What Makes You Addicted to Traveling

China Town, Singapore 25 April 2012

What makes you addicted to traveling? Pertanyaan yang selalu ingin saya sampaikan pada teman saya, yang baru saja pulang dari Bali Jumat kemarin setelah seminggu sebelumnya diving di Krabi dan minggu depan akan berada di Dubai. Traveling membuat nya bisa menjadi diri nya sendiri, ujarnya. Jadi apakah selama ini ia merasa tidak hidup sebagai dirinya sendiri? “Bukan begitu”, lanjutnya mencoba menjelaskan lebih jauh. “Rutinitas hidup di Jakarta membuat kita jadi tidak bebas mengekspresikan diri kita. Karena dalam lingkup pekerjaan maupun lingkungan keluarga ada ekspektasi-ekspektasi tertentu yang harus dipenuhi. Lagipula travelling amat sangat membantu kita untuk keluar dari kebosanan, menemukan hal-hal baru, berkenalan dengan banyak orang, dan melihat pemandangan yang berbeda, mencoba mencari pengalaman yang baru setiap saatnya”.

“Jadi sering traveling sendiri?”  Merespon jawabannya mengenai kebebasan dari  ikatan kerja serta keluarga saya penasaran mencoba melakukan konfirmasi. “Ngga juga, minimal berdua, atau bertiga, kalo jalan ke Singapore sering sendiri buat belanja terutama celana, karena disini lebih murah” jawabnya lebih jauh. Baginya traveling merupakan suatu usaha untuk mencapai suatu kesadaran akan besarnya dunia dan semakin kecilnya diri kita di hadapan tuhan. “Orang yang sering traveling biasanya akan semakin merunduk.” ujarnya. Sayapun menambahkan dengan sebuah analogi “Mungkin seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk” di setujuinya dengan anggukan dan tiupan panas pada sesendok frog porridge yang meletup dari claypot.

Hidangan selanjutnya, senampan “Assam Fish” hohoho. Saya sedikit terperanjat tidak menyangka bahwa porsinya akan sebesar itu. Ikan berkuah kuning yang seru, dengan siraman sayuran berisi potongan eggplant, lady finger, long bean. Rasa asam manis alami dari potongan nanas dan tomat, mempercantik warna kuah kuning bertabur chilli paste, seperti kuah-kuah di restaurant padang, hanya saja rasanya segar dan harum, dengan irisan daun jeruk yang memperkuat aroma, sangat bernuansa chinese malay, mengingatkan saya akan masakan uncle di restaurant tempat saya bekerja dulu.

Makan malam di sekitar Chinatown memang membutuhkan keterampilan menggunakan bahasa Inggris sederhana dengan bahasa tarzan, karena tidak semua pelayannya mengerti bahasa Inggris.Kami pun perlu melakukan konfirmasi berkali-kali mengenai pesanan kami, atau paling mudah dengan menunjuk makanan yang kita pesan langsung di menu yang tertera. Jangan lupa untuk membawa ekstra tissue basah dan tisu kering, atau paling tidak bisa dibeli dari pedagang tissue yang menghampiri anda ketika makan. Bentuk bisnis yang sangat cerdas, restaurant sengaja tidak menyediakan tissue agar memberikan kesempatan untuk lapangan pekerjaan lain tetap berjalan, yaitu penjual tissue ketengan.

Kami tinggal di hotel 1929, di sudut Keong Saik Road, hanya sekitar 5 menit berjalan kaki ke stasiun MRT stop Chinatown. Hotel kecil dengan jendela yang bagus, kebetulan saya mendapatkan kamar di sudut yang menjadikan kamar mandi saya terlihat lebih luas dengan warna putih mendominasi, bersih. Dari luar bangunannya masih mempertahankan konsistensi bangunan victoria, menyesuiakan dengan konservasi bangunan China Town sekitarnya, sisa imperialisme Inggris. Untuk akomodasi saya serahkan pada teman saya untuk memilih, karena saya tau dia orang yang sangat selektif untuk urusan tempat menginap. Tidak dalam hal harga, tapi dalam hal kebersihan dan pelayanan. Kalo untuk saya sendiri, saya bisa tidur dimana saja, di stasiun kereta api, di masjid, selama bisa menyenderkan badan saya, yah power nap pun sudah cukup.

Teman saya ini tipe “pencari pengalaman” baginya perlu untuk mencicipi semua bentuk pengalaman traveling. Biasanya kalo traveling, minimal dalam salah satu malam ia akan memilih untuk menginap di sebuah boutique hotel, atau boutique villa yang eksotik, katanya untuk hanya sekedar memiliki pengalaman merasakan perbedaan dari tiap bentuk akomodasi dan membuat level perbandingan yang eksperimentatif, to be honest he can be a good travel reviewer dengan segala pengalaman dan kemampuannya untuk membedakan mana yang poor, bad, average, good, very good, extremely good, sedangkan saya hanya mengenal 2 kata ditengahnya; good and very good, sebuah bekal untuk saya agar dapat menikmati setiap momen dan pengalaman dalam perjalanan-perjalanan saya. Karena bagi saya, less expecting means more experiencing, semangat untuk memulai semua perjalanan dengan kepala kosong dan siap mengisinya dengan segala kenangan, kejutan, dan senyuman.

Share this: