Sangaji Saka

I Just Want to Make Love to You

Raga cinta bau buku-buku tua. Lembab menjamur bercampur debu kecoklat-coklatan. Hampir setiap hari Raga menghabiskan waktunya di situ, sebuah perpustakaan kecil di sudut kota Bandung. Ruang berukuran 6×4 bertumpuk buku-buku dari segala usia dengan berbagi warna. Di keranjang bawah nya ada buku cerita Asterix, Tintin dan beberapa komik Jepang berserakan. Tumben sepi, hanya suara alunan intro musik Blues kental dengan beat trombone memenuhi seantero ruangan. Raga mengenali teriakan berat berkarakter soul tahun 50an milik penyanyi perempuan itu.
I….
Just…
Want….
to Make….
Love to You….
Etta James dengan I Just Want to Make Love to You. Siang ini Raga mendengarnya sebagai sebuah teriakan feminisme dalam tubuh perempuan yang merasa berkuasa atas dirinya sendiri. Wujud erangan kebebasan yang haus akan sebuah persetubuhan. Lagipula, pada masa itu nyaris semua perempuan menjadi feminis. Beberapa diantara pemikiran mereka berpendapat bahwa perempuan berhak memutuskan apa yang terjadi pada tubuh mereka, mereka memiliki anak atau tidak tergantung pada diri mereka semata. Lelaki tak lain hanyalah kebutuhan biologis, dan lelaki hanya alat pemuas nafsu perempuan.
Yah memang kemampuan perempuan untuk menghasilkan kehidupan dapat memberikan kita semacam perasaan berkuasa. Kematian, kegelapan, dan kesulitan pun lenyap, kita akan menghadirkan bagian lain dari diri kita di dunia, dan keajaiban ini melenyapkan segala sesuatu yang lain.
I….
Just…
Want….
to Make….
Love to You….
Hah, ada yang aneh. Kali ini bukan suara itu datang bukan milik Etta James. Tapi suara lelaki yang berteriak ngga karuan dari balik meja administrasi, dimana mereka biasa mendata buku yang dipinjam. Raga langsung menutup buku Second Sex milik Simone de Beuvoir yang sedari tadi dia baca. Dimasukkannya dengan cepat ke celah kosong diantara rak berlabel Vagina Monologue. Sang pemilik suara sumbang muncul dari kolong meja bersama dua tumpuk buku yang ia pindahkan dari bawah. Laki-laki berkacamata, dengan rambut ikal setengah panjang menutupi dahinya.
Mengenali sang pemilik wajah Raga pun berteriak. “Sakaaa!!! Elo gangguin waktu meditasi gw dahh!!!”, teriak Raga ke arah laki-laki itu. Si pemilik suarapun akhirnya memutuskan bersiul-siul mengikuti irama lagu. “Ga udah makan belum? Temenin gw makan yuk, si Bibi bikin sayur sop tuh” Raga melalui lelaki itu tanpa berkata-kata menuju pintu dibelakang meja administrasi, pergi meninggalkan si lelaki yang mencuri pandangan pada langkah Raga.

 

Cireng Kita

“Eh Ka, denger ye! Emang lo kira dunia selebar kolor lo apa?? Lo kira Gading bakalan mau balik ama elo karena elo dah mergokin dia selingkuh sama Joni dan dia nangis-nangis minta maaf sama elo karena ketauan??”
“Hellow?!? bull shit deh itu semua. Nih taruhan sama gw, dia bakalan minta putus sama elo dan jalan sama si Joni.” Saka melipat wajahnya diatas meja kantin, mengatuk-ngatukan dahi berkerutnya pelan. Berhenti sesaat lalu lanjut mengatuk-ngatuk lagi, diam.

“Masak sih Ga, dia setega itu? Gw kira hubungan gw dah bae-bae aja.”
Raga meletakan kepalanya diatas meja berhadapan dengan Saka, mencari-cari matanya, berharap mendapatkan bola mata besar teduh yang selalu bisa menenangkan setiap orang yang menatapnya.

“Ka dengerin gw deh, kalo elo berfikir selama ini hubungan elo bae-bae aja. Itu berarti elo sedang menggali liang kubur lo sendiri. Hubungan sehat itu ngga lepas dari masalah dan penyelesaian. Lah elo ama Gading dah kaya kebo dicocok idung.”

Melengos kacau ngga tega Raga bangkit dari tempat duduknya beranjak dua langkah kebelakang mencomot cireng hangat yang baru saja diangkat Mang Oding dari wajan penuh minyak jelantahnya. Sial, masih panas! Maki Raga dalam hati. Ia tarik kertas robekan majalah sebagai tadah, Mang Oding senyum-seyum melihat Raga kelojotan.

“Nih cireng panas!”

Raga menyodorkan kantong kertas berisi dua buah cireng basah berminyak di samping wajah Saka. Dalam reaksi sepersekian detik Saka memasukan gigitan pertama cireng panas mengembang alot ke dalam mulutnya disusul satu buah cengek hijau muda utuh. Raga pun menganga layaknya anak SD melihat atraksi debus untuk pertama kali. Saka memang penggemar cireng sejati, tapi cengek? Jangankan cengek, saos tomat ABC susah cukup membuatnya mampir ke Eureka numpang boker berkali-kali. Ditambah kali ini Saka tampak maju tak gentar merasakan panasnya cireng yang mengepul disetiap gigitannya.

“Gaaa!! Ambilin gw combro dong! Gw laper nih!”

Sambil mengunyah dengan mulut penuh Saka menyuruh Raga kembali ke Mang Oding. Raga pun berdiri beranjak mengambil dua buah combro dari keranjang gorengan Mang Oding, kali Raga memastikan diri untuk mengambil combro yang sudah tidak panas. Hanya untuk memastikan Saka tidak terus melukai bibir dan lidahnya. Sudah cukup hatinya saja yang terluka.

 

Sayur Aroma Raga Basi

“Ga.. gaa.. gaaa!!!” Saka menepuk nepuk pipi Raga panik. Berharap mulut Raga tidak mengeluarkan bus-busa putih macam over dosis.

“Apaaaa sihhhhh!!! sakitt tauu!!” teriak Raga balas ngamuk sambil melempar botol Heineken ke arah Saka.

“Anjing! bego lo ye! Gw kirain lo mati! Lah itu ngapain terlentang di ubin pake melotot ngga kedip-kedip?” mahluk hidup mana coba yang bisa melotot segitu lama. Saka ngedumel sambil membawa keluar gayung ditangannya kembali kekamar mandi.

“Ngapain loh bawa-bawa gayung? Mo numpang boker lagi?”.

“Kagak nyet! Gw tadi mo nyiram lo kali-kali aja lo bisa sadar.” Dasar Saka bodoh, kalo ngga numpang boker gara-gara dia lagi mencret pasti cuman mampir mo minta minum. Saka pun berhenti didepan pintu kamar, mematung dengan tampang melongo mengitari pandangan sekitar kamar.

“Ga..ga.. elo cewek apa anak babi sih? Ini kamar lo kenapa jadi kaya tempat sampah gini??”

“Udah deh, lagi kepencet tombol shuflle nya nih, kalo ngga bisa bantuin ngatur perasaan gw mendingan lo beliin gw cimol bumbu kacang di depan gerbang sono!” Saka memang manusia terbolot yang yang paling seksi, karena bagi dia semua kata-kata manusia selalu terdengar indah di otaknya. Nada sebalku pun tak digubrisnya, kadang aku berfikir apa mungkin rambut gondrong ikal yang jatuh di samping telinganya itu berfungsi sebagai filter.

“Eh tapi keren tuh gambar kaktus di tembok samping lemari. Lo gambar pake crayon yak?” Saka mengambil ancang-ancang ala Pak Tino Sidin mengomentari buku gambar anak-anak di TVRI.

“Itu gambar perempuan bodoh!!!! Dan itu ngga pake crayon, tapi pake lipstik” komentar Raga kecut.

“Uh Ga, koq gw nyium bau-bau sayur basi?” Saka bodoh mengendus-ngendus seisi kamar mencari sumber petaka yang sepertinya akan menghilangkan nafsu makan siangnya.

“Apaaa sihhh?? Gw ngga nyium apa-apa” Teriak Raga kesal. Saka tetap penasaran meyusuri seisi kamar dengan hidungnya. Raga terkikik kecil, menahan tawa dalam hati. Dibayangannya Saka seperti anjing Hus Puppies. Saka mendekati Raga dengan hidung nyengir-nyengir tikus, mendadak berhenti dan melotot. “Gaaaaa, bauuu looo kayak sayur basi!! Lo dah berapa hari ngga mandi??”

“Saaakkkaaaaa, ihhhhhhh rese deeh. Iaa iaa gw dah ngga mandi 3 hari, So what?? “Kagak ada yang mo nyium gw ini, bahkan cowok yang biasa nemenin gw tidur aja udah ninggalin gw”. Saka menatap kaku tak bersuara, mulutnya terkatup rapat tak mau komentar atau pun memberikan reaksi apa-apa. Seperti Saka yang biasa, dia malah ikut berbaring melantai disamping Raga. Raga membalikkan badannya yang tersegal-segal menahan tangis di balik bantal.

Dunia mendadak senyap seperti kedalaman lima meter di bawah permukaan laut, kedap suara dalam duapuluh detik.

“Langit-langit kamar lo keren Ga, pantesan aja lo betah melotot selama itu!” Raga melirik ke wajah Saka, mencoba menangkap maksud kata-katanya. Dia hanya tersenyum memandangi sticker-sticker hologram bintang, bulan dan planet-planet yang tertempel dilangit kamar Raga. Raga memandangi wajah Saka dari samping, bantalnya basah,

tujuh puluh lima detik…

Share this: