Social Entrepreneur, Challenge for UI Students

“In one foot business, we lift up our foot, open our hands facing up, then we get money. That is beggar. In two-feet business we walk, seek goods, and sell them. In six-feet business, we sell bakso (meatball) using mobile pushcart through kampongs. But, we are in hundreds-feet business. That is social entrepreneurship.” They are inspiring words uttered by Johnny W. Utama, the President Director of Dian Niaga, in the student center hall of University of Indonesia’s Faculty of Economy on Monday March 18, 2013.

His explanation of the hundred-feet business is illustrated by Johnny into a model of social entrepreneurship business which consists of three main components, namely people, planet, profit. These three major components here should be in a balanced intersection with regard to bearable, equitable, and viable elements so as to meet the sustainability objective.

Johnny wants to inspire entrepreneurship spirits among young people. This activity is intended to provide earlier social and environmental insight to the students. They are expectedly to become actors in environmental entrepreneurship. The program here is deemed way for students to have understanding on social-environmental entrepreneurship noting that environmental knowledge will serve as the basis of community economy activities.

Aulia Wijiasih representing the REDD+ Task Force expected that the students could be more creative to manage local products from forest. “The economic business here will help much conserve environment in Indonesia in the future if it is comprehended from now on,” said Aulia, the Green Education Specialist of REDD+ Task Force.

The keynote speakers’ presentation here has drawn the attendants’ curiosity. For example, Syaphira, the student of Economic Faculty, claimed to be interested in the presentation of development process in one of the projects, ‘Crafts Kalimantan’, presented by Jusupta Tarigan from Non Timber Forest Products-Exchange Programme (NTFP-EP) Indonesia. In this project, Jusupta claimed to be able turn traditional products magically into a noted branded product, ‘Borneo Chic’ with hundreds times more expensive than the buy price. However, Jusupta keeps on empowering the craftsman community so as to benefit their livelihood.

The resource persons delivered their inspiring stories during the talk show and film show entitling “Spirit for Developing Social-environmental Entrepreneurship through Nontimber Forest Product Management”. REDD+ Task Force held the program in cooperation with the FE-UI Students Executive Body.

The program was commenced with documentary film show entitling “Nontimber Forest Product, the Assets of Indonesian Economy” directed by Nanang Sujana lasts for 30 minutes. Some 40 students flocked the hall and studied brief illustration on nontimber forest product and economic potentials that have never been counted by business persons in Indonesia. The resource persons shared their experiences in the talk show and discussion here on how to apply creativity in their entrepreneurship. They also shared business development tips so as to boost up their products sales value with far higher pricing in the local and international markets.

Jusupta concluded his presentation and discussion with a challenge addressed to the students. He called the participants to create joint petition to be proposed to their Rector. The petition demands the Rector to change the existing chairs in the campus with Eco labeled-products as the spirit for building local economy.***

“Bisnis satu kaki itu, kita angkat kaki, menengadahkan tangan, lalu dapat duit. Itu pengemis. Bisnis dua kaki itu kita jalan, cari barang, terus kita jual. Bisnis enam kaki, kita jual bakso bawa gerobak berkeliling kampung. Kalau kita ini bisnis ratusan kaki. Itulah social entrepreneur.” Itulah kalimat inspiratif yang pertama kali dilontarkan oleh Johnny W. Utama, Presiden Direktur Dian Niaga, di Aula Student Center Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI), Senin, 18 Maret 3013 yang lalu.

Penjelasan mengenai bisnis ratusan kakinya itu kemudian digambarkan Jhonny dalam sebuah model bisnis wirausaha sosial yang terdiri dari tiga komponen utama, yaitu people (manusia), planet, profit (keuntungan). Ketiga komponen utama tersebut harus saling berada pada irisan yang seimbang dengan memperhatikan unsur-unsur seperti bearable, equitable, dan viable agar tujuan sustainability (keberlangsungan) dapat tercapai.

Johnny ingin menggugah semangat kewirausahaan di kalangan kaum muda. Kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan wawasan sosial dan lingkungan sejak dini ke benak para mahasiswa. Merekalah yang diharapkan menjadi calon pelaku dunia kewirausahaan di bidang lingkungan. Acara ini menjadi wahana pembuka wawasan agar mahasiswa memahami social-environmental entrepreneurship, dimana wawasan lingkungan dijadikan sebagai landasan kegiatan perekonomian masyarakat.

Aulia Wijiasih sebagai perwakilan dari Satgas REDD+ mengharapkan agar para mahasiswa dapat lebih kreatif dalam mengelola produk-produk lokal yang berasal dari hutan. “Usaha ekonomi tersebut apabila bisa ditumbuhkan dari sekarang akan sangat membantu upaya konservasi lingkungan Indonesia di masa depan,” kata Aulia, Green Education Specialist Satgas REDD+.

Paparan dari presentasi para pembicara tersebut menarik keingintahuan para mahasiswa yang hadir. Misalnya saja Syaphira. Mahasiswi Fakultas Ekonomi ini tertarik pada paparan tentang proses pengembangan salah satu proyek ‘Crafts Kalimantan’ yang disampaikan Jusupta Tarigan dari Non-Timber Forest Product Exchange Program. Dalam proyeknya ini, Jusupta mengklaim bisa menyulap produk tradisional menjadi sebuah merek kelas atas berlabel “Borneo Chic” dengan harga jual produk bernilai ratusan kali lipat harga belinya. Sekalipun demikian, Jusupta tetap ingin memberdayakan masyarakat perajin agar terangkat harkat hidupnya.

Para narasumber itu menyampaikan kisah inspiratif mereka dalam acara talkshow dan pemutaran film bertemakan “Semangat Mengembangkan ‘Social-environmental Entrepreneurship’ Melalui Pengelolaan Produk Hutan Bukan Kayu”. Acara ini terwujud berkat kerjasama Satuan Tugas Persiapan Kelembagaan (Satgas) REDD+ dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FE UI.

Diawali dengan pemutaran film dokumenter “Produk Hutan Bukan Kayu, Aset Ekonomi Indonesia”berdurasi 30 menit garapan sutradara Nanang Sujana, acara yang dihadiri oleh sekitar 40 mahasiswa tersebut berhasil memberikan gambaran singkat kepada para mahasiswa mengenai produk hutan bukan kayu dan potensi ekonomi yang masih belum diperhitungkan oleh para pelaku bisnis ekonomi di Indonesia. Acara bincang-bincang dan diskusi ini menjadi ajang untuk saling berbagi pengalaman para narasumber tentang bagaimana menerapkan unsur kreatifitas dalam kewirausahaan. Para narasumber itu juga berbagi kiat pengembangan bisnis sehinggga dapat mendongkrak nilai jual produk-produk mereka hingga bernilai jauh lebih tinggi di pasar lokal hingga internasional.

Jusupta memungkasi acara dikusi dan tanya jawab ini dengan sebuah tantangan. Ia mengajak para mahasiswa yang hadir agar membuat sebuah petisi bersama yang diajukan kepada Rektor mereka, untuk mengganti kursi-kursi yang ada di kampus tersebut dengan produk ber-ecolabel sebagai semangat untuk membangun ekonomi lokal.***

Share this: