap berada di posisi yang lebih tinggi dibandingkan identitas yang lain, ini yang mungkin jadi salah kaprah. Baik sang artis maupun sang intelek tidak ada yang mau kalah, mereka menaruh kecurigaan satu sama lain, yang menyebabkan komunikasi dan hubungan di antara mereka tidak terbangun secara imbang ataupun dua arah. Saya pun hanya memberikan komentar sehubungan dengan cerita tersebut dengan rasa kasihan pada si artis dan berharap seandainya sang intelektual mau berpikir lebih luas betapa manusia membutuhkan hiburan, dan hal tersebut tidak akan terlepas dari peran sang artis. Dan apa salahnya dengan menjadi artis yang berposisi sebagai objek dengan simbol dan identitas yang merekat pada mereka.

Terbayanglah dunia tanpa hiburan, tanpa film, sinetron, telenovela, opera sabun, ataupun drama korea. Majalah-majalah mode tanpa model manusia, dan iklan-iklan televisi hanya berisi gambar kartun dan tulisan. Akuilah, kita saling membutuhkan dalam simbiosis mutualisme. Dan lagi kalaupun saya harus menggunakan ikon public figure untuk kampanye peduli lingkungan di Indonesia, saya tidak akan mungkin menggunakan Hillary Clinton sebagai model iklan saya. Karena ibu-ibu penikmat sinetron dan pengkonsumsi televisi yang berada di daerah, notabene merasa sangat asing dengan wajah bule mereka. Bisa jadi mereka lebih aware apabila pesan tersebut disampaikan oleh pemeran utama perempuan dalam sinetron.

Kita manusia dan pandanglah orang lain sebagai manusia, membagun pemikiran dengan lebih terbuka dan bijak akan membuat hidup kita lebih ringan, dan lagi identitas hanyalah pelekat dalam diri individu. Seyogyanya kita lepaskan kacamata kuda kita sekarang dan mencoba untuk memposisikan diri baik sebagai objek maupun subjek. Semua punya kapasitas dan peranan masing-masing.

Share this: