Turbulansi Ekosistem Bangsa

Melbourne to Changi 13 Juli 2009
Saya berangkat dari Melbourne dengan maskapai Singapore Airlines yang direncanakan akan transit di bandara Changi pukul 16.20, pindah ke gate E24 untuk ganti penerbangan SQ 966 menuju Jakarta. Saya begitu senang gembira gegap gempita apalagi sejak duduk di mobil yang mengantar saya ke bandara dipenuhi dengan tembang-tembang pop Indonesia. Saya pulang! Senyum sayapun tersungging gugup bersama lagu Love Vigilantes milik New Order yang liriknya saya anggap mewakili perasaan saya,

“I want to see my family, my wife and child waiting for me. I want to go home I’ve been so alone you see…”. Seperti serdadu yang baru dikirim pulang dari medan perang, dengan semangat empat lima saya menatap keluar jendela pesawat, tak sabar untuk segera menengok bangsaku Indonesia. “Oh I flew through the sky my convictions could not lie, for my country I would die and I will see it soon…”

Flight SQ 966
“Permisi mba, saya duduk di A”. Sambil menunjuk tempat duduk yang masih kosong di dekat jendela. Entah, terdengar atau hanya menebak dari bahasa tubuh saya kedua orang perempuan yang sangat saya yakin berkebangsaan Indonesia itupun beringsut sedikit menggeser kakinya. Keduanya berambut panjang sepinggang. Mereka sepertinya tidak saling mengenal satu sama lain, karena semenjak pesawat tinggal landas tidak saya dengar satu diantara mereka yang membuka percakapan. Perempuan yang duduk di kursi ujung dekat gang pesawat mengenakan kacamata dengan ukiran berwarna emas di pinggiran framenya, saya tidak memperhatikan huruf yang tertera di sampingnya apakah itu G besar, LV besar, atau D&G besar. Sedangkan perempuan satunya yang duduk ditengah, pas disamping saya mengenakan jaket jeans berwarna biru tua. Asumsi sementara dengan penguatan hipotesa 70% dibenak saya menyimpulkan bahwa mereka berdua adalah TKW Indonesia.

Pesawat tinggal landas dari Changi, dan sejam kemudian kami menyantap makan malam jatah pesawat dengan cepat. Setelah cukup kenyang, saya pun menegur perempuan disamping saya dengan sok akrab. “Orang Indonesia ya mba?” Si perempuan sedikit terkejut tapi lantas tersenyum gugup malu-malu sambil menjawab “Iya”. Saya pun melanjutkan percakapan “Kerja di Singapur mau pulang ke Jakarta ya mba?”

“Ngga itu tadi saya transit di Singapur, pesawat saya tadi dari Kuwait” Bahasanya begitu kental dengan logat Jawa Barat, tapi saya masih belum bisa menebak lebih spesifik daerah mana. Setelah melontarkan beberapa pertanyaan untuk mencairkan percakapan akhirnya mbak disamping saya itu mulai lancar bercerita tanpa malu-malu dengan volume suara medium tentang perjalanannya. Saya baru sadar ternyata dia tadi begitu tegang dan malu-malu sebelum saya tegur terlebih dahulu, karena setelah percakapan kami terus mengalir dia begitu bersemangat bercerita tentang kehidupannya dengan lebih terbuka dan berani. Lucunya saya sering menangkap si Mbak satunya lagi menengok curi pandang kearah kami, entah karena dia merasa terganggu oleh suara si mba yang sedang bercerita dengan vulgar tentang kehidupannya dan memberikan sinyal tak terucap “pssstt pelan-pelan kamu teh yang kaya gituan jangan diceritain sama orang-orang atuh”, atau dia malah penasaran mau ikut kita nimbrung percakapan kita yang semakin terdengar seru karena si Mbak terus cerita tentang pengalaman pribadinya.

Dari cerita Mbak tersebut saya tau bahwa dia bekerja di Kuwait selama 3 bulan dan sekarang kontraknya selesai, kali ini dia pulang untuk liburan. Dia sebelumnya pernah bekerja di Saudi sebelum ke Kuwait menjadi TKW selama 4 tahun, dikirim kesana sini oleh agennya. Bekerja berpindah-pindah dari satu tuan rumah ke tuan rumah yang lain. Si Mbak dengan gamblang juga bercerita tentang bagaimana tingkah laku laki-laki Arab Saudi yang genit-genit.

“Wah, laki Saudi mah ngga bisa ngeliat perempuan sedikit weh, matanya tuh kaya mau nerkam”
“Saya pernah punya majikan orang Saudi ngejar-ngejar mau ngawinin saya, padahal dia udah punya istri. Masak malem-malem ngetok-ngetok kamar saya jam 2 malem mau minta celana”.
“Saya tuh sampe ngancem awas loh ya saya bilangin majikan perempuan, tapi dia malah nantangin, katanya bilang aja saya ngga takut ayoo bilangin aja”.

Sayapun tersenyum menghadapi kepolosan si mbak yang begitu percaya mau membagi ceritanya ke saya, orang asing yang baru saja di kenalnya di pesawat. Dalam ceritanya yang panjang digambarkan bahwa anaknya sekarang sedang kuliah kedokteran di Trisakti. Satu titik yang sangat membuat saya terkejut bukan kepalang membayangkan berapa biaya yang harus dihabiskan oleh si Mbak ini untuk mendaftarkan anaknya di salah satu universitas swasta Jakarta yang terkenal prestige dan mahalnya bukan main itu. Apalagi ketika si Mba jelas-jelas menyebutkan jurusan kedokteran. Saya bisa sangat membayangkan angka belasan atau mungkin puluhan juta di kepala saya. Si Mbak pun bercerita tentang anaknya yang juara kelas, pintar mengaji hingga mendapat banyak panggilan, dibayar untuk mengisi acara yasinan orang-orang meninggal. Dia juga bercerita bahwa anaknya itu pintar melukis, dan pernah mendapatkan uang dari lukisannya itu karena ada orang lain yang menawar untuk membeli.

“Ngga pa-pa saya teh cuman lulusan SD tapi yang penting anak saya bisa sekolah tinggi. Sebetulnya saya teh dulu pengen nerusin sekolah, cuman ibu tiri saya ngga ngebolehin. Dia bilang ngapain sih anak perempuan musti sekolah tinggi-tinggi. Terus abis itu saya dikawinin sama orang, saya padahal ngga mau saya ngga suka. Abis kawin paksa saya ngga betah trus saya kabur. Saya sempet kerja di PT. Golden di Tangerang, terus pindah ke pabrik di Tangerang juga. Dan akhirnya saya ketemu sama suami saya sekarang ini.” Seperti diceritakan sebelumnya, suaminya adalah pedagang ikan cuek yang biasa mengangkut dagangannya antara Plered dan Krawang. Sedangkan anaknya sekarang mengekost di daerah sekitar kampusnya.

“Sebetulnya saya teh udah capek bener kerja, cuman bagaimanah saya masih harus biayain anak saya sekolah. Nanti kalo dia udah sekolah dan udah selese trus dapet kerja baru gentian dia ajah yang ngurusin saya”. Saya hanya bisa tersenyum bangga dan berkata “Yah mba ngga apa-apa, demi sekolah mbak yang sabar yah, kan ini demi masa depan yang lebih baik. Mbak harus tetep semangat.” Tak lama kemudian pengumuman mengatakan bahwa kami harus kembali ke tempat duduk masing-masing dan mengencangkan sabuk pengaman kami karena pesawat sebentar lagi akan mendarat di Jakarta. Sayapun mengulurkan tangan, sambil menanyakan namanya. “Jumanah”

Kami berpisah sambil mendoakan selamat satu sama lain, di loket pemeriksaan passport keluar saya mengantri bersama beberapa TKW lain di depan saya, sambil mengantri saya memandangi sign board neon besar terpampang di sebelah kanan antrian custom check, tulisan hijau besar “Selamat Datang Pahlawan Devisa”, saya tersenyum lagi kali ini di dalam hati, aku tiba di Ibukota.

Juli ketujuhbelas tahun dua ribu sembilan masehi
Saya baru saja selesai membakar keringat berolah raga, berusaha mendinginkan diri dibawah kipas angin semilir-semilir ketika saya nyalakan televisi yang menyiarkan laporan langsung menggebu-gebu tentang terjadinya ledakan bom di J.W. Marriot. Yah, laggiii?!? Kutuk saya dalam hati. Saya tidak akan menceritakan kronologis kejadian bom tersebut, karena saya yakin media massa pasti sudah mengeksploitir, mempolitisisasi, berbagai macam informasi dalam berbagai macam versi kepada anda, khalayak umum. Suatu peristiwa yang pastinya tidak diharapkan oleh semua orang, tapi pada kenyataannya telah terjadi dan menimbulkan luka lahir maupun batin.

Suatu aksi terror yang sangat cantik dimainkan oleh pihak yang sampai saat tulisan ini dibuat belum terungkap kepastian pelakunya. Siang menjelang sore, presiden RI terpilih memberikan pernyataan didepan pers mengenai adanya terror lain yang merencanakan penembakan atas dirinya apabila ia terpilih kembali menjadi presiden. Pernyataan tersebut dibuat berdasarkan hasil penyelidikan BIN, sambil menunjukkan gambar dirinya yang dijadikan target tembakan di depan media untuk dikonsumsi secara umum. Teori konspirasi lain bermain lagi dalam situasi seperti ini, dari JFK hingga SBY. Berapa banyak lagi inisial yang akan muncul di benak khalayak? Jamaah Islamiah (JI), Noordin (M) Top, Manchester United (MU), JW Marriot. Ini pesta demokrasi atau kembang api? Saya suka kejutan, bahkan saya cenderung berkata “surprise me!”, tapi terror? Apa kurang cukup terror kemiskinan, terror konsumerisme, terror degradasi nilai.

Saya pun terduduk lemas membenci mengutuk dan mencaci maki dalam hati. Mau dijejali apalagi manusia-manusia bangsaku kelak? Setelah seperkian hari saya lalui wajah-wajah manusia yang sering saya coba raih jalan pikirannya, tercecer di pinggir jalan ibukota. Ada wajah kosong terduduk di bawah pohon menunggu orang menghampirinya dan berkata, “Bu teh botolnya satu!”. Ada wajah histeris tak berdaya merengek, ketika rumah mereka di kolong jembatan di rubuhkan paksa oleh petugas kambtib. Ada wajah melotot berteriak ngotot, “Kurang nih, sekarang tarifnya naek jadi jauh deket dua rebu”. Ada teriakan tawa canda dua pasang muda mudi berboncengan tanpa helm saling berlomba menarik gas motor baru milik orang tua mereka yang belum lunas kreditnya. Bagi mereka, ledakan bom tidak lebih meneror jika dibandingkan dengan bunyi keroncongan perut mereka yang hanya terisi nasi bungkus tahu tempe seharga lima ribu rupiah, karena penghasilan 20 ribu sehari mereka harus bisa memberi makan 4 kepala.

Ada saya yang akhirnya memutuskan untuk segera mengenakan sneakers saya dan berlari, berlari sekuat-kuatnya, melompati selokan-selokan besar berbau amis, menghindari kendaraan-kendaraan serakah yang tak mau kalah oleh kemacetan yang mengambil trotoar. Menerobos asap kenalpot, bunyi-bunyi mesin kendaraan, tali dan tiang-tiang pancang warung kaki lima, dalam dentuman double pedal Agony Scene, Paint It Black…

Share this: