16935896725_e145ba09ef_o

Rabu Abu Bintang Biru

Dan pagi ini saya tidak mendapatkan binar di matanya. Bahkan untuk membuka kelopaknya saja tampak dilakukannya dengan berat. Hanya kantung mata sisa kelelahan menari semalam. Iya seperti biasa akhir pekan adalah jadwalnya menghibur beberapa pengunjung di tempatnya biasa bekerja. Akhir pekan, tips yang lebih besar. Saya dapatkan beberapa ruas tulang punggungnya kian menonjol diantara daging dan kulit liatnya, ototnya yang biasa ia latih mengikis lelah dan kantuk.

Binarnya hanya terpancar pada malam hari, malam dimana tak ada lagi bintang tertangkap di langit metropolitan, tertutup kabut asap sisa dingin hujan dan polusi cahaya dari gedung-gedung dan lampu kendaraan. Bintangnya redup di tengah kota dan hanya menyalak lajang diantara lampu-lampu sorot panggung berwarna ungu, kuning, hijau. Saya hanya kenal satu binar yang tak biasa, binar cahaya matanya yang tajam dan sepi, berlari bersama ritme pupil yang membesar dan mengecil hitam temaram seiring dengan hentakan musik dalam tempo menderu, menderu rindu.

Saya tarik selimutnya membiarkannya kembali tertidur lagi menyelesaikan lelahnya, hanya mimpi yang bisa ia mengerti dan hanya mimpi yang bisa membangunkannya lagi hari ini.

Share this: