Live, Learn, and Grow 

a digital footprint of a daydreamer, full-time adventurer and a mother

Harapan, Keyakinan, dan Ketabahan

Apakah harapan itu, sebagaimana dikira banyak orang berarti menghendaki dan menginginkan? Jika demikian, orang yang menginginkan mobil, rumah dan perkakas yang lebih banyak dan lebih bagus lagi dapat disebut sebagai orang yang berharap.
Apakah disebut harapan jika objek harapan itu bukan berupa sesuatu (benda) melainkan kehidupan yang lebih bermakna, suatu kondisi hidup yang lebih menyenangkan, bebas dari kejenuhan yang berkepanjangan atau — dalam istilah teologis — untuk keselamatan atau dalam istilah politik — untuk revolusi? Memang dalam hal ini dapat dikatakan harapan. Akan tetapi itu semua bukan harapan jika mengandung sifat kepasifan dan “menunggu untuk”.
Harapan merupakan unsur yang sangat penting dalam setiap upaya mengadakan perubahan sosial agar menjadi lebih hidup, lebih sadar dan lebih berakal. Akan tetapi watak harapan sering disalahpahami dan dirancukan dengan sikap tidak bekerja, padahal kenyataannya tidak demikian.

Berharap adalah pernyataan manusia. Ia merupakan kesiapan batin, ia intens tetapi belum merupakan keaktifan. Harapan merupakan aspek psikis untuk hidup dan tumbuh. Jika pohon tidak mendapatkan sinar matahari, maka batang itu membelok ke arah dimana sinar itu datang. Kita dapat mengatakan bahwa pohon berharap dengan cara yang sama seperti manusia, tetapi harapan pada manusia dihubungkan dengan perasaan dan kasadaran yang tidak dimiliki pohon. Dan, sekalipun tidak akan disalahkan mengatakan bahwa pohon berharap akan sinar matahari dan mengungkapkan harapan ini dengan membelokkan batang ke arah matahari. Apakah itu berbeda dari arah yang dilahirkan? Bukankah orang sakit berharap untuk sehat, narapidana berharap untuk bebas, orang lapar berharap makan? Bukankah bercinta mengimplikasikan harapan manusia terhadap potensinya, terhadap kemampuannya untuk membangkitkan partnernya, dan harapan perempuan untuk merespon dan membangkitkan dia?

HARAPAN DAN WATAKNYA
Harapan itu bersifat paradoks. Harapan bukanlah menunggu secara pasif juga bukan pemaksaan yang tidak realistis terhadap keadaan yang tidak bisa dilakukan. Ia seperti harimau yang diringkus, yang akan melompat hanya jika waktunya untuk melompat tiba. Berharap berarti siap setiap saat terhadap apa yang belum lahir, dan tidak menjadi sedih jika tidak ada kelahiran dalam hidup kita. Tidak ada kesadaran dalam berharap terhadap apa yang sudah atau apa yang yang tidak akan mungkin ada. Orang yang mempunyai harapan kurang berminat terhadap kenikmatan atau kejahatan; orang yang mempunyai harapan memandang dan sangat menghargai semua tanda-tanda kehidupan baru dan selalu siap membentuk kelahiran apapun yang bisa dilahirkan.

Diantara kebingungan-kebingungan tentang harapan, salah satu yang paling gawat adalah kegagalan membedakan antara “harapan yang sadar dari “harapan yang tidak sadar”. Ini suatu kesalahan, utama yag terjadi dengan memandang pada beberapa pengalaman emosional lain, seperti kebahagiaan, kecemasan, kejenuhan dan kebencian. Salah satu contoh; kebanyakan orang tidak mengizinkan diri mereka sendiri merasa ketakutan, kejenuhan, kesepian dan ketidak berdayaan – dapat dikatakan bahwa semua itu adalah alam tidak sadar perasaan-perasaan ini. Ini merupakan alasan yang sangat sederhana. Dalam pola sosial kita, orang yang sukses tidak dihantui oleh perasaan takut, jenuh atau sepi. Dia harus menemukan dunia yang lebih baik dari semua dunia ini, agar dapat berubah menjadi lebih lebih baik dia harus menekan ketakutan sebagaimana keraguan, depresi, kejenuhan dan ketidakberdayaan.

Banyak orang yang secara sadar merasa penuh harapan dan secara tidak sadar putus asa; dan ada beberapa orang yang mempunyai cara lain. Apa yang menjadi masalah dalam menguji harapan dan keputusasaan bukan terutama pada apa yang dipikirkan oleh orang tentang peranan-peranan mereka, melainkan pada apa yang benar-benar mereka rasakan. Ini dapat dilihat paling tidak dari kata-kata dan ungkapan-ungkapan mereka, juga dapat dideteksi dari ekspresi-ekspresi wajah mereka, cara mereka berjalan, kemampuan mereka untuk mencapai sesuatu yang mereka inginkan, yang ada di depan mata mereka dan kurangnya sikap fanatik tampak dalam kecakapan mereka untuk mendengarkan argumen yang rasional.

KEYAKINAN
Jika harapan sirna, maka secara aktual maupun potensial, kehidupan pun musnah. Harapan adalah unsur instrinsik struktur kehidupan, dinamika spirit manusia. Harapan berhubungan erat dengan unsur lain dari struktur kehidupan: yakni keyakinan (faith). Keyakinan itu bukan bentuk lemah dari kepercayaan atau pengetahuan. Ia juga bukan merupakan keyakinan terhadap ini atau itu. Keyakinan adalah kepastian terhadap yang belum terjamin, pengetahuan tentang kemungkinan riil, kesadaran akan “kehamilan”. Keyakinan itu adalah rasional apabila ia menunjuk pada pengetahuan dari kenyataan yang belum dilahirkan; ia didasarkan pada kemampunan untuk mengetahui dan memahami, kemampuan untuk menembus permukaan dan melihat intinya. Seperti harapan, keyakinan bukan prediksi masa yang akan datang; ia adalah visi saat ini, dalam keadaan “kehamilan”. Pernyataan bahwa keyakinan sebagai kepastian memerlukan kualifikasi, itu adalah kepastian tentang realitas dari kemungkinan – tetapi bukan kepastian dalam arti ramalan yang dapat dipersoalkan. Anak mungkin dapat dilahirkan secara prematur; ia mungkin mati dalam proses kelahiran; ia mungkin mati dalam dua minggu pertama dalam kehidupan. Itu bertentangan dengan keyakinan: ia adalah kepastian dari ketidakpastian. Keyakinan, dalam pengertian visi dan pemahaman manusia, merupakan suatu kepastian. Tetapi dalam kenyataannya bukan merupakan suatu kepastian.

Ada pemisahan antara keyakinan yang rasional dan keyakinan yang irrasional. Sementara keyakinan yang rasional adalah hasil dari aktivitas batin seseorang sendiri, dalam pemikiran atau perasaan, keyakinan yang irrasional tunduk terhadap sesuatu hal dimana seseorang menerimanya sebagai kebenaran tanpa mempedulikan apakah itu benar atau tidak. Unsur pokok semua keyakinan yang irrasional adalah karakternya yang pasif, objek pemujanya, pemimpin atau ideologinya. Bahkan seorang ilmuwan harus bebas dari keyakinan irrasional dalam pemikiran kreatifnya.

Harapan dan keyakinan menjadi kualitas-kualitas hidup yang essensial, watak alamiahnya bergerak ke arah yang melampaui status quo, baik secara individual maupun secara sosial. Ia merupakan salah satu kualitas dari seluruh kehidupan di mana ia berada dalam proses perubahan terus-menerus dan tak pernah memperthankan momen-momen yang sama. Kehidupan yang stagnan cenderung mati. Jika mengalami kemacetan total, maka kematian telah berlangsung. Sebaliknya, kehidupan yang kualitasnya bergerak cenderung mendobrak dan mengatasi status quo. Kita tumbuh menjadi lebih kuat atau lebih lemah, lebih bijaksana atau lebih bodoh, lebih berani atau menjadi pengecut. Setiap saat adalah suatu momen keputusan untuk lebih baik atau lebih buruk. Kita “memberi makan” kepada kemalasan, keserakahan dan kebencian atau membiarkan mereka “kelaparan”. Sebagian dari kita ada yang memberi makan kepada mereka dan dengan demikian membuat lebih kuat, sementara yang lain membiarkan mereka kelaparan dan dengan demikian membuat mereka menjadi lemah.

Apa yang dianggap benar bagi individu dianggap benar pula bagi masyarakat. Ia tidak pernah berhenti. Jika ia tidak tumbuh, ia akan hancur. Jika ia tidak melampaui status quo untuk lebih baik, maka ia akan berubah menjadi buruk. Sering kita, baik individu maupun orang-orang yang membentuk masyarakat, mempunyai ilusi bahwa kita dapat menahan kesunyian dan tidak merubah situasi dari arah yang satu ke arah yang lain. Ini merupakan salah satu ilusi yang berbahaya. Pada saat kita menahan kesunyian, kita mulai rapuh.

KETABAHAN
Ada unsur lain yang berhubungan dengan harapan dan keyakinan dalam struktur hidup: keberanian (courage) atau apa yang dinamakan Spinoza “ketabahan” (fortitude). Ketabahan mungkin merupakan ungkapan yang kurang ambigu, karena dewasa ini kata “keberanian” sering digunakan untuk mengungkapkan keberanian untuk mati daripada keberanian untuk hidup. Ketabahan merupakan kemampuan untuk melawan perjuangan, untuk memadukan antara harapan dan keyakinan dengan mentransformasikan mereka — dan dengan demikian merusak mereka — ke dalam optimisme kosong atau keyakinan irrasional. Ketabahan adalah kemampuan untuk mengatakan “tidak”, ketika dunia ingin mendengarkan “ya”.

Tetapi ketabahan tidak bisa dipahami tanpa kita menyebutkan terlebih dahulu aspek yang lainnya: ketidaktakutan (fearless). Orang yang tidak takut tidak khawatir terhadap ancaman-ancaman, bahkan terhadapa kematian. Akan tetapi sedemikian sering kata “tidak takut” menyelimuti sikap-sikap yang sama sekali berbeda.

Pertama, seseorang bisa menjadi tidak takut karena dia tidak memperhatikan hidup; hidup tidak bermakna bagi dia, dengan demikian ia akan ketakutan di kala ia didatangi bahaya kematian; tetapi ketika dia tidak takut terhadap kematian, dia mungkin takut terhadap kehidupan. Dalam kenyataannya, dia sering mencari situasi-situasi yang berbahaya untuk menghindarkan ketakutannya dari hidup, baik terhadap dirinya sndiri maupun terhadap orang lain.

Kedua, ketidaktakutan orang yang hidup dalam ketundukan simbolik terhadap berhala, terhadap seseorang, lembaga atau ide-ide tertentu. Perintah-perintah berhala dikeramatkan. Mereka jauh lebih memaksa daripada memerintahkan untuk mempertahankan kehidupan jasmaniahnya. Jika dia membangkang atau meragukan perintah-perintah berhala ini, maka dia akan menghadapi bahaya kehilangan identitasnya dengan berhala. Ini berarti dia meninggalkan resiko menemukan dirinya dalam keterasingan total dan, dengan demikian, diambang pintu kegilaan. Dia menghendaki mati karena dia takut menampakkan dirinya sendiri terhadap bahaya ini.

Ketiga, ketidaktakutan orang-orang yang berkembang secara penuh, orang yang bersandar pada dirinya sendiri dan mencintai hidup. Pribadi yang telah mengatasi sifat serakah tidak berpegang teguh terhadap berhala atau benda dan dengan demikian tidak mempunyai perasaan kehilangan: dia kaya karena dia kosong, dia kuat karena dia bukan budak nafsunya. Dia dapat meninggalkan berhala-berhala, hasrat-hasrat irrasional dan fantasi-fantasinya karena dia berhubungan dengan penuh realitas, disamping, dan diluar dirinya sendiri. Jika seseorang. Jika seseorang telah mencapai “pencerahan” semacam ini, maka dia sudah “tidak takut” dalam arti sebenarnya. Jika ia bergerak menuju arah ini tanpa berusaha hadir, ketidaktakutannya tidak akan sempurna. Akan tetapi seseorang yang mencoba bergerak menuju pada status menjadi dirinya sendiri sepenuhnya, mengetahui bahwa kapanpun langkah baru menuju ketidaktakutan diciptakan , sadar akan kekuatan dan kenikmatan yang dibangkitkan itu tidak dapat ditiru. Dia merasa bahwa fase hidup baru telah dimulai. Dia bisa merasakan kebenaran apa yang dikatakan Goethe: “Saya telah meletakkan rumahku diatas kehampaan, karena seluruh dunia adalah milikku”.

MENGHANCURKAN HARAPAN
Jika harapan, keyakinan dan ketabahan merupakan hal yang intrinsik dalam kehidupan, bagaimana dengan orang-orang yang kehilangan harapan, keyakinan dan ketabahannya dan mencintai perbudakan dan ketergantungannya? Adalah pasti bahwa kemungkinan kehilangan ini merupakan karakteristik eksistensi manusia. Kita memulai perjalanan dengan harapan, keyakinan dan ketabahan – hal-hal ini merupakan alam tak sadar, non pemikiran, tetapi ketika kehidupan dimulai, maka perubahan lingkungan dan aksiden pun mulai mempengaruhinya, mendukung atau menghambatnya.

Kebanyakan kita berharap untuk dicintai, tidak saja hanya untuk dimanjakan dan diberi makan tetapi untuk dipahami, dipelihara dan dihormati. Kebanyakan kita berharap bisa mempercayai. Ketika kita hanya memiliki sedikit pengetahuan, kita belum mengetahui tentang kedustaan manusia, bukan hanya mengenai dusta dengan kata-kata, melainkan juga dusta dengan suara seseorang, gerak-gerik, kerlingan mata seseorang dan ekspresi wajah seseorang. Kita sering dikejutkan oleh kenyataan bahwa orang sering tidak mengerti maksud apa yang mereka katakan, atau orang yang mengatakan sesuatu berlawanan dengan apa yang mereka maksudkan. Dan tidak hanya orang pada umumnya, melainkan orang-orang kita percaya, seperti orang tua kita, guru kita dan pemimpin kita.

Beberapa orang memalingkan wajah mereka ke tempat di mana perkembangan harapan-harapan mereka dikecewakan, bahkan dirusak sama sekali. Mungkin hal ini ada baiknya juga. Jika seseorang tidak pernah mempunyai pengalaman tentang kekecewaan harapan mereka, bagaimana ia menjadi kuat dan tak terpadamkan? Bagaimana dia bisa mengelak dari bahaya menjadi pemimpi yang optimistik? Tetapi di lain pihak, harapan sering dihancur-lumatkan, sehingga orang tidak dapat menemukannya lagi.

Dalam kenyataannya, respon dan reaksi terhadap penghancuran harapan sangat kuat, tergantung pada keadaan historis, personal, psikologis dan institusional. Beberapa orang mungkin tidak mengalami kekecewaan , karena mereka menyesuaikan optimisme umum yang mana mereka mengharapkan yang lebih baik tanpa bersusah payah mengakui bahwa bukan kebaikan tetapi mungkin kejelekan bisa terjadi. Selama masing-masing orang tidak bersedih, masyarakat tidak bersedih pula. Dan daripada merasakan keputusasaan, mereka tampak berpartisipasi dalam jenis konser pop.

Akibat lain dari penghancuran terhadap harapan adalah “pembekuan hati”. Kita menyaksikan orang-orang – dari anak-anak yang nakal sampai orang dewasa yang keras kepala – yang pada suatu saat kehidupan mereka, tidak bisa berdiri untuk dilukai lagi ; bahwa tidak ada seorang pun yang pernah melukai mereka , tetapi mereka akan dapat melukai orang lain. Mereka mungkin bingung mengenai nasib buruk karena tidak menemukan teman atau siapapun yang mencintai mereka. Dalam keadaan bingung dan hampa, mereka tidak dapat menyentuh maupun disentuh oleh siapa pun. Keberhasilan mereka dalam hidup bukan untuk membutuhakan seseorang. Mereka mengambil kebanggaan dalam kenyataan bahwa mereka tidak dapat dihinakan. Secara sederhana mungkin mereka menemui seseorang dalam perhatian dan keprihatinan yang mereka yakini, dan merupakan dimensi baru dari perasaan yang terbuka. Jika mereka beruntung, mereka tidak mengalami kebekuan total dan secara bersamaan benih-benih harapan yang nampaknya telah dihancurkan, mendatangi kehidupan.

Akibat lain yang lebih trasis dari penghancuran terhadap pengharapan adalah munculnya tindakan-tindakan destruktif dan kekerasan . Justru karena manusia tidak dapat hidup tanpa harapan, orang yang hancur harapannya akan membenci hidup. Karena dia tidak dapat menciptakan hidup, maka dia ingin menghancurkannya.

Biasanya reaksi destruktif karena hancurnya harapan terdapat diantara orang-orang yang terdepak dari kesenangan-kesenangan mayoritas dan tidak mempunyai tempat baik secara sosial maupun ekonomis, karena alasan-alasan sosial atau ekonomis. Berbicara secara psikologis, tindakan-tindakan destruktif merupakan alternatif dari harapan, sedangkan ketertarikan terhadap kematian merupakan alternatif dari cinta terhadap hidup. Dan kenikmatan merupakan alternatif dari kejenuhan.

Individu tidak hanya hidup dengan harapan. Bangsa dan kelas sosial hidup melalui harapan, keyakinan dan ketabahan, dan jika mereka kehilangan potensi ini akan tenggelam – juga karena kekurangan mereka akan vitalitas atau perusakkan irrasional yang mereka kembangkan. Harapan, keyakinan dan ketabahan merupakan hal yang intrinsik dalam kehidupan.

Yang perlu dicatat dari kenyataan, bahwa perkembangan harapan atau keputusasaan dalam individu secara luas ditentukan oleh kehadiran harapan dan keputusasaan dalam masyarakat atau kelasnya. Bagaimana pun harapan akan individu yang hancur mungkin telah terjadi pada masa kanak-kanak, jika ia hidup dalam suatu periode harapan dan keyakinan, maka harapannya sendiri akan dikobarkan. Di lain pihak, orang yang mempunyai pengalaman yang menyebabkan dia penuh harapan akan cenderung ditekan dan putus asa ketika masyarakat dan kelasnya telah kehilangan spirit harapan.***

Mantra Opera Jawa

Mari kita merenung lagi, agar terpisah hasrat, agar memutih mimpi

Dua hari saya bersama film tembang “Opera Jawa” Garin, dan potongan-potongan “Perempuan Punya Cerita”. Iya, saya perempuan, begitu dekat tergambarkan dalam cerita-cerita berlatarkan kisah yang berwarna. Baiklah, saya perempuan Jawa, begitu lekat dengan bahasa ibu, seperti tertidur dipangkuan beliau bermanja dengan nasihat tentang nilai-nilai hidup yang bijak. Lebih lanjut, perempuan jawa yang terlahir di kota metropolis dengan referensi modernisme bentukan media, pergaulan sosial, dan pengalaman indera.

Lalu saya lari dari pulau Jawa ke Australia seperti tikus buta, tapi dalam cerita fable kali ini kami tidak berempat, hanya saya sendiri. Berbekal sebutan “perempuan Jawa yang lahir dan besar di Jakarta dan tak tau mengapa sekarang berada di Australia” saya hanya mau menikmati indahnya rima akhir dari 3 tempat tersebut yang ternyata sama bila diucapkan bersamaan. Terdengar ngga penting, tapi saya selalu mencintai hal-hal kecil yang menarik untuk dikulik dan dimengerti. Mungkin dulu saya adalah titisan pengkolektor serangga langka, hingga berhobi seperti ini.

Perjalanan mencari kebijakan, biasanya pasti berujung dalam cerita klise yang membosankan. Hah, saya pun tak pernah peduli karena saya masih mencintai mimpi, mimpi yang tak perlu saya ucapkan, mimpi yang saya hayati dalam hati dan saya tanamkan dengan sungguh sungguh karena bagi saya eksistensi itu hanya basa basi dan pada dasarnya manusia memang selalu menyukai basa basi, saya mau jadi kancil sajah untuk urusan yang satu ini. Mencoba untuk mendalami apa nilai-nilai penggerak tingkah laku dan sikap manusia dalam bertahan hidup sebagai mahluk sosial di lingkungannya, seperti mahmoot yang bertanya-tanya mengapa bumi harus bergejolak dari jaman es menjadi jaman reptil.

Dalam potongan film tersebut mucul simbol-simbol tentang kuasa, dan hasrat yang begitu manis terlekatkan dalam sosok perempuan. Tidak heran apabila kemudian terlahir istilah, “Harta, Tahta, dan Wanita” yang akhirnya mungkin malah sedikit membingungkan interpertasi terhadap peranan perempuan di dalam kehidupan sosial. Apakah istilah itu mengangkat drajat perempuan, atau malah hanya menjadikan perempuan sebagai objek yang harus diraih dan dimiliki. Saya mungkin hanya bisa sedikit menceritakan interpertasi perempuan dalam film yang saya sebut diawal, hanya sebuah catatan ini persepsi saya, jadi harap maklum seandainya berbeda dengan anda.

Dimulai dari perempuan bernama Siti dalam lakonnya sebagai Shinta, penggambaran perempuan sebagai pengendali sekaligus pencipta hasrat, karena dalam plot cerita yang mengadaptasi kisah Ramayana ini, Siti adalah Shinta yang disepuh dalam kemasan kekinian. Oya, kekinian disini bukanlah modernitas yang tergambarkan oleh sosok perempuan berstelan blazer menenteng tas berlogo LV, rambut rapi dari salon, keluar dari mobil dan masuk ke gedung perkantoran di SCBD Sudirman. Tapi kekinian disini adalah sosok istri seorang pengrajin tembikar di sebuah desa terpencil di Jogjakarta dengan rambut hitam panjang terurai, bedaster lusuh dibawah lutut, menenteng periuk nasi dari bambu, bersepeda ontel, dan mencintai tari.

Siti dan Setyo, dua insan yang “gandrung” dalam ikatan pernikahan dengan buntut-buntut kesetiaan, pengabdian, perjuangan, pengorbanan. Dalam kisah ini Siti menanggalkan kesenangannya menari semenjak ia menikahi Setyo, sebagai bentuk penghargaan terhadap sang suami. Saya tidak akan menceritakan secara detail plot film ini, karena film dan resensinya sudah bisa di streaming dan dibaca dimana-mana. Film ini terasa begitu dekat dengan saya, karena dialog yang dibawakan dalam tembang bahasa Jawa bisa dengan mudah saya mengerti. Dan lagi nilai tentang hidup, manusia, kekuasaan, pergolakan batin, dan politisasi rasa, bisa dengan cantik dimainkan oleh beragam simbol dan elemen-elemen seni yang melekat hampir disemua unsur film.

Aduh, saya ngapain sih, seharusnya saya ngga perlu menginterpertasikan film itu sejauh ini, terasa ribet jadinya, padahal enakan nonton santai ngga usah mikir sambil ngemil indomi kering. Hahahaha, yah mungkin itu tadi, bawaan reinkarnasi dan alam eksitensi yang mengkumat. Dan lagi saya hanya tertarik pada penggkarakteran Siti yang bukan Shinta. Siti yang kuat, dengan refleksi tarik ulur nakal permainan batin kesetiaannya terhadap Setyo untuk kemudian dia ubah menjadi antithesis amarah dan jejakan yang mendorong Ludiro a.k.a Rahwana mepet ke tembok hingga Ludiro mewek ke simboknya karena patah hati.

Siti tegas lugas mencoba mempertahankan kesejatiannya sebagai perempuan yang memperjuangkan harga dirinya. Disini sisi lemah lembut perempuan tidak ditinggalkan, tapi justru melengkapi dan memanusiakan sang perempuan itu sendiri, manis, karena siti sangatlah sadar bahwa dirinya sangat perempuan. Lucunya si Setyo, malah tidak bisa menerima kenyataan bahwa Siti itu hanya manusia bernama “perempuan”, ia begitu terperangkap pada kekaguman dan keagungan konsep Siti sebagai malaikat, tanpa nafsu, tanpa hasrat, tanpa keinginan, tanpa ambisi, dan tanpa gejolak. Setyo pun enggan beranjak dari keterbutaannya dan berambisi untuk selalu memiliki Siti dalam wujud yang telah tertanam di dalam benaknya. Ambisi yang mendorongnya membelah rongga dada siti dengan belati, untuk menggambil hatinya, agar tetap terjaga sebagaimana ia mau, diawetkan di dalam toples.

Selera Bangsa Terjajah

Sudah lama saya tidak menulis, tidak juga membaca. Saya pun buta, kata orang buta mendadak itu biasanya karena cinta, yah untuk hal yang satu itu mungkin sudah menjadi cerita biasa dari jaman ken arok dan ken dedes. Tapi saya ingin menulis lagi, bukan karena saya buta mendadak tapi karena saya baru saja kriyep-kriyep mengerjapkan mata melek melihat sisi dunia yang lain. Suatu ketika saya pernah menulis tentang monopoli visual dan selera bangsa terjajah,yang isinya curhatan ringan tentang konstruksi fisik wanita di era modern.

Tadi sore saya terduduk kulai di kursi tunggu stasiun clayton, berdiskusi kecil dengan teman sekamar saya tentang krisis kepercayaan diri wanita Indonesia sebagai perwakilan dari kaum wanita dunia ketiga atau bisa dibilang negara berkembang di ranah belantara budaya barat. Berhubung kami berdua tinggal di Australia jadi diskusi di persempit seputar pandangan kami tentang apa yang ada di kepala wanita seperti kami ketika berfikir untuk membuka hubungan dengan pria “bule”.

Teman saya ini memulai percakapan dengan melontarkan pernyataan bahwa dirinya merasa tersanjung setelah sahabat karibnya yang mahasiswa asing (catatan asing disini bukan india, bukan asia, dan bukan afrika-koq saya jadi terdengar rasis ya) menyatakan perasaannya pada teman saya ini. Kalau untuk istilah remaja Jakarta “nembak” lah. Lalu saya cerita tentang krisis percaya diri yang saya alami ketika mencoba membuka hubungan dengan pria-pria ber”ras” caucasian. Ada perasaan minder karena bagi saya mereka semua terlihat keren dan tampan. Kondisi tersebut bisa jadi dilatarbelakangi oleh pengalaman saya yang belum belum pernah pergi atau tinggal di luar negeri sebelumnya (ini tentu tidak menjadi masalah bagi teman diskusi saya yang SMP dan SMA nya dia habiskan di Sydney).

Rasa ketidak PD-an ini kemudian berkembang pada anggapan dalam diri saya bahwa sosok pria-pria bule tersebut adalah artis-artis idola yang dulu hanya bisa saya nikmati melalui layar TV dan layar lebar. Lucunya, ketika saya mulai menginjakan kaki di tanah jajahan Inggris ini, konstruksi pikiran saya pun memberikan sinyal bahwa sekelompok anak muda yang berdiri di pojokan stasiun adalah anggota band Blink 182, lalu cowok-cowok berkaos singlet, dengan celana pendek putih yang ngobrol di kereta tadi adalah Backstreet Boys, atau laki-laki yang terduduk di pojok kereta dengan stelan necis, earphone terpasang adalah sosok Ricky Martin.

Parahnya lagi, ketika saya mulai dapet kenalan online via myspace yang berlanjut lewat chatting-chatting YM, dan mereka mulai mengajak untuk kopdar (kopi darat) saya pun jadi takut setengah mati. Bukannya apa-apa, saya masih ngga tau bagaimana menghadapi dominasi persepsi “laki-laki bule=keren banget=seleb” di benak saya. Sayapun jadi mengalami keterpisahan budaya atau istilah kerennya:culture lag. Bener-bener ngelag, seperti laptop saya yang baru saja terserang spyware.

Nike & Adidas, Philosophy in Between

“And a man said, speak to us of self-knowledge, the hidden well-spring of your soul must need rise and run murmuring to the sea. And the treasure of your infinite depths would be revealed to your eyes. But let there be no scales to weight your unknown treasure. And seek not the depths of your knowledge with staff or sounding line. For self is a sea boundle and measureless.” (Kahlil Gibran, The Prophet)

Why there should be a distinction and difference. Why God created difference in every creatures and make distinctions in them. God must have a good purpose on it. I think some of the reasons are to make everything run in their own roles. Why God created the sun different from the earth? It is because the earth has a role to become a place for the human kind, animals, plants and any creatures to live. And the sun runs its function as a solar system in the universe. As a human we have an obligation to sharpen our mind so that we can keep thinking in the correct way in the correct form.

God had endowed mankind a brain that will bring and idea after the process of thinking. Thinking is an activity when a person talks to their self and deals with their ideas. Thinking is the root for human to be able to do something. The thinking process effect the whole idea of living itself, because in live we are faced by choices that we had to decide using our brain. In the brain all our consideration are carefully selected in the process of thinking. So it is necessary for us to learn distinction and difference in every side of this life, to think which one is correct, and which one is not because it will help us in making a good analysed.

We called it distinction when two things is not identical but still have the same form or shape and we called it differentiation when two things are not similar in its form and shape. Two things called identical, when one is another. And two things or more called similar whenever they are matched in form. When two things are similar in their reality (complete or not complete), the relations between both of them called logic identity. Whenever two things the same in quantity, the relations comes to equality.

DISTINCTION CAN BE DEVIDED IN TO:

  1. REAL DISTINCTION is the distinct between two realities that had already or just recently exist. The sign that indicate this distinction is one can transform without transforming the others, if both were to be separate each can still stand by itself, one thing is the result of the other and when in both hold a contradiction with each other.
  2. LOGIC DISTINCTION is the distinct between two concepts but in the same reality. That two concept can be both hold the same opinion or hold separate opinion. The concept is made by subjective reason; May is unanimity and become one identity. Logic distinction can be divided into logic distinction with reality base and logic distinction without reality base.
  3. FORMAL DISTINCTION is an illegible concept from the same thing that didn’t depend from the thought.
  4. VIRTUAL IMPLICIT DISTINCTION is formulated because God’s special characters that contains inside when it’s included in God’s creatures it will be up against each other, this distinctions only point to intern relations, didn’t say that that “inside God contain or can contain an opposites special character and unique character that only God have.
  5. CAPITAL DISTINCTION is when two thing are separated will cause one of those thing missing.

MAKING IMPORTANT DISTINCTION

One of the best way to over come confusion about ideas is to make important distinction; that is, to avoid lumping all considerations together indiscriminately. The following distinction is the most often overlooked.

Distinction between the person and the idea. When we want to see someone idea we have to free our mind from one side thinking. Don’t let our mind influence only by a person formed stereotyped. For example: our reaction to a sentence beginning “Adolf Hitler said…” would probably be different from our reaction when we read about a sentence that begin with “Winston Churchill said…” In the first sentence we might not even continue reading. At the very least we would read with great suspicion; you’d be ready to reject what was said. Those things happened because we are difficult to set them aside. In one sense, we shouldn’t set them aside. Yet in another sense, we must set them aside to be a good thinker.If we do not check we tendency to accept or reject ideas on the basis of who expresses them, we analysis of everything we read and hear is certain tube distorted. We will judge arguments on whether the speaker is of our race, religion, or political affiliation or whether we like his or her hairstyle. To guard against confusing the person and the idea, be aware of our reactions to people and try compensating for them. That is, listen very carefully to people you are inclined to like.

Distinctions between matters of taste and matters of judgment. Expressions of taste describe internal states and preferences. Expressions of judgment are assertions about the wisdom of a course of action. In matters of taste we may express our personal preferences without defending them. In matters of judgement, however, we have an obligation to provide evidence. Many people confuse taste and judgement. They believe their right to hold an opinion is a guarantee of the opinion’s rightness. This confusion often causes people to offer in adequate support for views that demand support. Keep in mind that whenever someone presents an opinion about the truth of an issue or the wisdom of an action –that is, whenever someone present an opinion about the truth of an issue or the wisdom in action, that is whenever someone present a judgment you not only have aright to judge his or her view by the evidence, you also have an obligation to do so.

Distinctions between fact and interpretation. A fact is something known with certainty, something either objectively verifiable or demonstrable. An interpretation is an explanation of meaning or significance. In much writing, facts and interpretations are intertwined. It is not always obvious where one leaves off and the other begins. The danger in failing to distinguish between fact and interpretation is that we will regard uncritically statement that ought tube questioned and contrasted with other views. If the habit of confusing the two is strong enough it can paralyse our critical sense.

Distinctions between literal and ironic statement. Literal means said according to real fact and to affirmative about something, but sometimes a writer makes a point by saying the exact opposite of what he or she meant using irony or satire. A writing using a tongue-in-cheek statement instead of a normal-plain direct statement can be more biting and therefore more effective. The alert to the subtlety in order to not misread are necessary. If you don’t, than the message you receive will be very different from the message that has been expressed. You interpretations about the message will be false and you will fail to respond to the message correctly.

Distinction between an idea’s validity and the quality of its expression. The way an idea is expressed can influence people’s reaction. Eloquent expression tends to excite a favourable response, just as lifeless, inarticulate, error-filled expression prompts a negative response. People tend to judge by the first thing or stuck in the most appealing object and later it will be use as a base in digesting the message. If you had high awareness about how expression can be deceive which mean to make special effort to separate form from its contents before judging than you can surely catch the meaning and content of a message.

Along time ago maybe we don’t need any sophisticated applications in our shoes. We only need shoes to protect our feet. But human will not called human if they are not try to innovate in order to fulfil their unsatisfied needs. For the shoes brand name such as Nike and Adidas who have already become the most well known shoes trademark. They always make an effort to win the international market by increasing the quality of their product; they compete to launch their most up-to-date product and enhance their industrial unit to take apart in almost every country. They also sponsored many sports events.

The Nike shoes is the popular one, it has unique characters that make it different from other products. Comes from the simple sentence “Just do it” have brought Nike not as simple as it’s looks. Only by see a simple symbols like this Nike has, we will directly recognize that was belongs to Nike brand. Nike itself has its improvement compared with the other brand because Nike is famous for its Air, so Nike has the courage to launch Air Jordan. From it’s colours Nike never afraid to innovate new colours that match with the teenagers style. Nike is the most productive shoes brand. Because Nike always tries to fulfil the teenagers needs. It can be seen from the product that has been released. They all cool, stylist, comfortable, look great in any feet, and make you fly.

Adidas brand has its own way to confront with Nike’s product. In promoting its product, Adidas used a fresh Basketball star “Kobe Bryant”, different from Nike that used an Old Legend Basketball star like Michael Jordan. The symbols that become Adidas trademark is a two line that divide a triangle. Adidas is popular for its football shoes and also capable in launching cross-training shoes because its persist in the clutch of its under sole. There are few words to describe Adidas, it is strong, interminable, old-fashioned, motionless, and inactive.From the example above we can see that there is a Real Distinction between Nike and Adidas.

The symbols that used by Nike and Adidas as a trademark, we can conclude that only by seeing those symbols we will directly recognise which brand it is. The reality that only by heard “Air”, we will immediately know that it is a Nike product, and only by heard “Torsion”, we will know that it is belong to Adidas.The Logic Distinction can be seen by my own explanation to the Nike’s product. For me Nike’s shoes are shoes that fixed with the youngsters needs, the form is stylish, fashionable, chic, and modish.

It will be different if we see Nike from the adult’s concepts of thinking. They give an interpretation to Nike as a too sophisticated shoe. Because the models are not as usual as shoes in common. The colour also doesn’t match to their style and age. That is why there is a logic distinction to the Nike concepts in everybody mind’s. Because And the Formal Distinction comes from the price of both products. The Nike’s price almost more that one million rupiahs in each item. But for Adidas the price comes from two hundred thousand until eight hundred thousand rupiahs. Because the formal distinction is point to attend between concept that had a certain condition about something identical and it doesn’t depend on mind.

The Difference, will come if we compared shoes with the sandals that is completely different. The shoes has its own functions for do exercise, for examples. This part of the case is point to the Virtual implicit distinction. The distinction of something that god have in which that is a special character that contain inside but when it exist in god creature it will be up against each other. As we know that “Man’s being is made of such strange stuff as to be partly a kind to nature and partly not, at once natural and extra natural, a kind of ontological centaur, half immersed in nature, half transcending it.” (Jose Ortega y Gasset). God had created human and animal, that some part of them have a similarity. Especially when we see from the biological desires. And the distinction between human and the animal can be identify from both of their basic differences such as ability to be aware of things and to think and reason, originating on the brain that only have by the human And the animal doesn’t have that.