Selera Bangsa Terjajah

Sudah lama saya tidak menulis, tidak juga membaca. Saya pun buta, kata orang buta mendadak itu biasanya karena cinta, yah untuk hal yang satu itu mungkin sudah menjadi cerita biasa dari jaman ken arok dan ken dedes. Tapi saya ingin menulis lagi, bukan karena saya buta mendadak tapi karena saya baru saja kriyep-kriyep mengerjapkan mata melek melihat sisi dunia yang lain. Suatu ketika saya pernah menulis tentang monopoli visual dan selera bangsa terjajah,yang isinya curhatan ringan tentang konstruksi fisik wanita di era modern.

Tadi sore saya terduduk kulai di kursi tunggu stasiun clayton, berdiskusi kecil dengan teman sekamar saya tentang krisis kepercayaan diri wanita Indonesia sebagai perwakilan dari kaum wanita dunia ketiga atau bisa dibilang negara berkembang di ranah belantara budaya barat. Berhubung kami berdua tinggal di Australia jadi diskusi di persempit seputar pandangan kami tentang apa yang ada di kepala wanita seperti kami ketika berfikir untuk membuka hubungan dengan pria “bule”.

Teman saya ini memulai percakapan dengan melontarkan pernyataan bahwa dirinya merasa tersanjung setelah sahabat karibnya yang mahasiswa asing (catatan asing disini bukan india, bukan asia, dan bukan afrika-koq saya jadi terdengar rasis ya) menyatakan perasaannya pada teman saya ini. Kalau untuk istilah remaja Jakarta “nembak” lah. Lalu saya cerita tentang krisis percaya diri yang saya alami ketika mencoba membuka hubungan dengan pria-pria ber”ras” caucasian. Ada perasaan minder karena bagi saya mereka semua terlihat keren dan tampan. Kondisi tersebut bisa jadi dilatarbelakangi oleh pengalaman saya yang belum belum pernah pergi atau tinggal di luar negeri sebelumnya (ini tentu tidak menjadi masalah bagi teman diskusi saya yang SMP dan SMA nya dia habiskan di Sydney).

Rasa ketidak PD-an ini kemudian berkembang pada anggapan dalam diri saya bahwa sosok pria-pria bule tersebut adalah artis-artis idola yang dulu hanya bisa saya nikmati melalui layar TV dan layar lebar. Lucunya, ketika saya mulai menginjakan kaki di tanah jajahan Inggris ini, konstruksi pikiran saya pun memberikan sinyal bahwa sekelompok anak muda yang berdiri di pojokan stasiun adalah anggota band Blink 182, lalu cowok-cowok berkaos singlet, dengan celana pendek putih yang ngobrol di kereta tadi adalah Backstreet Boys, atau laki-laki yang terduduk di pojok kereta dengan stelan necis, earphone terpasang adalah sosok Ricky Martin.

Parahnya lagi, ketika saya mulai dapet kenalan online via myspace yang berlanjut lewat chatting-chatting YM, dan mereka mulai mengajak untuk kopdar (kopi darat) saya pun jadi takut setengah mati. Bukannya apa-apa, saya masih ngga tau bagaimana menghadapi dominasi persepsi “laki-laki bule=keren banget=seleb” di benak saya. Sayapun jadi mengalami keterpisahan budaya atau istilah kerennya:culture lag. Bener-bener ngelag, seperti laptop saya yang baru saja terserang spyware.

Share this: